Gedung kesenian yang menjadi ikon comedianplein straat atau jalan merak ternyata tak bertahan lama. Berdasarkan pertimbangan biasa operasional dan keuntungan, akhirnya gedung kesenian tersebut dihancurkan dan dibangun gedung baru.

Rahmat Sudrajat

Wartawan radar Surabaya

Gedung kesenian itu dibangun tahun 1854 dengan tujuan tontonan orang berduit pada zaman kolonal. “biasanya digedung digunakan tempat pertunjukan teater, dan yang bisa masuk hanya orang berduit,” tuturnya pemerhati sejarah Chrisyandi kepada Radar Surabaya.

Namun seiring berjalannya waktu biaya operasional gedung tersebut membengkak. Pendapatan dari pertunjukan tidak pernah cukup untuk operasional gedung. “pemasukan berkurang berfek pada pemeliharaan gedung, perawatan alat, pembuatan dekorasi dan lampu. Sehingga tidak bisa mengikuti teknologi pertunjukan dengan perkembangan zaman yang pesat. Pada tahun 1923 gedung dibongkar,” ungkapnya.

Menurut Chrisyandi sebelum gedung tersebut dibongkar, bangunan gedung tersebut masih dikelola oleh Bouman kepada Dunlop & Co. kemudian lokasi gedung kesenian tersebut dibangun gedung handels vereeniginc Amsterdam (HVA) atau kantor perusahaan dagang Amsterdam. Bangunan dirancang oleh agensi arsitektur terbesar di Hindia Belanda kala itu, dirancang oleh Hulswit, Fermont & Cuypers.

Beralih fungsi: Proses pembangunan gedung Handels Vereeniginc Amsterdam atau sekarang PTPN XI setelah gedung kesenian dibongkar.

                “Proses perancangan sudah dilakukan sebelum gudang kesenian dibongkar. Dari perencanaan hingga pembangunan memakan waktu lebih dari 10 tahun. Gedung HVA selesai tahun 1921 dan diresmikan pada tanggal 18 April 1925,” jelasnya.

Kemudian ditahun 1958, berganti nama menjadi gedung State Plantation Company (PPN). Tahun 1972, menjadi PT Perkebunan, lalu 1994 ada penggabungan antara PT Perkebunan Nusantara XXIV-XXV dan PT Perkebunan XX (persero) menjadi PTPN XI. “gedung tersebut (HVA, Red) juga pernah menjadi markas Komando Tobu-Jawa-Bo-Etai, Markas Comando Militer  Djawa Timur (XMDT) Dr Moestopo. Juga jadi tempat perundingan antara Mallaby dengan Dr Moestopo (kali kedua, Red),” pungkasnya.

 

Sumber: Radar Surabaya.1 Mei 2019.Hal.3.