Klik berita : 

https://www.harianbhirawa.co.id/peduli-lingkungan-dan-budaya-uc-resmikan-cos-design/

Surabaya, Bhirawa
Universitas Ciputra (UC) Surabaya resmikan Center for Sustainable Design (CoS). Program ini akan menjadi pusat pengembangan desain, kajian, penelitian, ilmu pengetahuan, kebijakan, pengabdian kepada masyarakat (Abdimas) dan praktik manajemen keberlanjutan dibawah naungan Fakultas Industri Kreatif. CoS berorientasi pada etika, tanggung jawab sosial dan lingkungan untuk pembangunan Indonesia yang lebih maju dan berkelanjutan.

Koordinator CoS, Yoanita Kartika Sari Tahalele, B.A., M.A menjelaskan center ini awalnya berdiri dari program Matching Fund Kedaireka dari Kemendikbudristek, dan memiliki misi utama untuk merangkul seluruh civitas akademika, pemerintah, industri, praktisi dan masyarakat untuk bersama mengembangkan ekosistem sustainability.

“Program-program yang CoS laksanakan terintegrasi melalui pengajaran, penelitian, pengabdian masyarakat, inovasi dan kebijakan publik untuk menciptakan solusi yang berdampak nyata dalam pembangunan berkelanjutan.” terang Yoanita, Selasa (3/10).

Peresmian CoS, lanjut Yoanita, juga sekaligus re-launching Centre for Creative Heritage Studies (CCHS), yakni merupakan pusat kajian warisan budaya yang membahas isu-isu strategis terkait keanekaragaman budaya, identitas, komodifikasi budaya, dan upaya bersama menciptakan warisan budaya berkelanjutan dengan pendekatan kewirausahaan agar dapat memberikan dampak positif terhadap kebudayaan, masyarakat dan penguatan jati diri bangsa Indonesia.

Yuanita menjelaskan re-launching ini mengusung konsep baru yaitu ‘GLeAM’ (Gallery, Library, education, Archive and Museum) bersamaan dengan pendirian Interpretation Centre for Creativity and Innovation (ICCI) di lantai 19 UC Tower.

ICCI merupakan wadah untuk menginterpretasikan makna dan significance warisan budaya melalui berbagai media dan metode kreatif lainnya.

Di tahun pertama, CoS dan CCHS berkolaborasi dengan Museum Gubug Wayang dalam acara ini menampilkan 12 wayang kardus purwa versi Jawa Tengah yang terbuat dari bahan dasar sak semen bekas.

“Pembuatan Wayang dari sak semen merupakan suatu upaya untuk mengurangi sampah sak semen dan memanfaatkan nya menjadi wayang tanpa mengorbankan nilai-nilai budaya dari wayang,” papar Yoanita.

Diharapkan, dengan adanya CoS, seluruh civitas akademik, industri, pemerintah dan masyarakat sadar akan pentingnya pengelolaan dan pengolahan sampah yang baik.

“Sehingga dapat menciptakan masyarakat yang lebih baik dan ramah lingkungan. Dan salah satu pengelolaan sampah yang baik adalah dengan melalui pemanfaatan sampah menjadi produk-produk yang mempunyai nilai estetik desain, budaya dan komersial,” pungkasnya.

Salah satu program dari CoS adalah pengelolaan, pengolahan sampah dan limbah padat hasil/sisa produksi. Dalam menghasilkan karya ini, CoS m telah bekerjasama dengan banyak industri, dari industri kulit, garmen hingga plastik, dalam mengolah limbah industri menjadi produk-produk yang memiliki nilai desain, estetika dan komersial yang tinggi.

“Pembuatan Wayang dari sak semen merupakan suatu upaya untuk mengurangi sampah sak semen dan memanfaatkan nya menjadi wayang tanpa mengorbankan nilai-nilai budaya dari wayang,” papar Yoanita. Dengan adanya CoS, tamnah Yoanita, pihaknya ingin mengajak seluruh civitas akademik, industri, pemerintah dan masyarakat sadar akan pentingnya pengelolaan dan pengolahan sampah yang baik sehingga dapat menciptakan masyarakat yang lebih baik dan ramah lingkungan. Dan salah satu pengelolaan sampah yang baik adalah dengan melalui pemanfaatan sampah menjadi produk-produk yang mempunyai nilai estetik desain, budaya dan komersial.

Sementata itu, Penasihat Museum Gubug Wayang Kota Mojokerto, Tri Suhartanto menyambut baik adanya kolaborasi ini. Sebab, kolaborasi tidak hanya menghasilkan 12 wayang sebagai bagian dari melestarikan budaya, melainkan memanfaatkan limbah atau sampah sak semen bekas untuk diolah sebagai bahan dasar pembuatan wayang pengganti bahan kulit.

Apalagi, kualitas sak semen justru lebih bagus dibandingkan berbahan kulit, karena waterprof. Bukan sekedar sak semen biasa, sak yang digunakan harus bermerek sak semen gresik karena memiliki kekuatan kertas dibanding kertas sak semen lainnya.

“Kalau kulit butuh perawatan khusus dan harus ramah lingkungan. Tentunya dengan adanya wayang berbahan sak semen kita bisa memajukan budaya melalui limbah atau kertas semen yang tidak terpakai,” jelasnya. [ina.why]