‘LEBIH DARI SEKADAR DEMOKRASI”, GREG BARTON MENEKANKAN NILAI KEMANUSIAAN GUS DUR: CATATAN DARI STUDIUM GENERALE UC

SURABAYA — Universitas Ciputra Surabaya menyelenggarakan Studium Generale bertajuk “Demokrasi ala Gus Dur” dengan menghadirkan Prof. Greg Barton sebagai narasumber, Sabtu (10/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di “Dian Auditorium”, Lantai 7, “UC Main Building”, ini membahas relevansi pemikiran Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mengenai demokrasi, kemanusiaan, dan kehidupan dalam masyarakat yang beragam.
Diskusi dimoderatori oleh Febriyanti Ryan Ariyani, Koordinator Gusdurian Sidoarjo, dan dihadiri oleh sivitas akademika Universitas Ciputra Surabaya, tokoh lintas agama, pengajar agama, serta perwakilan komunitas budaya di Surabaya.
Kegiatan ini dibuka oleh Wakil Rektor I Bidang “Entrepreneurship, Academic, and Research” Universitas Ciputra Surabaya, Prof. Dr. Astrid, S.T., M.M. Turut hadir Kepala Departemen Studi Humaniora dan Interdisipliner, Dr. Johan Hasan; Koordinator Mata Kuliah Agama dan Pancasila, Dr. John Sinartha Wolo; serta para dosen Departemen Studi Humaniora dan Interdisipliner.
Demokrasi sebagai Praktik Kehidupan Kampus
Dalam sambutannya, Prof. Astrid menegaskan bahwa demokrasi tidak hanya berkaitan dengan sistem pemerintahan dan kehidupan bernegara, tetapi juga perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan perguruan tinggi.
Menurutnya, praktik demokrasi di kampus dapat dikembangkan melalui sikap saling menghargai, keterbukaan terhadap perbedaan pendapat, dialog yang konstruktif, serta partisipasi aktif mahasiswa dalam kehidupan akademik.
Ia juga mengaitkan nilai-nilai tersebut dengan “credo” Universitas Ciputra, yakni integritas, profesionalisme, dan “entrepreneur”. Ketiganya menjadi landasan dalam membentuk mahasiswa yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga berkarakter, bertanggung jawab, dan mampu bekerja sama di tengah keberagaman.
Dengan demikian, demokrasi tidak berhenti sebagai konsep yang dipelajari di ruang kelas, tetapi menjadi nilai yang dipraktikkan melalui interaksi, pengambilan keputusan, dan tanggung jawab bersama dalam kehidupan kampus.
Greg Barton: Pemikiran Gus Dur Berakar pada Nilai Kemanusiaan
Dalam pemaparannya, Prof. Greg Barton menekankan bahwa pemikiran Gus Dur tidak dapat dipahami hanya melalui gagasannya tentang demokrasi. Lebih mendasar dari itu, pemikiran dan perjuangan Gus Dur berakar pada penghormatan terhadap martabat manusia serta keyakinan bahwa iman harus diwujudkan melalui tindakan nyata bagi sesama.
Barton menjelaskan bahwa salah satu unsur penting dalam pemikiran Gus Dur adalah keyakinan mendalam yang tercermin dalam keteladanan hidupnya. Bagi Gus Dur, keimanan tidak cukup berhenti pada pengakuan atau pemahaman keagamaan, tetapi perlu diwujudkan melalui perjuangan menjadi manusia yang bermartabat dan pelayanan kepada sesama, terutama mereka yang tertindas dan terpinggirkan.
Pandangan tersebut sejalan dengan ungkapan Gus Dur yang menegaskan hubungan erat antara penghormatan terhadap manusia dan penghormatan terhadap Sang Pencipta: “Memuliakan manusia, berarti memuliakan penciptanya, merendahkan dan menistakan manusia, berarti merendahkan dan menistakan penciptanya.”
Pemikiran ini menunjukkan bahwa kemanusiaan merupakan landasan penting dalam memahami demokrasi ala Gus Dur. Demokrasi bukan semata-mata mekanisme politik atau prosedur pengambilan keputusan, melainkan juga komitmen moral untuk menghormati martabat setiap manusia, melindungi kelompok yang rentan, dan membangun kehidupan bersama yang adil.
Melalui perspektif tersebut, peserta diajak memahami bahwa keberagaman bukan alasan untuk membangun sekat sosial, melainkan kenyataan yang perlu dikelola melalui dialog, penghormatan, dan kesediaan untuk hidup berdampingan.
Memperkuat Dialog dan Pemikiran Kritis di Perguruan Tinggi
Penyelenggaraan Studium Generale ini menjadi bagian dari upaya Universitas Ciputra Surabaya dalam memperluas ruang pembelajaran melalui dialog akademik dan perjumpaan lintas perspektif. Pemikiran Gus Dur memberikan landasan reflektif bagi sivitas akademika untuk memahami hubungan antara demokrasi, kebebasan, tanggung jawab sosial, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Bagi mahasiswa, pembahasan ini relevan dalam membangun kemampuan berpikir kritis, menyikapi perbedaan secara dewasa, serta mengembangkan tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat yang majemuk.
Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa pendidikan tinggi tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan dan pengembangan kompetensi profesional, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kepekaan sosial. Melalui dialog yang terbuka dan interdisipliner, perguruan tinggi dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan sikap demokratis, memperkuat toleransi, dan mendorong kontribusi nyata bagi kehidupan masyarakat.
Dengan mengangkat pemikiran Gus Dur, Universitas Ciputra Surabaya menghadirkan refleksi bahwa demokrasi yang bermakna perlu ditopang oleh kesadaran akan martabat manusia. Nilai-nilai tersebut tetap relevan sebagai pijakan untuk membangun kehidupan bersama yang menghargai perbedaan, menjunjung kemanusiaan, dan mengedepankan tanggung jawab sosial.***

