
Dalam rangka menyambut HUT Surabaya ke 727 bulan Mei ini, UC Library hadir kembali dalam kegiatan “iTalk” (Innovation Talk) yang pertama kali diadakan secara daring dan berlangsung pada Selasa (19/5) lalu. Acara yang dimoderatori oleh Ibu Inggrita F. Putri, S.I.Kom. (Staff Perpustakaan Universitas Ciputra Surabaya) ini mengambil tema “Surabayaku: Dulu, Sekarang dan Selamanya” serta menunjuk Pak Dhahana Adi Pungkas (Penulis buku ‘Surabaya Punya Cerita’ dan Pegiat Communal Branding ‘Sobo nDolly’) yang akrab dipanggil Mass Ipung dan Pak Chrisyandi Tri Kartika (Pustakawan Universitas Ciputra dan Ketua Komunitas ‘Pernak-pernik Surabaya Lama’) sebagai narasumbernya.
Acara yang dimulai Pkl. 10.00 WIB via Zoom Conference ini dibagi dalam 2 sesi dan sesi pertama dipimpin oleh pak Chrisyandi Tri Kartika yang membawakan tema “Mengenal Surabaya Dulu dan Sekarang di masa Pandemi Covid19”. Dalam sesi ini dipaparkan mengenai tentang Kota Surabaya sebelum dan sesudah adanya pandemic Covid-19. Bapak Chrisyandi menjelaskan tentang tanah surabaya yang mana dulunya berasal dari endapan lumpur dari letusan Gunung Kelud dan longsoran tebing dari beberapa gunung di sekitar Sungai Brantas yang bermuara di Surabaya. Dijelaskan pula bahwa dataran tinggi kebanyakan di daerah Surabaya Barat dan nama jalan di daerah Surabaya Barat biasanya memakai nama seperti bunga, tanaman, atau tumbuhan. Untuk daerah dengan area endapan cenderung memakai nama kali atau tambak serta pulau.
Pada i’Talk yang dihadiri 54 peserta ini narasumber berfokus blusukan di area Kembang Kuning. “Kita tidak tahu Kembang Kuning apakah hanya ada Makam Kristenkah atau makam apa? Sebetulnya terdapat 5 Makam di area Kembang Kuning yaitu Makam Tionghoa, Makam Yahudi, Makam Jepang, Makam Kristen Kembang Kuning, Makam Belanda, dan Makam Islam. Sekarang di makam-makam ini terdapat beberapa PKL yang bersih dan saat pada malam hari, di area makam sudah tidak seperti dahulu yang disebut zona merah yang ketika zaman Dolly masih menjadi protisusi terbesar se Asia Tenggara banyak jasa-jasa yang menyediakan kesenangan lelaki. Perbedaan yang sangat kelihatan sebelum dan setelah adanya Covid-19 pada Makam area di depan agak jauh dari makam warga jepang, kalau di masa-masa sebelum Covid, kalau foto banyak becak, ada sepeda motor, ada yang adu merpati atau kegiatan lainnya.” Ujar Chrisyandi.
Tiba giliran Mas Ipung yang unjuk gigi mensharringkan pengalamannya di sesi berikutnya. Mengangkat tema “Merajut Asa di Bekas Lokalisasi”, Mas Ipung menjelaskan tentang ‘Sobo nDolly’ yang merupakan komunal branding yang berfokus pada kegiatan social-preneur. Terbentuknya Sobo nDolly ini sendiri karena adanya penutupan protisusi Dolly, yang mengakibatkan kehilangan mata pencarian warga sekitarnya. Anggota ‘Sobo Ndolly’ sendiri terdiri dari berbagai praktisi pendamping dan fasilator UMKM, fotografer, profesional guide, intepreter, penulis dan tentunya warga Putat Jaya – Dolly sendiri yang menjalankan UMKMnya.
Komunal branding ini memiliki 3 Misi yaitu Berdaya, Bersinergi dan Perkasa untuk warga Putat Jaya – Dolly. Banyak UMKM yang sudah dihasilkan oleh Sobo nDolly ini, contohnya UMKM Puja yang memiliki produk awal berupa telur asin yang tidak mampu bersaing secara harga karena tidak memiliki peternakan bebek sendiri, kemudian setelah mengikuti pembinaan akhirnya merubah produknya menjadi produk olahan telur asin yang memiliki omzet minimal Rp. 15.000.000,- per bulan. “Kita bukan komunitas yang bergiatan, tapi kita berusaha agar masyarakat tumbuh percaya dirinya dalam bidang ekonomi.” ujar Mas Ipung.

