{"id":8321,"date":"2025-01-10T13:07:57","date_gmt":"2025-01-10T06:07:57","guid":{"rendered":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/?p=8321"},"modified":"2025-01-10T13:08:31","modified_gmt":"2025-01-10T06:08:31","slug":"dilema-moral-mengenai-penggunaan-teknologi-deepfake-di-industri-film","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/dilema-moral-mengenai-penggunaan-teknologi-deepfake-di-industri-film\/","title":{"rendered":"Dilema Moral Mengenai Penggunaan Teknologi Deepfake Di Industri Film"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: Jeremy El Joshua Kawibawa<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-8322\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film.png\" alt=\"\" width=\"602\" height=\"400\" srcset=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film.png 602w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-300x199.png 300w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-400x266.png 400w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-250x166.png 250w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-200x133.png 200w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-100x66.png 100w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-75x50.png 75w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-50x33.png 50w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-500x332.png 500w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-550x365.png 550w\" sizes=\"auto, (max-width: 602px) 100vw, 602px\" \/><\/p>\n<p>(Sumber: Shagurope, Reddit <span>https:\/\/old.reddit.com\/r\/fastandfurious\/comments\/194a5t8\/heres_one_i_really_want_your_thoughts_on_should\/<\/span>)<\/p>\n<p>Istilah <em>deepfake <\/em>ini sudah sangat merajalela di internet pada tahun 2024, terutama akibat program-program berbasis <em>artificial intelligence<\/em> seperti ChatGPT, Google Gemini, Midjourney, dan DALL-E sudah semakin berkembang. Namun, asal-usul dari istilah <em>deepfake<\/em> ini bukan dicetus dari suatu riset ataupun jurnal oleh ilmuwan dalam bidangnya, namun dari seorang pengguna Reddit yang bernama u\/deepfakes yang membuat video dewasa menggunakan wajah-wajah aktris populer seperti Gal Gadot, Maisie Williams, dan juga Taylor Swift menggunakan suatu algoritma <em>machine learning<\/em> yang menggunakan komputer pribadinya, video-video selebriti tersebut, dan waktu luangnya. Tidak lama setelah aktivitas u\/deepfakes ini dipublikasi oleh Vice dalam suatu artikel yang berjudul \u201cAI-Assisted Fake Porn Is Here and We\u2019re All Fucked,\u201d beliau akhirnya membuat suatu subreddit yang juga bernama r\/Deepfakes untuk guna berbagi video-video hasil proses <em>deepfake<\/em> ini.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-8324\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-2.png\" alt=\"\" width=\"602\" height=\"321\" srcset=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-2.png 602w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-2-300x160.png 300w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-2-400x213.png 400w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-2-250x133.png 250w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-2-200x107.png 200w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-2-100x53.png 100w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-2-75x40.png 75w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-2-50x27.png 50w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-2-500x267.png 500w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-2-550x293.png 550w\" sizes=\"auto, (max-width: 602px) 100vw, 602px\" \/><\/p>\n<p>(Suatu screenshot dari video dewasa <em>deepfake <\/em>yang menggunakan wajah Gal Gadot. Sumber: Vice, https:\/\/www.vice.com\/en\/article\/gal-gadot-fake-ai-porn\/)<\/p>\n<p>Tahukah bahwa sebelum istilah <em>deepfake<\/em> dipopulerkan pun sudah ada kasus-kasus di industri film dimana teknologi<em> deepfake <\/em>ini digunakan? Benar, teknologi ini sudah digunakan sedini tahun 2015 pada film <em>Fast and Furious 7<\/em>. Sejarah penggunaan teknologi VFX (video effects) ini sudah berawal dari tahun 1997, 20 tahun sebelum istilah <em>deepfake<\/em> dicetuskan pada tahun 2017.<\/p>\n<p>Namun, apa itu <em>deepfake <\/em>dan bagaimana proses pembuatannya?