KBPH Prabu Suryodilogo Mulai dari Hal Kecil. Kompas. 5 Januari 2016. Hal 16

KBPH PRABU SURYODILOGO

  • Lahir : Yogyakarta, 15 Desember 1962
  • Pendidikan : Lulus Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta
  • Istri : BRAy Atika Suryodilogo
  • Anak :
  • BRMH Suryo Sri Bimantoro
  • BRMH Bhismo Srenggoro Kuntonugroho

 OLEH BAMBANG SIGAP SUMANTRI

Santai dan diselingi dengan cerita mulai dari kepemimpinan sampai sekrup. Ia bisa membongkar komputer dan mengoprek agar kerjanya lebih cepat, tetapi ternyata bimo tidak senang e-mail.

Salah satu yang juga menarik, di tengah wawancara ketika membutuhkan tanda tangan buku hasil karyanya berjudul Ajaran Kepemipinan Asthabrata Kadipaten Pakualaman, tiba – tiba klek, gagang kacamata Bimo putus.

Wo, lha kacamata buatan Tiongkok, harganya Cuma Rp.20.000, wajar gampang rusak, santai saja nanti cari obeng jadi beres lagi,” katanya sambil tersenyum.

Kamis Legi, 7 Januari 2016, Kadipaten Pakualaman akan mempunyai adipati baru dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam X. Bimo itulah calon adipatinya. Ia akan menggantikan Paku Alam IX yang meninggal 21 November 2015.

Bimo, lengkapnya Raden Mas Wijoseno Hario Bimo, sebenarnya panggilan karib, terutama di lingkungan pemerintahan dan teman – temannya. Posisi terakhir menjabat sebagai Kepala Biro Administrasi Kesra dan Masyarakat DIY. Sebagai putra mahkota, dia mendapat gelar Kanjeng Bendoro Pangeran Haryo (KBPH) Prabu Suryodiogo.

Pakualaman merupakan salah satu pecahan Kerajaan Mataram pasca Perjanjian Giyati (1755). Tiga yang lain, Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, dan Kadipaten Mangkunegaran. Dalam pemerintahan keistimewaan Yogyakarta, Paku Alam adalah Wakil Gubernur. Kerabat Pakualaman sebenarnya mempunyai banyak pejuang nasionalis yang melebihi jangkauan kebangsawanannya, keluar dari eksklusivitas keningratannya.

Tokoh paling terkenal, Ki Hajar Dewantara, pendiri Taman Siswa, yang sejak remaja sudah anti penjajahan Belanda. Nama aslinya Raden Mas (RM) Suwardi Suryaningrat, cucu Paku Alam III. Sang kakak, RM Suryopranoto, pahlawan nasional, dalam bahasa sejarawan Budiawan “actor pergerakan nasional yang sangat berperan dalam dalam membangun pergerakan kebangsaan”, pemimpin aksi pemogokan buruh melawan Belanda pada 1920-an.

Setelah lulus dari Fakultas Ekonomi, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, Bimo tidak langsung mencari pekerjaan. Dia mengistilahkan “dolan” (pergi) mencari pengalaman ke Belanda, menjadi tukang masak di restoran selama enam tahun. Perjalanan ini mirip dengan Paku Alam IX yang pernah bekerja sebagai awak kapal dan berkeliling dunia sebelum dilantik menjadi adipati.

Pulang dari Belanda, baru ia mengikuti tes lowongan pegawai negeri di Kepatihan Yogyakarta. Teryata, dia tidak diterima. Baru pada tes kedua, ia lolos menjadi pegawai negeri sampai sekarang.

“Ketika ikut tes saya sengaja tidak matur (memberi tahu) kepada pejabat gubernur Paku Alam VIII (eyangnya). Kalau matur pasti langsung di terima,” ujarnya.

Keahlian memasak Bimo masih tersisa sampai sekarang. “kini, 90 persen yang menyiapkan sarapan itu saya kalau di rumah, istri masih tidur saya sudah buat sarapan,” ujarnya.

