Pintu Rezeki bagi Pengungsi. Kompas. 22 Desember 2016.Hal.16

Awalnya, Herlina Triesnayati (32) adalah seorang relawan kesehatan bagi para korban tragedi sambas, Kalimantan Barat, yang mengungsi di Bangkalan, Madura, Jawa Timur. Saat bantuan untuk pengungsi kian menipis, ia memberdayakan mereka dengan keterampilan memproduksi kerajinan tas dari tali agal. Kini pintu rezeki pun lebih terbuka bagi masyarakat.

OLEH IQBAL BASYARI

Herlina sibuk mengecek tas dari tali agal buatan warga Dusun Pangloros, Desa Kelbung, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangklan, Jawa Timur, Selasa (13/12). Tali agal berasal dari tangkai daun pohon gabang, sejenis pohon palem berbatang tungal setinggi 15-20 sentimeter. Di Bangkalan, pohon itu hanya tumbuh di wilayah perbukitan dekat pantai.

Perempuan itu mengembil sejumlah produk secara acak dari puluhan tas yang sudah diselesaikan para perajin. Ia lantas mengamati tas itu dan menilai kualitasnya.

“Tas ini tidak bisa dikirim karena rujatannya tidak simetris. Tolong dikembalikan lagi kepada pembuatnya untuk dibongkar ulang,” kata Herlina kepada Hamidah (41), salah seorang ketua kelompok perajin tali agal binaannya.

Herlina dan para perajin-yang semuanya korban konflik Sambas, Kalimantan Barat, pada 1999-sedang mengejar target pembuatan tas. Maklum mereka mendapat pesanan 1.400 dari Jepang yang mesti dikirim akhir Januari 2017.

Keseragaman kualitas perlu diperhatikan para perajin agar produk yang mereka buat bisa diterima pasar dan pada akhirnya menghasilkan uang. Ia teringat pengalaman pada 2008 ketika pertama kali mengirim tas tali agal ke Jepang, sebanyak 80% dari 500 tas dari tali agal yang dikirim sempat dikomplain pembeli karena kualitasnya tidak sama.

Herlina tidak ingin kejadian yang serupa terulang. Karena itu, sebulan sekali ia dating kepada perajin untuk memeriksa tas yang telah jadi. Jika ada kekurangan pada produk itu, segera bisa dideteksi dan diperbaiki agar tidak mengecewakan pembeli di kemudian hari.

Menjadi relawan

            Herlina bukan warga setempat. Dia tinggal di Bangkalan, sekitar 60 kilometer dari Dusun Pangloros. Pertemuannya dengan para pengungsi kerusuhan Sambas berawal saat dirinya menjadi relawan kesehatan dari yayasan Sumbangsih Nuansa Madura.

Sejak lulus kuliah pada 2006, dia tidak langsung bekerja meskipun ditawari pekerjaan sebagai perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Bangkalan. Ia memilih mengabdikan dirinya menjadi relawan untuk pengungsi korban kerusuhan berlatar etnis

Selama setahun memberikan penyuluhan kesehatan, dia melihat para perempuan desa tidak produktif meski memiliki banyak waktu luang. Mereka hanya menghabiskan waktu dengan mengobrol sambil menjaga anak ataupun cucu di teras rumah. Saat itu, bantuan hidup dari pemerintah dan relawan masih mengalir kepada warga sehingga mereka tidak perlu bersusah payah bekerja.

“Suatu saat, bantuan pasti akan berhenti. Para pengungsi harus menghidupi keluarganya dari uangnya sendiri,” ujarnya.

Melihat kemungkinan tersebut, Herlina memberikan pelatihan keterampilan bagi warga desa. Sasarannya adalah para wanita karena laki-laki pada umumnya memilih bekerja manjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) karena sudah tidak lagi memiliki ladang untuk bercocok tanam seperti saat masih di Sambas dulu.

