
Surabaya, 21 September 2026 — UC Library Surabaya menggelar I Talk Book Discussion pada Senin (21/9) sebagai bagian dari Library Visit Day 2026 . Diskusi ini menghadirkan narasumber, yakni Prof. Djuli Djati Pambudi, dosen Universitas Negeri Surabaya; EST. Oyik Eddy P., Pendiri & Wakil Ketua Sindikat Srisasanti; serta dr. Melani Setiawan, kolektor seni sekaligus filantrop. Diskusi dipandu oleh Ayos Purwoaji, dosen Becoming Indonesia Universitas Ciputra. Kehadiran para narasumber tersebut menghadirkan perspektif yang beragam mengenai perkembangan, dokumentasi, dan dinamika dunia seni rupa Indonesia.
Dalam paparannya, Prof. Djuli menjelaskan bahwa buku Indonesia Art World: Archive (1977–2022) karya dr. Melani Setiawan merekam perjalanan perkembangan seni rupa Indonesia melalui kumpulan arsip fotografi yang disimpan selama lebih dari empat dekade. Perjalanan berkarya dan dedikasinya dalam mendokumentasikan perkembangan seni rupa Indonesia ini, tentu bukanlah sesuatu yang sederhana. Di tengah kesibukannya menjalankan profesi sebagai seorang dokter dengan berbagai tuntutan dan tanggung jawab, beliau tetap memiliki perhatian yang kuat terhadap dunia seni rupa. Ketertarikan tersebut tidak berhenti pada aktivitas apresiasi semata, tetapi diwujudkan melalui ketekunan dalam mengumpulkan dan mendokumentasikan berbagai peristiwa serta karya seni rupa yang ditemuinya.
Konsistensi tersebut berlangsung dalam rentang waktu yang sangat panjang, yakni selama kurang lebih empat dekade, dari tahun 1977 hingga 2022. Rentang waktu tersebut menunjukkan adanya komitmen dan ketekunan yang luar biasa dalam mencatat rekam jejak perjalanan seni rupa Indonesia. Dokumentasi yang disimpan selama puluhan tahun itu pada akhirnya tidak hanya menjadi catatan pribadi, tetapi juga dapat dipandang sebagai bagian dari arsip yang merekam dinamika, perubahan, dan perkembangan dunia seni rupa Indonesia dari waktu ke waktu. Demikian tambah Prof Djuli.
Sementara itu, Pak Oyik, menyoroti sebuah sisi yang penting berangkat dari fakta adanya karya dr Melani ini. Bagi dia, hal terpenting saat ini adalah bagaimana menjaga ekosistem seni rupa yang berkelanjutan. Dalam arti bahwa karya ini tidak hanya berhenti pada proses cetak dan peluncuran yang telah selesai sampai saat ini, melainkan bagaimana tindakan selanjutnya, dalam penelitian yang bernuansa kualitatif berangkat dari karya ini. Karya ini bisa disebut sebagai karya yang kuantitatif, selanjutnya, bagaimana karya ini dilanjutkan ke tahap penelitian, terkait sejarah seni rupa Indonesia, yang menurut pengamatan saya, sampai saat ini belum memadai, bahkan belum ada. Pak Oyik ini mengakhiri sebuah tantangan, entahkah UC Library bisa menjadi motor penggerak untuk melanjutkan ekosistem yang belum berjalan dengan baik?

Pada bagian akhir kegiatan, Wakil Rektor I Bidang Kewirausahaan, Akademik, dan Penelitian, Prof. Astrid, ST, MM, menutup bahwa Universitas Ciputra selalu membuka ruang dan memberikan kesempatan kepada sivitas akademika maupun masyarakat luas untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, termasuk dalam bidang seni dan budaya Indonesia. Menurutnya, pengembangan ilmu pengetahuan tidak hanya terjadi di ranah akademik, tetapi juga dapat diwujudkan melalui apresiasi, dokumentasi, dan diskusi mengenai kekayaan seni dan budaya yang dimiliki Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, Prof. Astrid juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan I Talk Book Discussion , khususnya kepada para narasumber, moderator, peserta, serta seluruh tamu yang hadir. Ucapan terima kasih secara khusus juga disampaikan kepada dr. Melani Setiawan selaku penulis buku yang telah menghadirkan dokumentasi perjalanan seni rupa Indonesia melalui karya Indonesia Art World: Archive (1977–2022) . Salam Pengusaha.***