Selain hobi, Bimo juga mempunyai alasan lain untuk mencintai masak – memasak. Setiap kali memasak, ada proses rasa syukur kepada Tuhan dengan tersedianya baha makanan.

“Dan doa atas makanan itu dimakan anak – anak saya, ini salah satu cara mendoakan anak – anak di samping dengan doa biasa,” ujarnya.

Bagi Bimo, pelajaran kehidupan dari ayahnya adalah kesederhanaan yang apa adanya.

“Apa adanya, kita ini hidup mau untuk apa to, Le (panggilan Jawa untuk anak laki – laki). Barang berharga enggak ada, arloji Cuma Alba dan Casio. Mobil ya hanya Suzuki Karimun, motor bebek merek Kymco. Jadi, anak – anak itu tenang karena tak memikirkan soal harta. Malahan kita diwarisi tanggungjawab besar untuk Puro Pakualaman,” kata Bimo yang berbahasa ngoko kepada PA IX. Satu tanda pendidikan egalitarian, dalam keluarga Jawa apalagi bangsawan, berbicara dengan orangtua atau yang lebih tua harus memakai bahasa karma inggil ( tingkatan bahasa Jawa halus tertinggi ).

Saya butuh teman sebanyak – banyaknya, teman yang kritis, supaya saya tidak selalu merasa benar.

Bimo juga dikenal sebagai pecinta alam, panjat tebing, dan pernah terlibat saat pengambilan jenazah di sumur raksasa Jalatunda, Dieng, Jawa Tengah. Pemahaman soal mesin motor, komputer arloji, pisau, dan kamera sama luasnya dengan pengetahuan dia tentang seluk – beluk budaya dan kepemimpinan ala Puro Pakualam. Untuk yang terakhir ini, dia sudah menulis buku.

Ia merasa selama ini memperoleh daya kemandirian karena selalu dididik untuk selalu mengerjakan apa – apa tanpa bantuan orang profesional. “Kalau ad barang rusak, perbaiki sendiri, diutak – atik, akhirnya ketemu jalannya, pokoknya DIY (do it yourself ),” ujarnya.

Tak heran dia senang “nyusuh”, menyimpan barang apapun di rumah, karena dengan cara itu dia punya banyak persediaan untuk memperbaiki apa saja. Sekrup, benda kecil yang termasuk ditimbun, dia punya koleksi enam botol.

Menjadi adipati bagi Bimo lebih merupakan suatu sistem karena dia anak tertua.iaakan lebih banyak fokus pada kebudayaan. “Bukan mau mong soal budaya adiluhung begini begitu la wong kenyataannya Yogyakarta kota budaya, tetapi penuh dengan hotel yang tidak tertata tidak mencerminkan kota budaya,” katanya. Dia akan melakukan hal yang kecil tetapi konkret.

Setiap bangsawan selalu dibekali dengan pelajaran  kesenian di lingkungan keluarga maupun istananya. Bimo akan melakukan rekonstruksi seni tari, memperbaiki perpustakaan Puro Pakualam, merawat wayang, menghidupkan lagi seni membuat batik, kegiatan panahan tradisional, dan berbagai hal lain yang selama ini tidak banyak ditengok orang lain.

Selain mengarang buku kepemimpinan, satu hal konkret yang dilakukan Bimo bersama adiknya adalah membuat kereta kencana yang sekarang dalam tahap penyelesaian. “Kereta ini proyek pertama, tentu banyak kekurangan, tetapi lebih baik mulai dibuat daripada sekadar digagas. Ini sesuatu yang harus di Puro Pakualaman karena sesudah kemerdekaan tahun 1945, kan, tida ada lagi penambahan kereta,” kata Bimo.

Tidak semua orang atau kerabat Pakualaman sependapat soal suksesi. Bimo memaklumi betul hal itu, tetapi dia tetap terus berusaha menyapa dan merangkul. “Kepada semua orang saya sampaikan, saya ini tidak bisa ijen (sendirian), saya butuh teman sebanyak – banyaknya, teman yang kritis supaya saya tidak selalu merasa benar.”

SUMBER : KOMPAS, selasa 5 Januari 2016