<\/p>\n<p><em>Deepfake <\/em>ini adalah gabungan dari 2 kata, yaitu: <em>deep learning <\/em>dan <em>fake<\/em>. Dimana istilah deep learning ini merupakan suatu proses dimana komputer diajarkan oleh manusia untuk memproses data dengan cara yang terinspirasi oleh otak manusia. Model <em>deep learning<\/em> ini dapat mengenali pola kompleks pada gambar, teks, suara, dan data lain untuk menghasilkan suatu prediksi yang akurat. Meskipun <em>deepfake<\/em> pada zaman sekarang sebagian besar sudah menggunakan teknologi <em>machine learning<\/em> tersebut, proses ini sudah ada sejak tahun 1997, dimana Christoph Bregler, Michele Covell, dan Malcolm Slaney memodifikasi suatu video yang menunjukkan seseorang berbicara untuk menggambarkan bibir orang tersebut mengucapkan kata-kata yang berada di trek audio yang berbeda menggunakan program yang bernama <em>Video Rewrite<\/em>. Ini menjadi program pertama yang melakukan proses ini secara otomatis, dan menggunakan teknik-teknik <em>machine learning<\/em> untuk membuat suatu koneksi antara suara yang dihasilkan oleh subjek dalam suatu video dan bentuk mukanya. Program ini awalnya diciptakan untuk membantu proses <em>dubbing<\/em> dalam film-film. Namun, seiring berjalannya waktu dan teknologi terus berkembang dan proses pembuatan <em>deepfake <\/em>ini semakin gampang, maka sekarang teknologi ini sering disalahgunakan untuk pembuatan video-video palsu untuk guna-guna pornografi ataupun propaganda politik.<\/p>\n<p>Keuntungan yang diberikan oleh teknologi <em>deepfake<\/em> ini cukup banyak, lebih spesifiknya di industri film.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-8326\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-3.png\" alt=\"\" width=\"602\" height=\"339\" srcset=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-3.png 602w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-3-300x169.png 300w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-3-400x225.png 400w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-3-250x141.png 250w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-3-200x113.png 200w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-3-100x56.png 100w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-3-75x42.png 75w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-3-50x28.png 50w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-3-500x282.png 500w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-3-550x310.png 550w\" sizes=\"auto, (max-width: 602px) 100vw, 602px\" \/><\/p>\n<p>(Suatu contoh penggunaan teknologi <em>deepfake<\/em> dalam film, dimana kerutan pada wajah aktor dikurangi untuk memberikan kesan lebih muda. Sumber: <span><a href=\"https:\/\/www.respeecher.com\/blog\/de-aging-technology-changing-hollywood-future-film-making\">https:\/\/www.respeecher.com\/blog\/de-aging-technology-changing-hollywood-future-film-making<\/a><\/span>)<\/p>\n<p>Pertama adalah penggunaan teknologi ini dalam proses kreatif untuk melakukan <em>de-aging <\/em>secara digital, dimana wajah seorang yang aktor yang sudah kelihatan tua di-edit agar wajah mereka kelihatan lebih muda dari wajah mereka yang sebenarnya. Proses <em>deepfake<\/em> ini sering digunakan untuk adegan-adegan flashback, dimana karakter yang dimainkan aktor harus tampak lebih muda. Proses ini biasanya digabungkan dengan seorang screen double yang memiliki kemiripan dengan satu sama lain. Contohnya adalah Kurt Russel dan Aaron Schwartz, dimana Kurt Russel memerankan dirinya di suatu adegan, dan setelah itu gestur tubuh dan ekspresi wajah beliau diulangi oleh Aaron Schwartz. Kemudian, kulitnya secara digital \u201cdiaplikasikan\u201d ke wajah Russel dengan teknologi <em>deepfake<\/em>.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-8328\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-4.png\" alt=\"\" width=\"602\" height=\"515\" srcset=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-4.png 602w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-4-300x257.png 300w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-4-351x300.png 351w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-4-250x214.png 250w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-4-200x171.png 200w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-4-100x86.png 100w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-4-75x64.png 75w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-4-50x43.png 50w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-4-500x428.png 500w, https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film-4-550x471.png 550w\" sizes=\"auto, (max-width: 602px) 100vw, 602px\" \/><\/p>\n<p>(Aaron Schwartz, Facebook. Sumber: <span><a href=\"https:\/\/www.facebook.com\/aaronschwartz11\/photos\/a.10151791980440862\/10155047629275862\/?type=3&amp;ref=embed_post\">https:\/\/www.facebook.com\/aaronschwartz11\/photos\/a.10151791980440862\/10155047629275862\/?type=3&amp;ref=embed_post<\/a><\/span>)<\/p>\n<p>Kedua adalah guna teknologi ini dalam proses <em>dubbing<\/em> suatu film ke bahasa lain, dimana proses dubbing secara tradisional ini bisa berakibat suatu pengalaman menonton film yang kurang enak karena bibir aktor yang bergerak secara tidak natural saat mengucapkan kata-kata dalam dub bahasa asing ini. Selain itu, ada perlunya untuk menyesuaikan makna teks yang diterjemahkan dengan ekspresi aktor yang seringkali dapat mengubah makna dari dialog-dialog yang seharusnya. Untuk mengatasi limitasi ini, teknologi <em>deepfake<\/em> dapat digunakan, contohnya adalah <em>Flawless<\/em>, suatu startup yang menggunakan teknologi <em>artificial intelligence<\/em> untuk menganalisa suatu video untuk mempelajari cara aktor ini bergerak, mulai dari posisi kepala, raut wajah, gerakan mata, dan juga fitur-fitur wajah lainnya. Setelah itu, AI ini menganalisa hal yang sama pada penerjemah dan kemudian hasilnya di-render hanya di muka aktor awal dan tidak memodifikasi latar belakang pada rekaman awalnya.