Jangan Puas di 5 Persen

6 November 2025

Pak Purbaya orang pinter, berani, dan tidak memiliki beban politik. Ini sesuatu yang bisa diharapkan. Andai ada lima orang seperti Pak Purbaya di level menteri, kita bisa lebih tenang,” Prof. Murpin Sembiring Ketua Persatuan Profesor/Guru besar Indonesia.

EKONOMI Indonesia di kuartal III-2025 tumbuh 5,04 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Naik tipis dari 4,95 persen pada kuartal III-2024, tapi sedikit melambat dari kuartal sebelumnya yang mencapai 5,12 persen.

Angkanya memang lumayan. Lebih tinggi daripada Tiongkok (4,8 persen), tapi kalah oleh Malaysia (5,2 persen) dan jauh di belakang Vietnam yang melesat hingga 8,2 persen. Artinya, kita jalan, tapi tetangga lari.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, pertumbuhan itu ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang masih stabil, belanja pemerintah yang tumbuh 5,49 persen, dan investasi yang naik 5,04 persen. Ekspor juga oke: tumbuh 9,91 persen, terutama dari komoditas nonmigas seperti minyak nabati, besi baja, mesin, dan kendaraan.

Sektor industri pengolahan tumbuh 5,54 persen. Perdagangan eceran naik 5,49 persen. Sektor digital bahkan melesat 9,65 persen berkat transaksi online, uang elektronik, dan lalu lintas data yang makin diminati.

Wisatawan domestik naik 21,84 persen. Kunjungan wisman ikut menguat. Angkutan laut dan kereta api makin ramai. Secara geografis, semua wilayah tumbuh positif. Sulawesi paling kencang (5,84 persen), Jawa di 5,17 persen. Hanya Papua-Maluku yang masih jalan pelan: 2,68 persen.

Secara teknis, itu laporan yang sehat. Namun, apakah kita harus puas? Angka 5 persen itu tidak cukup untuk mengejar target Indonesia Emas 2025.

Prof Murpin Sembiring, ekonom yang juga ketua Persatuan Profesor/Guru Besar Indonesia (DPD Pergubi) Jatim angkat bicara. “Angka 5,04 masih oke. Tapi, kalau mau sampai ke Indonesia Emas 2045, kita butuh pertumbuhan 8 persen per tahun,” kata Murpin kepada Harian Disway tadi malam, Rabu, 5 November 2025.

Target 8 persen itu bukan angka asal sebut. Pencapaian pertumbuhan tersebut sangat penting untuk memastikan Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap) dan menjadi negara maju dengan pendapatan per kapita sekitar USD30.300 (Rp506 juta) per tahun di 2045.

“Hilirisasi jangan cuma bangun satu dua smelter, terus berhenti di situ,” katanya. “Harus lanjut ke industrial upgrading: teknologi, nilai tambah, ekspor produk jadi,” lanjutnya.

Menurut Murpin, 8 persen itu bisa dicapai, tetapi butuh waktu. “Jangka pendek, kita dorong ke 5,4 persen dulu. Dalam dua tahun, naik ke 6 persen. Di akhir periode pertama Presiden Prabowo, harus sudah tembus 8 persen,” ujar guru besar Universitas Ciputra Surabaya itu.

la percaya Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bisa diandalkan. “Menteri Koboi” itu juga mendapat kepercayaan publik.