Merayakan Kebersamaan di Tengah Perbedaan: Diskusi Imlek dan Ramadan di Universitas Ciputra
Universitas Ciputra Surabaya – Ratusan orang memadati Dian Auditorium Universitas Ciputra Surabaya pada Sabtu (28/2) untuk mengikuti diskusi bertajuk “Imlek & Ramadan: Belajar dari Dua Peradaban”. Acara dibuka dengan pertunjukan barongsai, yang menurut kepala departemen Kajian Humaniora dan Interdisipliner Universitas Ciputra Surabaya, Dr. Johan Hasan, sebagai bentuk apresiasi terhadap sosok Gus Dur yang telah membuka jalan bagi pengakuan terhadap eksistensi kebudayaan Tionghoa di Indonesia. Acara tersebut menghadirkan Konsul Jenderal RRT di Surabaya, Dr. Ye Su, dan Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid, sebagai pembicara. Sedangkan bertindak sebagai moderator adalah Aan Anshori, selaku dosen luar biasa di Universitas Ciputra Surabaya.
Momen diskusi ini dinilai spesial karena berlangsung di tengah kerapatan tiga peristiwa penting secara kultural dan religi di Indonesia. Pemerintah telah menetapkan 19 Februari sebagai awal puasa (1 Ramadan) bagi umat Muslim. Dua hari sebelumnya, pada 17 Februari, masyarakat Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek. Sementara itu, umat Kristiani memulai masa Prapaskah pada 18 Februari, yang diisi dengan ibadah puasa selama 40 hari sebelum Paskah.
Dalam sambutannya, Rektor Universitas Ciputra Prof. Dr. Wirawan E.D. Radianto menyampaikan bahwa, “diskusi ini menunjukkan jika perbedaan itu harus dipandang sebagai sebuah kekuatan dan dengan adanya pemahaman tentang perbedaan, kita semua terdorong lebih toleran antara satu dengan yang lain”.
Kunci Kemajuan Tiongkok: Stabilitas dan Ekonomi
Dr. Ye Su mengawali pemaparannya dengan memutar video berdurasi sekitar 10 menit yang menampilkan aksi seni bela diri kungfu, baik yang dilakukan oleh sekelompok pemuda maupun robot-robot yang lincah memainkan toya dan bersalto.
Menurutnya, video tersebut merepresentasikan kemajuan pesat Tiongkok dalam 47 tahun terakhir. Ia merangkumnya dalam dua faktor utama: perkembangan ekonomi yang pesat dan stabilitas sosial yang berlangsung lama.
Dr. Ye Su kemudian memerinci enam poin pendukung resep sukses tersebut, yaitu kebijakan dan strategi pemerintah yang stabil, pemerataan pendidikan dari dasar hingga tinggi, pembangunan infrastruktur, fokus pada ekonomi riil, pengentasan kemiskinan secara dinamis dan presisi, serta keterbukaan terhadap kerja sama dengan negara lain.
Selain itu, Dr. Ye Su juga menyinggung tentang bagaiamana pemerintah Tiongkok melakukan penanganan terhadap tindak korupsi, melalui suatu Tindakan yeg tegas dan nyata, melalui penegakan hukum yang secara statistik, pada tahun 2025, telah menyasar pada 115 pegawai tingkat mentri ke atas dan 5.000 pegawai tingkat kabupaten, 9.000 kasus korupsi kecil yang terjadi di sekitar Masyarakat. Selanjutnya untuk menangani korupsi disarankan yakni penegakan terhadap korupsi yang tidak pandang bulu, pencegahan melalui sistem yang terbuka dan transparan, fokus menyelesaikan korupsi disekitar rakyat terutama pada sektor-sektor utama (keuangan, energi, obat-obatan, dll), kerja sama internasional dengan aktif dalam organisasi yang bekerja sama dalam melakukan pengejaran asset-aset koruptor yang disembunyikan di luar negeri.
Indonesia: Harmoni dalam Kebhinekaan
Sementara itu, Yenny Wahid memaparkan bahwa sejarah Indonesia sejak awal dibangun di atas fondasi keberagaman, bukan keseragaman. Para pendiri bangsa, menurutnya, telah meramu berbagai perbedaan tersebut ke dalam satu konsep bernama Pancasila.
“Pancasila ini mengikat berbagai latar belakang budaya, adat, suku, juga agama yang berbeda-beda di Indonesia ini,” tegas putri sulung Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu.
Yenny menambahkan, karena Indonesia lahir dari berbagai unsur yang bercampur, maka segala bentuk diskriminasi sudah tidak relevan lagi untuk diterapkan. Ia menilai momen berdekatannya Imlek dan Ramadan adalah waktu yang tepat untuk berefleksi tentang kekayaan budaya yang majemuk.
“Bagaimana keragaman budaya di Indonesia ini adalah sebuah harmoni. Kebhinekaan harus dijaga sehingga tidak ada lagi saudara kita yang terdiskriminasi,” ungkapnya.
Lebih lanjut Yenny menyatakan bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita tidak boleh berpaku pada masa lalu tapi harus berorientasi pada masa depan, namun manusia memiliki keistimewaan bahwa dalam periode 80 tahun akan mengulangi kesalahan yang sama, jika dikaitkan dengan sejarah bangsa-bangsa dan siklus ekonomi dunia, seperti bagaiaman kekacauan dunia saat ini yang diindikasikan menuju atau diambang perang dunia ke-3.
Diskusi yang berlangsung sekitar dua jam tersebut tidak hanya dihadiri oleh mahasiswa, tetapi juga kalangan umum. Para peserta terlihat antusias mengajukan pertanyaan kepada para narasumber terkait tema toleransi dan kebudayaan.