<\/p>\n<p>Namun, meskipun teknologi ini dapat digunakan dengan baik dan etis, ada juga beberapa permasalahan yang tidak bisa dibiarkan saja.<\/p>\n<p>Teknologi <em>deepfake<\/em> ini dapat mengancam karir aktor-aktor yang sekarang sedang bekerja dan juga aktor-aktor yang baru terjun ke industri ini, karena aktor-aktor legendaris sudah dapat dihidupkan kembali dengan teknologi <em>deepfake<\/em> meskipun mereka sudah lama meninggal. Hal ini hampir terjadi dengan James Dean (yang sudah meninggal pada tahun 1955) dalam film Finding Jack pada tahun 2020, dimana karakter yang diperankan beliau menggunakan foto-foto dan rekaman-rekaman dari film yang sudah pernah dimainkannya. Namun, akibat komentar-komentar negatif dari orang-orang di industri perfilman, ide ini tidak jadi digunakan. Ada juga isu dalam bentuk dilema moral, dimana Dean sendiri belum memberikan izin secara langsung, namun hanya keluarganya. Kedua, hal ini bukan untuk menghidupkan kembali aktor ini, namun seakan Dean ini akan di casting ke film baru. Meskipun para produser sudah menyatakan bahwa beliau adalah seseorang yang sempurna untuk peran karakter spesifik ini, isu yang menjadi topik kontroversi apakah ada perlunya untuk memilih beliau daripada aktor yang masih hidup. Bukan hanya ini, namun ada banyak isu-isu legal ataupun moral jika producer memilih untuk merealisasikan ide ini.<\/p>\n<p>Kedua, adalah hukum-hukum perlindungan hak cipta yang masih belum mengikuti kemajuan teknologi ini, dimana interpretasi dari hukum-hukum yang ada masih belum mencakupi penggunaan teknologi <em>deepfake<\/em> tanpa izin. Contohnya, dalam hukum defamasi di Amerika, korban dari suatu video <em>deepfake<\/em> yang menyebarkan misinformasi harus membuktikan bahwa ada niat jahat dari pencipta video tersebut. Dalam kasus pembuatan film, jika seorang produser ataupun studio film memutuskan untuk menggunakan teknologi <em>deepfake<\/em> ketika sudah mendapatkan hak cipta dari rekaman dan gambar yang menjadi<em> input <\/em>dan kemudian menggunakan rekaman dan gambar itu untuk membuat versi <em>deepfake<\/em> dari aktor itu, maka ada kemungkinan bahwa oknum-oknum tersebut tidak bisa dituntut untuk tindakan defamasi. Bukan hanya konten defamasi ataupun misinformasi, namun <em>likeness<\/em> seorang aktor dapat digunakan untuk membuat konten-konten pornografi video yang berbasis <em>deepfake<\/em>, dimana muka seorang aktor ditumpuk di atas aktor ataupun aktris dalam video pornografi tersebut. Kurangnya perlindungan terhadap hal-hal ini dapat merusak nama baik seorang aktor\/aktris jika video-video tersebut tersebar luas dan masyarakat percaya bahwa orang yang tampil di video <em>deepfake <\/em>itu merupakan aktor\/aktris sebenarnya dan bukan hasil dari editan.<\/p>\n<p>Meskipun teknologi <em>deepfake<\/em> ini merupakan kemajuan yang dapat menjadi suatu hal yang sangat berguna bagi seniman-seniman yang bergerak di industri film, masih banyak permasalahan moral maupun legal yang harus diatasi sebelum para <em>filmmaker<\/em> lebih sering menggunakan teknologi ini. Contohnya adalah perlindungan secara komprehensif terhadap kemiripan atau <em>likeness<\/em> seorang aktor agar tidak digunakan untuk melakukan <em>training<\/em> untuk suatu model <em>artificial intelligence<\/em> tanpa seizin mereka ataupun menggunakan <em>likeness<\/em> ini tanpa seizin mereka akibat teknologi AI tersebut. Isu ini menjadi sorotan bagi protes yang dilakukan oleh serikat pekerja SAG-AFTRA terhadap AMPTP pada tahun 2023 lalu.<\/p>\n<p>Protes skala besar oleh serikat tersebut sudah berhenti pada tanggal 9 November 2023, namun belum ada hukum-hukum baru yang memperkuat perlindungan terhadap pekerja-pekerja industri film, terutama pada aktor dan aktris.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, sebaiknya pihak-pihak yang berwenang dalam bidang legislatif bergerak lebih cepat untuk memperkuat perlindungan hak cipta\/hak <em>likeness<\/em> dalam industri kreatif, sebelum lebih banyak pihak dirugikan akibat salah gunanya dari teknologi yang sebenarnya bisa menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat.