Diabetes Mellitus Tipe II

PENGERTIAN 

Diabetes melitus tipe 2 adalah penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah dalam tubuh akibat resistensi insulin atau produksi insulin yang tidak adekuat. Kondisi ini memengaruhi cara tubuh menggunakan gula (glukosa) sebagai sumber energi. Diabetes melitus tipe 2 merupakan bentuk diabetes yang paling umum dan biasanya terjadi pada orang dewasa, meskipun dapat juga terjadi pada anak-anak dan remaja.

FAKTOR RESIKO 

  1. Faktor resiko yang bisa diubah, seperti : kelebihan berat badan (obesitas), kurang aktivitas fisik, dislipidemia (kolesterol) tinggi, diet tidak seimbang, hipertensi, riwayat penyakit jantung. 
  2. Faktor resiko yang tidak bisa diubah, seperti : Usia > 40 tahun, ada riwayat keluarga dengan diebetes melitus, riwayat kehamilan dengan diabetes melitus, riwayat lahir dengan BB bayi < 2> 4 kg.

TANDA DAN GEJALA 

Penting untuk mengenali tanda-tanda awal diabetes agar dapat segera mendapatkan perawatan yang tepat. Beberapa tanda gejala diabetes tipe II yang umum muncul pada tahap awal adalah:

  • Sering merasa haus (polidipsi)
  • Sering buang air kecil, terutama di malam hari (poliuria)
  • Rasa lapar yang berlebihan (polifagia)
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas
  • Kelelahan yang luar biasa
  • Pandangan mata kabur
  • Luka yang sulit atau lama sembuh
  • Sering mengalami infeksi (kulit, gusi, atau saluran kemih)
  • Area kulit tertentu menghitam (biasanya di leher atau ketiak)
  • Kesemutan atau mati rasa pada tangan dan kaki

Gejala-gejala ini sering kali muncul secara perlahan sehingga banyak orang tidak menyadari bahwa mereka sudah mengidap diabetes selama bertahun-tahun. Jika tidak segera ditangani, tingginya kadar gula darah dapat merusak sistem saraf dan pembuluh darah di seluruh tubuh.

KOMPLIKASI

Terlepas dari jenis diabetesnya, komplikasi yang terjadi mencakup gangguan pembuluh darah dan neuropatik. Komplikasi pembuluh darah dipengaruhi oleh derajat serta lamanya kontrol glikemik yang buruk. Manifestasinya meliputi gangguan ginjal, mata, dan saraf, serta kejadian penyakit kardiovaskular aterosklerotik (ASCVD), terutama bila disertai komorbiditas seperti dislipidemia dan hipertensi.

Komplikasi akut utama adalah ketoasidosis diabetik (DKA), terutama pada DM tipe 1, akibat kekurangan insulin yang menyebabkan penurunan kadar keasaman (pH) dalam darah. Pada DM tipe 2, yang sering terjadi adalah hyperosmolar hyperglycemic syndrome (HHS), yang ditandai dengan hiperglikemia berat tanpa ketosis signifikan. Keduanya memerlukan terapi insulin, rehidrasi, dan koreksi elektrolit secara intensif.

TATALAKSANA

  1. Terapi Non-Farmakologis (Modifikasi gaya hidup) 
    1. Pola makan (kurangi asupan gula dan karbohidrat olahan, perbanyak serat, batasi lemak jenuh serta atur porsi makan)
    2. Aktivitas fisik (olahraga dengan waktu minimal 150 menit/minggu) 
    3. Penurunan berat badan (target penurunan 5–10% dari berat badan awal pada pasien overweight/obesitas.
  2. Terapi Farmakologis (Obat-obatan)
    Jika perubahan gaya hidup tidak cukup untuk mencapai target HbA1c (<7% pada sebagian besar pasien), maka diberikan obat.

    1. Metformin (Lini Pertama) > mengurangi produksi glukosa di hati, risiko hipoglikemia rendah
    2. Obat tambahan > disesuaikan dengan kondisi pasien (risiko jantung, ginjal, obesitas) : Sulfonilurea, DPP-4 inhibitor, SGLT2 inhibitor, Insulin (bila gula darah sangat tinggi atau gagal terapi oral). Pada pasien dengan penyakit jantung atau ginjal, ADA merekomendasikan SGLT2 inhibitor atau GLP-1 RA tertentu.

    3. Monitoring dan Evaluasi

    1. Pemeriksaan HbA1c setiap 3 bulan (jika belum terkontrol)
    2. Monitoring gula darah mandiri
    3. Pemeriksaan tekanan darah dan profil lipid
    4. Skrining komplikasi (mata, ginjal, saraf)

PENCEGAHAN

  1. Pemahaman Dasar
    1. Kondisi: Tubuh sulit menggunakan insulin (resistensi insulin), menyebabkan gula darah tinggi.
    2. Gejala: Sering haus, lapar, sering buang air kecil, dan mudah lelah.
    3. Risiko Komplikasi: Penyakit jantung, ginjal, saraf, dan kebutaan.
  2. Langkah Pencegahan
    1. Gerak Aktif: Jalan cepat 150 menit/minggu + latihan beban 2x/minggu.
    2. Pola Makan: Pilih karbohidrat kompleks & tinggi serat; hindari gula tambahan & lemak jenuh.
    3. Berat Badan: Jaga berat badan ideal (target turun 5–7% bagi yang berisiko).
    4. Gaya Hidup: Berhenti merokok dan pastikan tidur cukup (7–9 jam).
  3. Deteksi Dini
    1. Cek gula darah rutin jika usia >35 tahun atau memiliki berat badan berlebih.
    2. Target kadar HbA1c normal: <5,7%.

SUMBER :

  • Tanda dan Gejala :
    American Diabetes Association. (2024). Standards of Care in Diabetes—2024. Diabetes Care, 47(Supplement_1).
    Gardner, D. G., & Shoback, D. (2018). Greenspan’s Basic and Clinical Endocrinology (10th ed.). McGraw-Hill Education.
    Holt, R. I., et al. (2021). Diabetes Mellitus. Nature Reviews Disease Primers, 7(1).
    Kasper, D. L., & Fauci, A. S. (2022). Harrison’s Principles of Internal Medicine (21st ed.). McGraw-Hill Education.
  • Komplikasi :
    Sapra, A., & Bhandari, P. (2024). Diabetes.[Updated 2023 Jun 21]. StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing.
  • Tatalaksana :
    American Diabetes Association (2024) Standards of Care in Diabetes—2024. Diabetes Care, 47(Suppl. 1).
    World Health Organization (2023) Diabetes. Available at: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/diabetes
    Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (2021) Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia. Jakarta: PB PERKENI.

Artikel Lain

Chronic Kidney Disease

Menyikapi Pedofilia On-Line

Membangun Bisnis yang Sukses dengan Memanfaatkan Teknologi Medis Inovatif

DISLIPIDEMIA

Riset Kedokteran Klinis: Pilar Inovasi di Fakultas Kedokteran