Sabtu (9/5) sekitar pukul 09.00, Ipatmie (51) tiba di hotel batu suli, palangkaraya, diantar Dereksen Demen (61), suaminya, menggunakan sepeda motor. Ada tiga plastic besar berisi peralatan memasak dan bahan membuat aneka kue. Di pendopo hotel, telah menunggu 20 ibu peserta pelatihan pengelolaan produk berbasis hasil pertanian yang digelar dinas perindustrian dan perdagangan provinsi Kalimantan tengah.
Ipatmie, pemilik industry rumah tangga “griya jawau melin” dipercaya melatih peseerta sesame pelaku usaha industri rumah tangga yang berasal dari 13 kabupaten/1 kota di Kalimantan tengah untuk member pelatihan membuat aneka kue menggunakan tepung mocaf (modified cassava flour), yaitu tepung yang diolah dari singkong. Saat itu, Ipatmie melatih membuat brownies. “jawau dalam bahasa dayak artinya singkong dan melin adalah anak saya” kata Ipatmie menjelaskan arti nama industry rumah tangganya. Kedekatan dan keterampilannya mengolah singkong menjadi bahan makanan didapat Ipatmie sejak kecil. Perempuan kelahiran desa bereng rambang, kabupaten pulang pisau, 3 september 1964, dan dibesarkan di kelurahan panjehang, kecamatan rakumpit,palangkaraya, belajar dari ibunya, uni mahar. Sang ibu, selalu membuatkan beras singkong atau oleh masyarakat dayak dikenal beras kupu saat musim kemarau berkepanjangan. Saat kemarau,air sungai surut san kapal pembawa sembako tidak dapat menjangkau desanya. Beras kupu dibuat dengan mengolah singkong. Setelah dikupas dan dicuci, singkong direndam dalam baik sekitar 3 hari. Setelah lembut, hasil rendaman itu disebut kupu. “rendaman itu disaring untuk diambil patinya. Lalu digiling dan di sangria, kemudian dijemur” kata Ipatmie sambil menunjukkan beras kupu dalam kemasan 700 gram yang dijual 15000. Untuk memasaknya,lanjut Ipatmie, beras kupu dicuci bersih dan direndam dalam sekitar 5 menit. Setelah itu ditiriskan dan diangin anginkan sekitar 15 menit. “kemudian, beras kupu dikukus dengan diberi sedikit garam untuk menambah rasa. Beras ini baik untuk penderita diabetes karena rendah gula” papar Ipatmie. Dari pengalaman dan juga pelatihan pembuatan tepung mocaf memang rumit. Setelah singkong dikupas dan diserut,lalu dicuci, dan diperas. Patinya dipisah ampasnya untuk dijadikan tepung mocaf setelah direndam satu malam” katanya. Ipatmie mengawali usaha catering danpembuatan kue kue berbasis olahan singkong sejak 2001, saat dirinya menjadi ketua kelompok usaha peningkatan pendapatan keluarga sejahtera (UPPKS) lestari. Kelompok usaha beranggota lima orang itu, memanfaatkan tempat tinggalnya yang lama dijalan lumba lumba, palangkaraya. Setelah pindah rumah ke jalan sapan pada 2010, usahanya tetap berlanjut dan dibantu anak dan saudaranya. Baik bersama UPPKS lestari, kelompok pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK), maupun secara personal, Ipatmie berulang kali juara dalam lomba memasak masakan tradisional berbasis tanaman local dari tingkat kota palangkaraya, provinsi Kalimantan tengah,hingga nasional. Pada 2013, misalnya, Ipatmie meraih juara 2 dalam parade pangan nusantara di malang,jatim. Saat itu jenis makanan yang dilombakan adalah masakan serba jagung dan singkong. Usaha dan keuletan Ipatmie semakin dikenal orang dan juga mendapatkan apresiasi dari pemerintah. Hal itu ditunjukkan dengan pemberian bantuan peralatan penepung singkong dan perajang singkong dari badan ketahanan pangan provinsi Kalimantan tengah pada 2013. Ipatmie pun mendapatkan kredit dari BRI Rp 20 juta selama dua tahun untuk mengembangkan usahanya. Selain itu, ada juga bantuan dari PT Telkom sebesar Rp 25 juta. Saat ini, untuk memenuhi permintaan produksi olahan singkongnya, Ipatmie memerlukan 300 kg singkong per minggu atau lebih dari 1 kuintal singkong perbulan. Singkong itu didapatnya dari petani di desa mintin, kabupaten pulang pisau, kalteng, dengan harga rp 1800 per kg. Dari 300kg singkong itu, 100kg singkong bisa diolah menjadi 50kg tepung mocaf yang dijualnya rp 12500 per kg. sebanyak 100kg yang lain untuk menghasilkan 60kg beras kupu, adapun 100kg singkong sisanya dipakai untuk membuat tepung mocaf yang digunakan untuk membuat aneka kue. Pemasaran tepung mocaf dan beras kupu produksinya tidak sekadar di kota palangkaraya, tetapi juga sampai ke kabupaten di Kalimantan tengah, misalnya di kabupaten lamandau dan kota waringin barat. Dalam menekuni pengolahan singkong tersebut,kendala utama yang dihadapi adalah masalah pengeringan olahan singkong. “jika musim hujan, terik matahari sangat minim. Akibatnya singkong berubah menjadi kebiru biruan dan rusak. Dulu pernah sampai rugi rp 2 juta” ujarnya.
Inovasi
Tidak berhenti pada pembuatan aneka kue tradisional, Ipatmie juga mencoba berinovasi membuat brownies umbut rotan yang menjadi salah satu tanaman khas di Kalimantan tengah. Ide membuat brownies umbut rotan didapatnya dari konsultasi dengan desainer grafis rumah kemasan Kalimantan tengah, bramita andriana. “brownies kalakai, labu kuning, ubi ungu dan pisang sudah bisa. Tapi untuk brownies rotan saya jadi tertantang untuk memanfaatkan tanaman khas kalteng. Saya berpikir bagaimana caranya jenis sayur ini dijadikan kue” katanya. Setelah beberapa kali mencoba akhirnya Ipatmie pun berhasil membuat resep brownies umbut rotan. Umbut merupakan bagian ujung rotan. Umbut rotan yang telah dikupas kemudian diiris dan direbus. Setelah ditiriskan kemudian diblender dan dicampur santan kental. “lalu dimasak di api atau disangrai untuk membuang kadar airnya. Sesudah itu dicampur ke adonan margarine, cokelat, tepung mocaf,telur,gula dan vanili. Lalu dibakar dioven sampai 30 menit” paparnya. Selain brownies rotan, Ipatmie juga mengolah ikan gabus yang masih banyak ditemukan disungai untuk dijadikan abon. Dari satu kilogram daging ikan gabus, bisa dihasilkan 2 ons abon. Ia pun terus tertantang untuk mengembangkan jenis penganan tradisional lain.
Sumber: kompas,jumat 22 mei 2015