<\/p>\n<p><strong>Daftar Pustaka<\/strong><\/p>\n<p><em>Apa itu Deep Learning? &#8211; Penjelasan tentang Deep Learning<\/em>. (n.d.). AWS. Retrieved October 7, 2024, from https:\/\/aws.amazon.com\/id\/what-is\/deep-learning\/<\/p>\n<p>Blake, S. (2021, May 3). <em>Flawless Launches to Use Deepfake Tech for Movie Dubbing<\/em>. dot.LA. Retrieved October 7, 2024, from https:\/\/dot.la\/flawless-ai-dubbing-2652865135.html<\/p>\n<p>Bregler, C., Covell, M., &amp; Slaney, M. (n.d.). <em>Video Rewrite, Origins of Deepfakes<\/em>. History of Information. Retrieved October 7, 2024, from https:\/\/www.historyofinformation.com\/detail.php?id=4792<\/p>\n<p>Cole, S. (2017, December 11). <em>AI-Assisted Fake Porn Is Here and We\u2019re All Fucked<\/em>. VICE. https:\/\/www.vice.com\/en\/article\/gal-gadot-fake-ai-porn\/<\/p>\n<p>Cole, S., Prada, L., Allegretti, D., Lamoureux, M., Hendy, E., Pearson, J., Gault, M., &amp; Rose, J. (2018, January 24). <em>We Are Truly Fucked: Everyone Is Making AI-Generated Fake Porn Now<\/em>. VICE. Retrieved October 16, 2024, from https:\/\/www.vice.com\/en\/article\/reddit-fake-porn-app-daisy-ridley\/<\/p>\n<p>Lowe, L., &amp; Williams, C. (2023, November 11). <em>The SAG-AFTRA Strike in Hollywood, Explained<\/em>. The Today Show. Retrieved October 7, 2024, from https:\/\/www.today.com\/popculture\/hollywood-actors-sag-strike-2023-explained-rcna94122<\/p>\n<p>Panyatham, P. (2020, March 10). <em>Deepfake Technology in the Entertainment industry: Potential Limitations and Protections \u2014 AMT Lab @ CMU<\/em>. AMT Lab @ CMU. Retrieved October 7, 2024, from https:\/\/amt-lab.org\/blog\/2020\/3\/deepfake-technology-in-the-entertainment-industry-potential-limitations-and-protections<\/p>\n<p>Vilenkin, R. (2021, January 27). <em>How De-aging Technology is Changing Hollywood &amp; the Future of Film-making<\/em>. Respeecher. Retrieved October 7, 2024, from https:\/\/www.respeecher.com\/blog\/de-aging-technology-changing-hollywood-future-film-making<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Jeremy El Joshua Kawibawa (Sumber: Shagurope, Reddit https:\/\/old.reddit.com\/r\/fastandfurious\/comments\/194a5t8\/heres_one_i_really_want_your_thoughts_on_should\/) Istilah deepfake ini sudah sangat merajalela di internet pada tahun 2024, terutama akibat program-program berbasis artificial intelligence seperti ChatGPT, Google Gemini, Midjourney, dan DALL-E sudah semakin berkembang. Namun, asal-usul dari istilah deepfake ini bukan dicetus dari suatu riset ataupun jurnal oleh ilmuwan dalam bidangnya, namun dari&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":10,"featured_media":8322,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-8321","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-latest-news"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.7 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Dilema Moral Mengenai Penggunaan Teknologi Deepfake Di Industri Film - Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Ciputra Surabaya<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/dilema-moral-mengenai-penggunaan-teknologi-deepfake-di-industri-film\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Dilema Moral Mengenai Penggunaan Teknologi Deepfake Di Industri Film - Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Ciputra Surabaya\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Jeremy El Joshua Kawibawa (Sumber: Shagurope, Reddit https:\/\/old.reddit.com\/r\/fastandfurious\/comments\/194a5t8\/heres_one_i_really_want_your_thoughts_on_should\/) Istilah deepfake ini sudah sangat merajalela di internet pada tahun 2024, terutama akibat program-program berbasis artificial intelligence seperti ChatGPT, Google Gemini, Midjourney, dan DALL-E sudah semakin berkembang. Namun, asal-usul dari istilah deepfake ini bukan dicetus dari suatu riset ataupun jurnal oleh ilmuwan dalam bidangnya, namun dari...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/dilema-moral-mengenai-penggunaan-teknologi-deepfake-di-industri-film\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Ciputra Surabaya\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-01-10T06:07:57+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-01-10T06:08:31+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"602\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"400\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"ardtech\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"ardtech\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"9 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/vcd\\\/dilema-moral-mengenai-penggunaan-teknologi-deepfake-di-industri-film\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/vcd\\\/dilema-moral-mengenai-penggunaan-teknologi-deepfake-di-industri-film\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"ardtech\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/vcd\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/8e727eddc9dfb963b79fcecd599493eb\"},\"headline\":\"Dilema