Satu unit greenhouse seluas 530 m2 itu menghasilkan total 1,3 ton sayuran daun setiap bulan. Nun di Purwokerto, kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, kebun Healthy Fresh itu memiliki 13.ooo lubang tanam. Selan sayuran daun, herba turut menjadi komoditas utama. Manajer Produksi Healthy Fresh Farm, Hardina Bbrilliani Usman, Mengatakan, siomak Lactuca sativa komoditas dengan pemerintah tertinggi.

“Hampir 80% untuk konsumsi masakan Tionkok,” kata Hardina. Penjualan dalam kemasan paling kecil 200 gram. Harga sayuran oriental seperti kangkung, caisim, dan pakcoi Rp7.000 per kemasan. Sayuran western seperti baragam selada dibandero Rp8.000 per kemasan. Kebun dengan sistem hidroponik rakit apung iitu panen setiap pekan. Potensi ozet Healthy Fresh Farm sdikitnya Rp45,5 juta sebulan.

Pasar Dulu

Hardina menyebutkan, “Ada beberapa jenis yang dominan. Siomak paling tinggi peminat.” Meski demikian, alumnus jurusan Biologi Universitas Negeri Semarang itumenuturkan, ketigabelas komoditas itu punya pasar tersendiri. Sejak awal Healthy Fresh Farm membuat analisa pasar. Tak heran bla panen perdana langsung kerap habis. Hardina dan tim juga menyusun pola tanam agar bisa panen berkala.

Pemilik Healthy Fresh farm, Heri Sutikno dan Lasmina, membuka kebun hidroponik itu pada Januari 2020. Pasangan suami-istri itu tak menyangka respons pasar tetap bagus meski terjadi pandemi. “Awalnya sempat pesimis, pas buka malah korona, tapi ternyata alhamdulillah malah bagus.” Kaya Laksmina.

Semula kebun yang berlokasi dekat wisata Baturaden itu hanya memasok pasar swalayan di Purwokerto. Tak lama berselang, banyak konsumen mendatangi kebun dan memesan sayuran. Sekitar 60% hasil panen justru terserap oleh mereka yang datang ke kebun. Healthy Fresh Farm juga memasok ke kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal. Namun tak lama Heri menghentikan sementara sebab permintaan di Purwokerto  saja cukup tinggi.

Heri memperkirakan produksinya saat ini baru memenuhi sekitar 60% permintaan. “Masih ada pangsa pasar jika ada perluasan 5.000 lubang tanam lagi,” kata Heri. Biaya awal rumah tanam mencapai Rp450 juta. Heri dan Lasmina memperkirakan titik impas seharusnya tak sampau setahun. Namun “Meningkatnya pandemi tidak bisa langsung maksiml,” kata Lasmina.

Tambah Greenhouse

Pekebu di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Reynald Soebiantoro, turut menuai berkah saat pandemi. “Pada awl Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pemintaan menggila. Mugkin orang-orang sedag panic-buying.” Kata pemilik Soebi Farm itu. Reynaldi menyebutkan permintaan meningkat empat kali lipat.

Alumnus jurusan Teknik Industri Universitas Kristen Maranatha Bandung itu memasok sekitar 30 retail di Jakarta. Pengiriman setiap dua hari dengan toko yang berbeda-beda. “Satu toko bisa memesan 1.000 kemasan sayuran sedangkan sebelum pandemi hanya 100 kemasan,” kata laki-laki berusia 26 tahun itu. Satu kemasan beridi 250 gram. Mereka biasanya memesan lagi saat stock habis.

Pada pertengahan 2020, permintan berangsur turu. Satu toko hanya memesan sekitar 50  kemasan. Tak surut, Reynaldi justru menambah rumah tanam menjadi 6 unit. Semula hanya 4 unit. Luas masing-masing  2.000-2.500 m2. Itu bukan keputusan tanpa pertimbangan matang. Musababnya ia mulai menargetkan pasar di kota Bandung dan sekitarnya.

Soebi Farm menggunakan sistem deep flow technique untuk sayuran daun dan sistem substrat untuk sayuran buah. Dua rumah tanam menaungi sayuran daun berjenis oriental dan western. Total terdapat 15 sayuran daun. Bayam paling banyak pesanan. Reynaldi menuturkan pesanan bayam sempat mencapai 150 kg untuk sekali kirim pada Maret 2020.

Sebanyak 4 rumah tanamkhusus untuk sayuran buah seperti tomat, mentimun, terung, dan zukini. Permintaan paling banyak yakni tomat beef berkisar 50 kg hingga satu ton  setiap kirim. Menurut Reynaldi pesanan tomat cukup tinggi saat off season. Selajutnya ia juga memperbanyak sayuran eksotis seperti zukuni kuning, terung hitam, dan mentimun mini.

Kompak dengan Reynaldi Soebiantoro, Charlie Tjendapati juga berencana meningkatkan kapasitas produksi pada awal 2021. Pemilik Serua Farm di kecamatan Bojongsari, kota Depok, Jawa Barat, itu turut menambah komoditas sayuran western seperti selada. Charlie mengatakan, “Ceruk pasar sayuran hidroponik masih terbentang luas. Bayangkan 100.000 warga Jakarta makan saur 100 gram setiap hari dengan berbagau macam sayur.”

Berdasarkan gambaran itu, ia menghitung kebutuhan sayuran warga Jakarta setidaknya sepuluh ton sehari. Itu belum memperhitungkan peningkatan jumlah konsumen. Populasi penduduk kian meningkat. Makin banyak masyarakat yang sadar pentingnya konsumsi makanan sehat seperti sayuran. Darimana memperoleh sayuran sebanyak itu?

Menurut Charlie, pekeun beru memang banyak bermunculan. Namun itu belum mampu memenuhi kebutuhan. Terlebih ada banyak variabel produksi sayuran yang sulit ditangani seperti cuaca dan sumber daya manusia. Wajar bila Charlie manambah kapasitas produksi dan terus menambah kebun mitra. (Sinta Herian Pawestri/ Peliput: Muhamad Fajar Ramadhan)

Sumber: Trubus, Februari 2021