
Usia tak menghalangi Kemas Anwar Beck ( 74 ) untuk terus mencintai seni dan budaya Sumatera Selatan . Sepanjang karier seninya , Anwar sudah menciptakan 110 lagu daerah dan 20 tarian. Beberapa lagu bciptaannya menjadi lagu wajib daerah dan langganan lagu wajib sejumlah kompetisi menyanyi
OLEH SUSIE BERINDRA & RHAMA PURNA JATI
Seorang peserta perempuan me . nyanyikan lagu ” Naseb Kulo ” ciptaan Anwar di Festival Plem bang Nian , yang digelar di Mal Pa lembang Icon , akhir September 2017 . Dia mengenakan kebaya hitam yang dipadu dengan kain songket . Lagu yang dia nyanyikan itu menceritakan tentang kehidupan seseorang yang sengsara dan menderita.
Di barisan depan terdapat tispa juri yang menilai setiap penampilan peserta . Sementara itu , Anwar duduk di belakang juri sambil mengangguk- angguk tersenyum mendengar lagu ciptaannya dinyanyikan para peser
Selain lagu tersebut , ada beberapa lastu ciptaan Anwar yang dinyanyikan. para peserta . Selain ” Naseb Kulo ” , ada juga lagu ” Cek Ayu ” yang wajib dinyanyikan peserta festival . Tidak hanya sering dinyanyikan di ajang festival menyanyi , lagu ciptaan Anwar juga sering diyanyikan di acara – acara resmi pemerintahan daerah.
” Salah satunya di Kabupaten Em pat Lawang lagu ‘ Madak Cak Gidik wajib dinyanyikan , apalagi kalau ada Bupati Empat Lawang . Lagu itu men ceritakan tentang anak – anak yang da tang meramaikan rumah yang sedang berpesta , ” tutur Anwar .
Tak sekadar menciptakan lagu dan tari , ayah dari enam anak ini juga mendirikan Sanggar Kembang Dadar pada 17 Agustus 1975. Di sanggar ini dia menerima siapa saja yang ingin belajar menyanyi dan menari adat Palembang Saat itu , Anwar masih berstatus pegawai negeri sipil ( PNS ) yang bertugas di Kecamatan Seberang Ulu 1 , Palembang.
” Sebagian besar yang belajar me- nari dan menyanyi di sanggar anak – anak SD sampai SMA Ka dang – kadang ada mahasiswa yang sedang belajar atau membuat pene litian . Bukan hanya dari Palembang , tetapi juga dari Jakarta Yogyakarta , dan Semarang . Malah ada yang dari Malaysia dan Brunei , ” ujarnya.
Saat ini , selain sebagai tempat bela jar kesenian , sanggar yang dijalankan itu juga menerima permintaan upa cara adat Palembang Dalam seharihari menjalankan sangkar , Anwar dibantu anak ketiganya , Nyimas Nu ria Patila , yang membantu mencajari anak – anak sanggar menari .
Sanggar yang berada di kawasan menciptakan tarian Sambil membe Kecamatan Ilir Barat , Palembang , ini menyediakan berbagai pelayanan bi dang kesenian . Sebagian besar yang ditawarkan Anwar adalah melayani upacara adat pernikahan , seperti upa- cara lamaran adat daerah Sumatera Selatan , cacapun , suap – suapan , dan nyarak pengantin.
Kepekaan telinga
Sejak tahun 1950 – an , Anwar sudah mulai bernyanyi . Meski tak mendapat restu dari orangtua , Anwar sering keluar rumah lewat jendela untuk punggung . Setelah sering menyanyi lagu – lagu daerah Palembang , dia mencoba untuk mencipta lagu sen- diri . ” Awalnya , saya aktif center internet hat , lalu tahun 1971 pindah ke Pa lembung ” katanya.
Sebagai seniman , aneh rasanya apabila tidak bisa membaca not lagu atau bermain alat musik . Tetapi , itu lah yang dialami Anwar . ” Kepekaan telinga bwelah , ” ucapnya ditanya bagaimana bisa mencipta lagu .
” Biasanya dapat inspirasinya kalau sedang duduk – duduk lalu melihat ba – tiba bisa bersenandung , lalu nanti gerakan tari , sesekali dia menggerakkan tubuhnya Anwar juga membayangkan kostum tarian , sang gul penari , sampai bagaimana formasi Paling para penarinya .
Beberapa tarian yang dia lain ngocek rokok pucuk , tari senik , tari manik – manik emas , dan tari nge program long
” Enggak baca apo – apo , ndak pacak main alat musik , main gitar heyboard juga ndak pacak . Kalau dulu pernah ikut main orkes , bisanya rakas dan tamborin . Biasanya , kalau sudah jadi lagu , saya kasih ke pemain musik , lalu kami cocokkan iramanya , ” tutur Anwar yang mengidolakan penyanyi Titiek Puspa ini .
Usia yang semakin bertambah tak menyurutkan langkah Anwar untuk tetap berkarya di bidang kesenian Dia terus menciptakan lagu dan ta rian . Lagu terbaru yang dia ciptakan adalah ” Sekanak Kerehin ” yang be lum pernah ditampilkan di depan publik . ” Sekarang sedang menyesuai kan dengan irama musiknya . ” ujar pria kelahiran Talang Padang Empat k lagunya , ” kata Anwar nebegitu pula yang dia lakukan saat pegang ma para wa acara ) malah sungkan minta ke Lawang , Sumatera Selatan , Ini .
Memilih seniman
Di tengah perjalanan pengabdian nya kepada negara sebagai PNS , An war tetap menulih untuk melestari kan kebudayaan dan kesenian Sumatera Selatan . Tempat penugasan nya pun berpindah – pindah , dari pegawai kelurahan , kecamatan , sampa menjadi stal di Asisten 2 Pemerintah Kota Palembang , Beberapa kali An . satu jabatan , tetapi lebih banyak dis tolak Hanya satu kali dia pernah menjadi Lurah Kembang Manis , Pa lembang Selebihnya , Anwar lebih mesaya menjadi PNS bukan until karang lebih banyak dikenal.
“Saya menjadi PNS bukan untuk mencari jabatan, karena seni lebih penting daripada menjadi pejabat . Malah , se budayawan , ” kata Anwar yang selalu setia menggunakan sepeda motor un tuk bepergian .
Dia pun merasa pilihannya sebagai seniman lebih tepat karena bisa me ngenal dan dikenal banyak orang ” Kalau menjadi pejabat juga malatı butuhkanak , pasti nanti kalau mem yang upacara adat atau menjadi MC ( pem bawa saya , ” ucap Anwar.
Selain sibuk dengan berbagai ke giatan di bidang seni bu laya , Anwar jugn kerap mengisi acara di televisi Paling tidak , dalarn dua bulan sekali dia alcan mengisi acara kesenian . Se lain itu , secara rutin , Anwar mengisi program Serius Bahasa Palembang di RRI Palembang . Setiap pagi . pukul 03.00 , Anwar membawakan acara ter sebut untuk mengajarkan masyarakat yang ingin belajar bahasa Palembang.
Sumber: Kompas. 8 November 2017. Hal. 16