Moral Mengenai Penggunaan Teknologi Deepfake Di Industri Film\",\"datePublished\":\"2025-01-10T06:07:57+00:00\",\"dateModified\":\"2025-01-10T06:08:31+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/vcd\\\/dilema-moral-mengenai-penggunaan-teknologi-deepfake-di-industri-film\\\/\"},\"wordCount\":1445,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/vcd\\\/dilema-moral-mengenai-penggunaan-teknologi-deepfake-di-industri-film\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/vcd\\\/2025\\\/01\\\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film.png\",\"articleSection\":[\"Latest News\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/vcd\\\/dilema-moral-mengenai-penggunaan-teknologi-deepfake-di-industri-film\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/vcd\\\/dilema-moral-mengenai-penggunaan-teknologi-deepfake-di-industri-film\\\/\",\"name\":\"Dilema Moral Mengenai Penggunaan Teknologi Deepfake Di Industri Film - Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Ciputra Surabaya\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/vcd\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/vcd\\\/dilema-moral-mengenai-penggunaan-teknologi-deepfake-di-industri-film\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/vcd\\\/dilema-moral-mengenai-penggunaan-teknologi-deepfake-di-industri-film\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/vcd\\\/2025\\\/01\\\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film.png\",\"datePublished\":\"2025-01-10T06:07:57+00:00\",\"dateModified\":\"2025-01-10T06:08:31+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/vcd\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/8e727eddc9dfb963b79fcecd599493eb\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/vcd\\\/dilema-moral-mengenai-penggunaan-teknologi-deepfake-di-industri-film\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/vcd\\\/dilema-moral-mengenai-penggunaan-teknologi-deepfake-di-industri-film\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/vcd\\\/dilema-moral-mengenai-penggunaan-teknologi-deepfake-di-industri-film\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/vcd\\\/2025\\\/01\\\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/vcd\\\/2025\\\/01\\\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film.png\",\"width\":602,\"height\":400},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/vcd\\\/dilema-moral-mengenai-penggunaan-teknologi-deepfake-di-industri-film\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/vcd\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Dilema Moral Mengenai Penggunaan Teknologi Deepfake Di Industri Film\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/vcd\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/vcd\\\/\",\"name\":\"Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Ciputra Surabaya\",\"description\":\"Universitas Ciputra\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/vcd\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/vcd\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/8e727eddc9dfb963b79fcecd599493eb\",\"name\":\"ardtech\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/777d8f1135a5f87904da88c788eb66994b255320bdea4dadd595c846af3eb794?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/777d8f1135a5f87904da88c788eb66994b255320bdea4dadd595c846af3eb794?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/777d8f1135a5f87904da88c788eb66994b255320bdea4dadd595c846af3eb794?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"ardtech\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/vcd\\\/author\\\/ardtech\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Dilema Moral Mengenai Penggunaan Teknologi Deepfake Di Industri Film - Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Ciputra Surabaya","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/dilema-moral-mengenai-penggunaan-teknologi-deepfake-di-industri-film\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Dilema Moral Mengenai Penggunaan Teknologi Deepfake Di Industri Film - Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Ciputra Surabaya","og_description":"Oleh: Jeremy El Joshua Kawibawa (Sumber: Shagurope, Reddit https:\/\/old.reddit.com\/r\/fastandfurious\/comments\/194a5t8\/heres_one_i_really_want_your_thoughts_on_should\/) Istilah deepfake ini sudah sangat merajalela di internet pada tahun 2024, terutama akibat program-program berbasis artificial intelligence seperti ChatGPT, Google Gemini, Midjourney, dan DALL-E sudah semakin berkembang. Namun, asal-usul dari istilah deepfake ini bukan dicetus dari suatu riset ataupun jurnal oleh ilmuwan dalam bidangnya, namun dari...