Pustakawan sekaligus pemerhati sejarah Universitas Ciputra (UC) Surabaya Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, para pejuang terdahulu kemungkinan juga melewati kawasan Pesapen untuk menuju ke medan pertempuran. “Pertempuran ada di banyak tempat, kemungkinan Jalan Pesapen hanya sebagai jalur lewat laskar saja,” kata Chrisyandi kepada Radar Surabaya.

Pihaknya juga mengatakan, kalau pertempuran zaman dulu terjadi tidak hanya pada satu titik. Akan tetapi terjadi di banyak titik, seperti halnya di Jala Pahlawan, Jembatan Merah, Jalan Tunjungan dan lain sebagainya.

Lebih jelasnya lagi soal Jalan Pesapen, Chrisyandi tidak terlalu tahu secara detail lantaran literatur soal jalan tersebut juga tidak terlalu banyak seperti kawasan lain di kota Surabaya.

“Mungkin selain jalur pertempuran ya digunakan sebagai jalur perdagangan itu, mengantarkan barang dari Kalimas diantarkan ke arah Krembangan dan sekitarnya,” jelas Chrisyandi.

Pada masa pertempuran perebutan kemerdekaan di Surabaya, jalan-jalan penghubung menuju titik-titik pertempuran seperti Jalan Pahlawan, Jembatan Merah, dan Jalan Tunjung an memang dipilih para pejuang menuju titik pertempuran. Jalan-jalan utama memang dihindari para pejuang untuk mencegah penjajah menghalangi mereka dan mengetahui jumlah kekuatan mereka.

“Itu mengapa jalan-jalan penghu bung di sekitar titik pertempuran memiliki peran penting saat masa masa pertempuran melawan penja jah” pungkasnya. (bersambung/nur)

 

Sumber: Radar Surabaya. 17 Juli 2021. Hal. 2