Tekan Kasus Tuberkulosis dan Stunting, Unusa Resmikan Dua Program Spesialis Baru
22 Februari 2026
Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) resmi membuka Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Obstetri dan Ginekologi serta Pulmonologi. Langkah strategis ini menyasar penguatan nutrisi janin dan percepatan penanggulangan tuberkulosis nasional.
Peluncuran dilakukan bersama Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Ciputra dan Universitas Hang Tuah pada Sabtu (21/2/2026). Sinergi antarperguruan tinggi ini bertujuan mempercepat pemenuhan kebutuhan tenaga dokter spesialis di berbagai wilayah Indonesia.
PPDS Obstetri dan Ginekologi Unusa memfokuskan kurikulum pada tata kelola antenatal berbasis nutrisi janin. Pendekatan tersebut menjadi instrumen utama dalam menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas kesehatan generasi mendatang.
Sementara itu, PPDS Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi diarahkan untuk memperkuat penanganan infeksi paru. Fokus ini sangat krusial mengingat Indonesia saat ini menempati peringkat kedua kasus tuberkulosis tertinggi di dunia.
Data menunjukkan Jawa Timur berada pada posisi kedua beban tuberkulosis nasional setelah Jawa Barat. Kondisi tersebut memicu urgensi peningkatan kapasitas dokter spesialis respirasi untuk menekan laju penularan di daerah.
Rektor Unusa, Prof. Tri Yogi Yuwono, menyatakan pembukaan program ini adalah langkah menjawab tantangan kesehatan dari hulu. Kesehatan bangsa menurutnya harus dijaga secara konsisten mulai dari masa kandungan hingga lanjut usia.
“Penguatan pendidikan spesialis di bidang kesehatan ibu dan penyakit respirasi merupakan kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujar Tri Yogi. Upaya ini diharapkan mampu memberikan dampak langsung pada kualitas hidup penduduk.
Dekan FK Unusa, dr. Handayani, menegaskan lulusan harus responsif terhadap tantangan kesehatan publik. Integrasi ilmu klinis dan integritas moral menjadi landasan dalam memberikan pelayanan profesional kepada pasien.
“Kami mengintegrasikan keunggulan ilmu pengetahuan, nilai kemanusiaan, dan nilai-nilai keislaman dalam pendidikan dokter spesialis,” tuturnya.
Unusa menargetkan lahirnya dokter spesialis yang mampu memimpin transformasi layanan kesehatan pada 2035. Program ini diharapkan memperkuat sistem pelayanan kesehatan berbasis komunitas melalui dukungan teknologi kedokteran yang inovatif. [ipl/aje]

