Media Magic Mirror guna Disleksia. Jawapos. 25 Agustus 2016. Hal 23

Media Magic Mirror Guna Disleksia

Oleh Harum Kawaludin

 

BAGI Harum Kawaludin, anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah orang-orang istimewa. Pria 29 tahun ini banyak belajar kepada mereka. Yakni, tentang kesabaran dan rasa bersyukur. Karena itu, guru kelas V SDN Sawocangkring, Kecamatan Wonoayu, tersebut mendedikasikan diri untuk membantu para ABK mendapatkan pendidikan yang baik.

Sejak 2010 sampai 2013 Harum menjadi trainer (pelatih) di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Jatim untuk pendidikan khusus. Selama ini pula dia memfokuskan diri dalam mengembangkan pendidikan inklusi. Berbagai inovasi pun diciptakan. Khususnya untuk penyandang disleksia (gangguan membaca dan menulis pada anak) serta autis.

Salah satunya menciptakan media magic mirror. Yakni, meyode pencerminan diri yang digunakan untuk belajar menulis dan membaca anak anak disleksia. Dia membuat media tersebut menggunakan cermin dan papan tulis yang didesain seperti sebuah buku berukuran cukup besar. Sekilas mirip laptop.

Magic Mirror dibuat untuk membiasakan anak disleksia menulis huruf atau angka dengan benar. Sebab, selama ini banyak anak usia dini yang menulis dengan huruf atau angka terbalik. Contohnya, menulis huruf M dan W, angka 7 dan 5, serta lainnya. “Anak – anak disleksia ini sangat sulit membedakan huruf – huruf tertentu. Bahkan selalu terbalik.” ujarnya.

Karena itu, suami Endang Setyowati tersebut berupaya membuat inovasi untuk mempermudah anak disleksia dalam belajar menulis dan membaca. Ide tersebut berawal dari ketidkasengajaan. Ketika membuka lemari yang ada kacanya, dia tidak sengaja melihat angka terbalik dari cermin yang berasal dari kalender yang menempel di dinding. Dari situlah ide untuk membuat media magic mirror itu muncul. “Saya langsun saja iseng membuat media pencerminan diri. Ternyata bisa,” katanya.

Magic mirror tersebut langsung diterapkan pada siswa disleksia. Setelah diimplementasikan, ternyata membuahkan hasil yang bagus. Anak – anak yang mengalami gangguan penulisan terbalik bisa sembuh. Penyembuhannya sekitar satu hingga sembilan bulan. “Ini seperti terapi. Ketika anak – anak terbalik menulis huruf, mereka harus dibiasakan dengan penulisan yang benar,” jelasnya. (septinda ayu pramitasari/c15/dio)

 

Sumber : Jawapos 25 Agustus 2016 Hal 23