42 Jadi Dubes, 51 Jabat Menlu. Jawa Pos. 21 April 2014.Hal.21

Menyebut Kartini saat 2015 tidak bisa lepas dari Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi. Dia adalah Menlu perempua pertama dalam sejarah Indonesia. Retno bersedia meluangkan waktu untuk berbincang dengan Jawa Pos tentang pengalamannya di dunia diplomasi.

Bagaimana kesan menjadi Menlu perempuan pertama ?

Saya juga bingung jawabannya. We were trained at the same school. Jadi, ilmu yang kita pelajari adalah ilmu yang sama. Dengan ilmu itu, kita berkembang more or less ke arah yang sama. Jadi, saya tidak melihat ada perbedaan signifikan saat saya atau pendahulu menjadi menteri luar negeri.

Apakah profesi diplomat lebih terbuka daripada yang lain atau justru saat diskriminasi ?

Tidak ada hambatan. Saya beruntung hidup di lingkungan pekerjaan yang orang- orangnya open-minden. Mungkin karena kita terekspos dengan berbagai macam orang dan latar belakang. Dengan kondisi ini, saya kadang- kadang tidak sadar soal isu gender. Sebab, tidaka da dalam benak kami isu diskriminasi sepanjang perjalanan saya jadi diplomat.

Menjadi ujung tombak pelindung tenaga kerja perempuan, bagaimana menyikapinya ?

Lepas dari apakah itu perempuan atau tidak, saya memang punya passion besar terkait dengan masalah buruh margin. Sebab, saya pikir to serve the country artinya serve the people. Kebutuhan konstituen kami kan WNI ( Warga Negara Indonesia) di luar negeri. Itu bisa datang dari berbagai laar belakang. Apalagi, ada prioritas politik luar negeri kedua Indonesia, yakni melindungi WNI dan BHI ( badan hukum Indonesia) di luar Negeri.

Bagaimana menyikapi masalah terkait buruh migran ?

Kadang- kadang kita sering menyimplifikasi sesuatu : kalau masalah muncul, diplomasi kita salah. Seharusnya dirunut dari hulu ke hilir. Di mana letak salahnya dan apa sebabnya. Kalau hulu diperbaiki, indys Allah hilir bakal ikut. Karena itu, kami secara tegas melarang penyaluran TKI ke negara yang belum punya regulasi soal profesi yang berkaitan atau perjanjian bilateral yang melindungi buruh migran.

Apa hal yang paling membanggakan selama bekerja di Kemenlu?

Hmmm… pertanyaannya gampang, tapi susah jawabnya. Yang jelas,saya bangga dengan system diberi kepercayaan sebagai Menlu yang saya rasa cukup sulit. Pada usia 38 tahun sudah menjadi direktur, itu terobosan dari Pak Hadan Wirajuda. Itu adalah terobosan saat pejabat dinilai dari prestasi dan tidak ada istilah urut kacang. Usia 42 tahun saya sudah jadi duta besa dan 51 tahun ini saya jadi Menlu.

Di sisi lain, apa hal yang paling membuat hati miris ?

Ada dua peristiwa yang membuat saya menangis dan menangis. Pertama,  saat peristiwa MH17. Ada 12 WNI di pesawat tersebut dan beberapa dwiwarga negara. Berat rasanya sewaktu menyampaikan informasi jenazah kepada keluarga. Tapi, yang buat saya menangis adalah sewaktu saya diminta berpidato di pemakaman sebagai perwakilan Indonesia.

Kedua, saya hampir menangis saat berkunjung ke sekolah anak buruh migrant Indonesia di 1,5 jam dari Kota Kinabalu, Malaysia. Kami berkunjung karena anak- anak tidak bisa bersekolah lantaran tidak ada izin dari pemerintah. Anak- anak SD meminta tolong ke saya untuk bisa bersekolah lagi. Nggak usah jauh- jauh mikir gelar master atau doktor, mereka bersekolah SD saja nggak bisa.

Bagaimana melihat sosok Kartini sebagai inspirasi ?

Saya melihat Kartini ini sebagai inspirasi. Pada tahun itu, ada seorang perempuan berpikiran maju masalah women empowerment mengenai perlunya menjadi pintar. Itu terungkap dari surat dia ke temanny di Belanda. Kartini menjadi contoh perempuan untuk memberikan konstribusi sosial.

Mimpi punya Warteg

Menjadi pucuk pimpinan diplomasi Indonesia memang seperti pedang bermata dua. Meski dihujani apresiasi dan dukungan, Retno tidak bisa bohong sial pengorbanan yang harus dilakukan saat menjadi Menu. Baik untuk diri sendiri maupun keluarga.

Soal roda keluarga, Retno jelas tidak khawatir. Sang suami, Agus Marsudi mengenal Retno sejak kuliah dan tahu benar risiko mempunyai istri seorang diplomat. Dua putranta, Dyto Marsudi, 26, dan Bagas Marsudi, 21, dididik untuk mengerjakan sesuatu sendiri.

“Paling seminggu sekali harus janjiaan makan. Sudah kaya rapat aja. Jadi, harus buat janji untuk ketemu di titik tengah, setelah makan ya pisah lagi. Atau, kalau tidak, usahakan jogging pagi,” ungkap perempuan kelahiran Semarang tersebut.

Waktu memanjakan diripun diakui sudahtidak ada. Setiap hari Retno bisa ngantor dan keliling sampai tengah malam. Padahal, subuh hari berikutnya, dia sudah harus bertugas. “ Sabtu, Minggu tidak ad off . syukurlah, selama enam bulan ini sempat ke tempat spa sekali,”jelasnya.

Mugkin karena supersibukm Retni  punya impian di luar bayangan banyak orang. Dia berencana menjadi juragan warung tegal ( warteg) saat pensiun dari pekerjaan diplomat. Wategnya bukan sembarang warung. Dia tegas menginginkan warteg di daerah kos- kosan kuliah.

“Jadi, saya bayangin  bahwa cucu dengan pakai daster dan ngobrol sama anak- anak sekolah di warung tegal tersebut. Itu cita-cita saya sudah lama.”

Sumber : Jawa Pos, Selasa, 21 April 2015