Sumber:https://beritajatim.com/mahasiswa-uc-angkat-batik-karya-disabilitas-ke-fashion-modern
Mahasiswa UC Angkat Batik Karya Disabilitas ke Fashion Modern
30 April 2025
Surabaya (beritajatim.com) – Mahasiswa Program Studi Fashion Design and Business (FDB) Universitas Ciputra Surabaya mengangkat batik karya anak-anak disabilitas menjadi koleksi fashion kontemporer.
Proyek ini merupakan hasil kolaborasi dengan Yayasan Dmart Tithiek Tenger, sebuah organisasi sosial di Kota Malang yang membina anak berkebutuhan khusus dalam seni batik, khususnya Batik Topeng Malangan.
Dipimpin oleh dosen Janet Teowarang, para mahasiswa mengembangkan tiga kain batik karya artisan disabilitas menjadi desain busana modern dalam skala miniatur. Proyek ini merupakan bagian dari mata kuliah Fashion and Culture yang bertujuan menggabungkan isu sosial dengan desain.
Proses dimulai dengan digitalisasi kain batik berukuran 2,5 x 1,2 meter, kemudian dicetak dengan tinta ramah lingkungan dan dikreasikan dalam bentuk busana Barbie terinspirasi dari sejarah fashion dunia.
Selain menciptakan busana, mahasiswa juga melakukan re-desain motif batik agar lebih relevan dengan selera generasi muda, tanpa menghilangkan identitas budaya lokal. Karya tersebut dipresentasikan secara langsung pada Sabtu, 26 April 2025 di hadapan Ketua Komisi D DPRD Kota Malang, Eko Hardiyanto.
Janet menambahkan bahwa Yayasan Dmart kini mendapat ruang untuk menjual karya artisan batik disabilitas di toko yang disediakan di Gedung DPRD Kota Malang.
“Kami berharap dengan adanya penambahan nilai pada karya ini, maka akan semakin meningkatkan penghasilan yang diraih oleh para artisan batik disabilitas ini,” jelasnya, Rabu (30/4/2025).
Adapun tiga koleksi utama berhasil dipresentasikan adalah:
1. Vallysha Christian Happy dan Jennifer Christella Wijaya menciptakan busana bergaya feminin era 1940–1950an dengan siluet A-line, atasan putih berkerah tinggi, dan aksesori klasik yang menampilkan estetika vintage.
2. Gusti Agung Istri Krisna Kirana Kepakisan dan Audriana Clarissa menampilkan nuansa era 70an dengan flare-leg pants dan atasan halter, memadukan batik kontemporer Kota Malang dengan gaya bohemian berwarna psychedelic.
3. Rebecca Hagia Pranoto dan Melanie Gunawan Puteri menghadirkan siluet khas rok era 1950–1960an yang dimodernisasi menjadi balloon skirt, lengkap dengan atasan sleeveless dan detail pita serta motif batik topeng pada rok.
Ketua Yayasan Dmart Tithiek Tenger, Djoko Rendy, juga menyatakan kebanggaannya. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas komunitas dalam membangun kepercayaan diri anak disabilitas.
“Kami sangat bangga bisa berkolaborasi dengan mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya dalam proses redesign Batik Topeng Malang. Ini wujud nyata bahwa kreativitas dan keberdayaan bisa tercipta melalui kolaborasi lintas komunitas,” katanya.
Sementara itu, salah satu artisan, Dimas Rachmadhani, turut menyampaikan kegembiraannya melihat hasil desain tersebut. “Saya lihat gambar desain batiknya bagus luar biasa. Favorit saya adalah gambar desain batik kelompok satu dan dua. Saya suka warna dan motifnya,” ungkapnya.
Kini, karya batik para artisan disabilitas juga dipasarkan melalui toko khusus yang disediakan di gedung DPRD Kota Malang. Janet berharap nilai tambah ini dapat meningkatkan pendapatan para artisan sekaligus memperluas apresiasi terhadap karya mereka.
Inisiatif ini menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan fashion dapat menjadi alat transformasi sosial, di mana menggabungkan estetika, budaya, dan empati dalam satu karya yang berdampak luas. [ipl/ian]

