Terjunkan Tim Relawan Kesehatan, Cepat dan Tepat beri Pengobatan

22 Desember 2025

Universitas Ciputra resmi menerjunkan tim relawan untuk bencana banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera barat. Tim medis dari Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Ciputra (UC) bertugas di lokasi bencana pada 21 Desember hingga 31 Desember.

Tim relawan FK Universitas Ciputra membawa sumber daya manusia berpengalaman dan satu truk logistik yang dibutuhkan untuk penanganan di lokasi. Executive Board Director Ciputra Pendidikan Prof Dor Ir Denny Bernadus MM memastikan bahwa komitmen Ciputra Group dalam tanggap bencana bukan hanya dilakukan kali ini saja.

“Dari unit bisnis properti kami yang di SImatera juga sudah bergerak lebih dulu dalam memberikan bantuan. Nah, sekarang unit pendidikan yang tidak hanya memberikan bantuan donasi. tetapi juga kemampuan mereka,” jelas Denny.

hal tersebut diamini oleh Rektor Universitas Ciputra Prof Dor Wirawan Endro Dwi Radianto MScA CA Ak. Dia memastikan bahwa keberangkatan tim relawan medis dari UC akan bekerja optimal dan tepat sasaran.

“Kami berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi,” ucapnya. Wirawan menjelaskan, hasil koordinasi dengan kedua pihak tersebut bahwa tim relawan UC akan bertugas di Padang, Sumatera Barat. “Sesuai kebutuhan disana, kami kebagian bertugas di Padang dan akan melanjutkan koordinasi di lokasi bersama tim dari Universitas Andalas,” jelasnya.

Tim UC juga dipercaya mengelola dana hibah dari Kemendiktisaintek. “Dari kemeterian ada arahan juga untuk pemanfaatan khusus oleh tim fakultas kedokteran, jadi kami upayakan mengemban kepercayaan ini menjadi hal yang bermanfaat untuk masyarakat,” tegasnya.

Komposisi Tim Relawan Beragam

Dekan Fakultas Kedokteran Prod Dr dr Hendy Hendarto SpOG(K), SubspFER mengatakan, persiapan tim relawan telah dilakukan dengan sangat matang. “Pembentukan tim relawan berlangsung dengan cepat lantaran tingginya minat sivitas akademika yang berminat. Tak hany dari dosen dan mahasiswa aktif, alumni pun turut serta,” jelasnya.

Hendy mengatakan, fokus utama tim relawan adalah mengobati penyakit yang muncul akibat bencana. Di antaranya, infeksi saluran nafas akut, diare, hingga leptospirosis. “Ini harus segera ditangani, agar tidak menjadi wabah di tengah para korban,” tuturnya.

Selain pengobatan dan pencegahan wabah, tim relawan juga akan menggelar edukasi bagi para korban. “Tujuannya untuk pengetahuan jangka panjang,” jelasnya.

Selain persiapan sumber daya manusia, pihak juga menyediakan satu truk logistik berisi obat-obatan dan peralatan medis. Para relawan juga dilengkapi dengan tas personal yang dilengkapi kit pertolongan pertama hingga kebutuhan medis lainnya.

Ketua tim relawan dr May Fanny Tanzillia SpPK SubsPI menjelaskan, 10 orang tim relawan yang berangkat memiliki latar belakang yang beragam. Selain May yang memiliki kemampuan deteksi penyakit, pihaknya juga menggandeng dokter spesialis anestesi, spesialis bedah digestif, dokter umum, dan mahasiswa kedokteran. Mahasiswa kedokteran yang turut berangkat juga dipastikan memiliki kemampuan yang mumpuni, karena sudah melewati masa pendidikan klinik atau dokter muda.

Rencana Program Beasiswa

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kemampuan para sivitas akademika, FK UC mendirikan dua program pendidikan dokter spesialis (PPDS). Yaitu, spesialis kandungan dan ginekologi, dan spesialis bedah.

Dekan Fakultas Kedokteran Prof Dr dr Hendy Hendarto SpOG(K) SubpFER menjelaskan kedua program menjadi perhatian khusus karena kebutuhannya yang terus meningkat. “Untuk spesialis kandungan dan ginekologi ini, kami juga membawa misi meningkatkan dokter spesialis di Indonesia Timur,” tuturnya.

FK UC sudah menyiapkan rencana adanya program beasiswa bagi mereka yang berasal dari daerah, tentu ada syarat yang harus dipenuhi. Di antaranya, memiliki latar belakang asal Indonesia Timur, dan akan melanjutkan pengabdian di sana.

Selain itu, program pendidikan spesialis bedah juga akan dilengkapi dengan kemampuan operasi minimal invasif. Hendu mengatakan, teknologi operasi dan penanganan kasus kesehatan terus berkembang. “Jadi selain kemampuan dasar operasinya bagus, kemampuan minimal inovasifnya juga ada,” tuturnya. (dya/xav)