Sumber: https://harian.disway.id/read/765133/60-mahasiswa-indonesia-singapura-bikin-oversized-outer-berkonsep-zero-waste/15
HARIAN DISWAY – Sebanyak 60 mahasiswa asal Indonesia dan Singapura yakni Universitas Airlangga, Petra Christian University (PCU), Universitas Ciputra, dan Ngee Ann Polytechnic Singapore memamerkan busana oversized outer berhias kain perca kreasi mereka sendiri.
Secara berpasang-pasang, mereka berlenggak-lenggok di selasar PCU. Aksi mereka itu digelar dalam acara bertajuk Creating Sustainable, Healthy Environment. Mereka mengenalkan produk fashion berkonsep zero waste kepada para peserta Joint Immersion Program 2024.
Dalam acara bertema Creating Sustainable, Healthy Environment, mereka bersinergi dan berpartisipasi aktif dalam merespons Sustainable Development Goals (SDG) yang digelar pada 18 Februari-2 Maret 2024.
Selama tiga hari, para peserta menyelami materi tentang Creative Waste Management di PCU. Lantas, di hari terakhir pada Rabu, 21 Februari 2024, mereka praktik secara langsung di bidang fesyen dengan tema Making Zero Waste Pattern Outer.
Yusita Kusumarini selaku Ketua Joint Immersion Program 2024 di PCU menyambut baik seluruh rangkaian acara. “Hari pertama, hanya pembekalan materi. Hari kedua, ada kunjungan ke perusahaan yang berkonsep eco product. Hari ketiga, kami learning by doing and by expressing,” jelas Yusita.
Praktik fesyen dipilih lantaran paling mudah dan paling dekat dengan generasi muda. Selama kurang lebih lima jam, para peserta menjahit oversized outer masing-masing. Workshop dipandu oleh Dosen Textile and Fashion Design (DFT) PCU Dibya Adipranata Hody.
Dengan perlengkapan seperti benang jahit dan beragam motif kain perca, oversized outer yang dikreasikan itu berkonsep zero waste. Tak ada bahan yang terbuang dari kain katun tersebut. Untuk mempercantik, setiap outer didasari sepotong lurik di bagian depan.
Dibya mengajak para peserta untuk membuat fabric yoyo. Yakni menyerut kain perca yang telah dipotong berbentuk lingkaran dengan sehelai benang. Alhasil, hiasan perca tersebut berbentuk seperti bunga.
Sisanya, para peserta tinggal menghias. Mereka berkreasi sesuka hati. Ada juga yang memanfaatkan helaian kain perca untuk membuat bandana dan obi. Jesselyn Honggoseputro tampak lihai menjahit fabric yoyo di outer-nya. Mahasiswa DFT itu pintar mix and match kain perca.
“Kalau kain perca ‘kan kita tidak bisa milih macam-macam, ya. Jadi, kita pilih warna-warna yang manis di mata saja,” kata Jesselyn. Dia menjahit fabric yoyo di bagian dada di outer dan mengenakan bandana dari kain perca.
Di sisi lain, Jerald Chan Keng Siong tekun menghias outer-nya. Mahasiswa Cybersecurity and Digital Forensics asal Ngee Ann Polytechnic Singapore itu menjahit sepotong kain perca berwarna biru dengan sembulan bunga teratai dari fabric yoyo.
Sebelumnya, dia tak pernah punya pengalaman ini di Singapura. “I think it’s very interesting and unique and meaningful for us,” kata Jerald.
Berbeda dengan Jerald, outer milik Dominic Lee Yu Yee dari jurusan dan kampus yang sama dengan Jerald terlihat sederhana. Sepotong kain perca di sebelah kanan dengan sebuah fabric yoyo di atasnya.
Sebab, dia tak pernah menjahit sebelumnya. Kendati demikian, Dominic belajar banyak dari workshop dan fashion show tersebut. “How the waste material can become quite nice and beautiful,” kata Dominic.
Setelah workshop menjahit, para peserta diminta untuk unjuk looks-nya dalam fashion show. Di atas karpet merah, mereka berlenggak-lenggok. Semua terlihat sangat antusias dengan kegiatan sustainable tersebut.
Melalui kegiatan sustainable PCU itu, para peserta diharapkan untuk lebih aware dengan kondisi sangat ini. Tentu setiap orang bisa menghasilkan limbah. Namun, semua orang juga bisa mengelola limbah tersebut.
Terlebih, dalam industri fesyen, terkenal istilahnya fast fashion. Zero waste fashion adalah upaya untuk mengatasinya. “I think zero waste really shows us as to how we can do a lot of things. We need to do and conserve the environment in a sustainable way,” pesan Dominic. (Annisa Dyah Novia Arianto)

