TAMAN Bungkul memiliki cerita panjang dan pengaruh terhadap perkembangan Kota Pahlawan. Di dalam buku berjudul Er Werd Eenstad Geboren tertulis bahwa taman ini merupakan kawasan yang disakralkan pada zaman dulu.

Pustakawan sekaligus pemerhati sejarah Universitas Ciputra (UC) Surabaya Chrisyandi Tri Kartika menjelaskan, dari buku karya budaya- wan sekaligus sejarahwan Belanda keturunan Jerman, GH von Faber tersebut tertulis sejak tahun 1270 Pesarean Bungkul memang menjadi pemakaman kuno dan tempat upacara. Di belakangnya terdapat langar (musala) di sebelah kanan gerbag kedua ada tiga tong air dan rak dengan gendih di bawah Pohon Tanjung.

Di tempat ini juga ada beberapa makam menonjol, di antaranya batu nisan dengan kain katun putih. Selain itu, ada juga Pesarean Boengkoel yang dipayungi pepohonan rimbun serta di sampingnya banyak makam-makam mulai dari yang tua hingga muda.

“Buku itu juga menjelaskan soal nama tokoh yang dimakamkan di sana,” ujarnya. Beberapa pemakaman terdapat nama Bah Bungkoel yang kemungkinan adalah Mpu dari Kerajaan Majapahit, Njai Ageng Bungkoel adalah istri dari Bah Bungkoel. Selain itu ada pula makam Temenggoeng Tjang Rono, Seda Rono en, Aboe Serah.

“Bukan itu saja, ada juga makam Tjanggah Bogopati, Boepati Djanggoet, Kjai Soedin dan Kjai Kardi yang dinobatkan sebagai juru kunci makam Bungkul terakhir,” sebut Chrisyandi. (gin/nur)

 

Sumber: Radar Surabaya. 9 Oktober 2021. Hal. 6.