HERLINA TRIESNAYATI

  • Lahir: Bangkalan, 20 November 1984
  • Suami: Nanang Muldianto (40)
  • Anak: Dea Navalina A (7)
  • Pendidikan:
  • SDN 2 Pejagan, Bangkalan
  • SMPN 2 Bangkalan
  • SMAN 2 Bangkalan
  • Akademi Keperawatan Nazhatut Thullab Sampang
  • Pekerjaan dan Kegiatan
  • Relawan kesehatan Yayasan Sumbangsih Nuansa Madura (2006-2007)
  • Pendamping perajin tali agal pengungsi tali agal pengungsi Sambas di Bangkalan (2006-sekarang)
  • Penghargaan
  • Wirausaha Muda Mandiri (2013)
  • Wirausaha Muda Berprestasi Kementrian Pemuda dan Olahraga (2014)
  • Perempuan Inspiratif NOVA (2016)

Pada awalnya dia ingin memberikan pelatihan membuat kue. Namun, jarak yang begitu jauh dari kota membuat pemasaran kue sulit dilakukan. Padalah, kue memiliki batas kadaluarsa sehingga harus segera laku agar tidak merugi.

Pilihan akhirnya jatuh pada kerajinan tali agal kerajinan tersebut dipilih karena pada 2001 ada sejumlah warga yang pernah mendapatkan pelatihan kerajinan tersebut di Surabaya. Namun, keterampilan yang dimiliki warga tidak berkembang karena kesulitan mendapatkan pasar dan kualitas produknya masih di bawah tuntutan pasar.

“Bahan baku tali agal juga mudah didapatkan karena ada perajinnya di Desa Dupok, di sebelah Desa Kelbung. Harganya juga terjangkau sekitar Rp 45.000 per kilogram,” kata Herlina

Selama setahun, keterampilan membuat kerajinan berupa tas, dompet, dan tempat tisu diberikan kepada warga. Warga pernah trauma saat harus keluar desa untuk mendapatkan pelatihan keterampilan. Para suami tidak mengizinkan istrinya keluar dengan orang yang belum dikenal.

Ia mengemukakan, “Mungkin karena saya warga asli Madura, mereka lebih percaya. Dari awalnya hanya 10 perajin, sekarang berkembang menjadi 100 perajin. Mereka saling bertukar ilmu kepada perajin baru.”

Pada 2007, ketika seluruh relawan meninggalkan para pengungsi, Herlina masih setia mendampingi penduduk untuk melanjutkan kerajinan tali agal. Dia berusaha mencari pembeli dari dalam dan luar negeri agar para pengungsi tetap mendapatkan pemasukan. Saat ini, kerajinan seharga Rp 50.000 hingga Rp 200.000 itu dipasarkan disejumlah wilayah, antara lain Bangkalan, Surabaya, Jakarta, hingga Amerika Serikat dan Jepang.

Kelompok

            Untuk mengerjakan pemesanan, Herlina membagi para perajin ke dalam enam kelompok dengan masing-masing beranggotakan 15 orang. Perajin tinggal mengerjakan produk, sementara alat, bahan, dan pemasaran disediakan Herlina.

Sudah dua kali perempuan itu merombak kelompok binaannya. Dulu, upah bagi perajin diberikan kepada ketua kelompok saat pekerjaan sudah selesai. Upah tersebut dibagi rata kepada setiap anggota yang tertulis di daftar kelompoknya. “Seiring perjalanan, ada perajin yang tidak bekerja karena pindah menjadi TKI, tetapi tetap mendapatkan upah, itu menimbulkan kecemburuan,” katanya.

Akhirnya upah diberikan langsung kepada perajin sesuai barang yang dihasilkan. Untuk satu buah tas, perajin mendapatkan upah Rp 25.000. Rata-rata dalam sebulan, satu perajin bisa menyelesaikan 30 tas.

Untuk meningkatkan kualitas produk, Herlina selalu mengajarkan motif baru setiap kali berkunjung. Perajin masih belum mengenal teknologi sehingga sulit mengembangkan produk sendiri. Sinyal internet pun sulit didapat sehingga sulit mengeksplorasi model kerajinan tangan dari dunia maya.

Hal itu membuat warga masih bergantung kepada Herlina untuk mengembangkan produknya. Bahkan mereka masih belum bisa mendapatkan pasar sendiri. Mereka masih bergantung pada pesanan yang didapatkan Herlina. ”Untuk menentukan harga jual saja, perajin belum bisa,” ujarnya.

Herlina berharap semakin banyak pihak yang membantu memberikan pelatihan dan mengembangkan produk kerajinan tali agal karya para pengungsi. “Harapan terbesar saya, para pengungsi bisa mandiri dalam produksi, promosi, dan penjualan kerajinan tali agal sendiri,” ujarnya.

Sumber: Kompas, 22 Desember 2016 Hal 16