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/dilema-moral-mengenai-penggunaan-teknologi-deepfake-di-industri-film\/","og_site_name":"Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Ciputra Surabaya","article_published_time":"2025-01-10T06:07:57+00:00","article_modified_time":"2025-01-10T06:08:31+00:00","og_image":[{"width":602,"height":400,"url":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film.png","type":"image\/png"}],"author":"ardtech","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"ardtech","Estimasi waktu membaca":"9 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/dilema-moral-mengenai-penggunaan-teknologi-deepfake-di-industri-film\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/dilema-moral-mengenai-penggunaan-teknologi-deepfake-di-industri-film\/"},"author":{"name":"ardtech","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/#\/schema\/person\/8e727eddc9dfb963b79fcecd599493eb"},"headline":"Dilema Moral Mengenai Penggunaan Teknologi Deepfake Di Industri Film","datePublished":"2025-01-10T06:07:57+00:00","dateModified":"2025-01-10T06:08:31+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/dilema-moral-mengenai-penggunaan-teknologi-deepfake-di-industri-film\/"},"wordCount":1445,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/dilema-moral-mengenai-penggunaan-teknologi-deepfake-di-industri-film\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film.png","articleSection":["Latest News"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/dilema-moral-mengenai-penggunaan-teknologi-deepfake-di-industri-film\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/dilema-moral-mengenai-penggunaan-teknologi-deepfake-di-industri-film\/","name":"Dilema Moral Mengenai Penggunaan Teknologi Deepfake Di Industri Film - Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Ciputra Surabaya","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/dilema-moral-mengenai-penggunaan-teknologi-deepfake-di-industri-film\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/dilema-moral-mengenai-penggunaan-teknologi-deepfake-di-industri-film\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film.png","datePublished":"2025-01-10T06:07:57+00:00","dateModified":"2025-01-10T06:08:31+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/#\/schema\/person\/8e727eddc9dfb963b79fcecd599493eb"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/dilema-moral-mengenai-penggunaan-teknologi-deepfake-di-industri-film\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/dilema-moral-mengenai-penggunaan-teknologi-deepfake-di-industri-film\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/dilema-moral-mengenai-penggunaan-teknologi-deepfake-di-industri-film\/#primaryimage","url":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film.png","contentUrl":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/vcd\/2025\/01\/Dilema-Moral-Mengenai-Penggunaan-Teknologi-Deepfake-Di-Industri-Film.png","width":602,"height":400},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/dilema-moral-mengenai-penggunaan-teknologi-deepfake-di-industri-film\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Dilema Moral Mengenai Penggunaan Teknologi Deepfake Di Industri Film"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/","name":"Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Ciputra Surabaya","description":"Universitas Ciputra","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/#\/schema\/person\/8e727eddc9dfb963b79fcecd599493eb","name":"ardtech","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/777d8f1135a5f87904da88c788eb66994b255320bdea4dadd595c846af3eb794?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/777d8f1135a5f87904da88c788eb66994b255320bdea4dadd595c846af3eb794?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/777d8f1135a5f87904da88c788eb66994b255320bdea4dadd595c846af3eb794?s=96&d=mm&r=g","caption":"ardtech"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/author\/ardtech\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8321","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/wp-json\/wp\/v2\/users\/10"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8321"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8321\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8331,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8321\/revisions\/8331"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8322"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8321"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8321"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/vcd\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8321"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}