
Bagi Abbet Nugroho ( 38 ) , upaya melestarikan permainan tradisional Nusantara bukan sekadar untuk nostalgia . Kesederhanaan langgam dolanan lama justru menjadi sarana pendidikan luar biasa . Dari keyakinan itu , ia kemudian mendirikan Kampoeng Dolanan Nusantara di dekat Candi Borobudur untuk mengajak anak – anak kembali menyelami filosofi mainan warisan nenek moyang .
OLEH HARIS FIRDAUS & KARINA ISNA IRAWAN
Pada 2012 , Abbet mendirikan Kampoeng Dolanan Nusantara yang berada di Dusun Sodong- an , Desa Bumiharjo , Kecamatan Bor robudur , Kabupaten Magelang , Jawa Tengah . Tempat yang hanya berjarak 2 kilometer di utara kompleks Candi Borobudur tersebut menjadi sarana mempromosikan kembali aneka permainan tradisional dari berbagai daerah di Nusantara yang kini sudah jarang ditemui .
” Ini ( Kampoeng Dolanan ) saya anguap bukan sebagai sebuah usaha ekonomi , melainkan lebih sebagai bentuk pengabdian saya kepada Ta- nah Air , ” kata Abbet saat ditemui di Kampeng Dolanan Nusantara , Selasa ( 31/10 ) sore .
Menurut Abbet keputusannya mendirikan Kampoeng Dolanan ber- awal dari keprihatinan menyaksikan makin jarangnya anak – anak generasi sekarang memainkan berbagai jenis permainan tradisional . Mereka ke banyakan menghabiskan waktu dengan bermain gawai dan Play Station.
Ide mendirikan Kampoeng Dolanan kan mantap ketika Abbet ber kunjung ke rumah Endi Aras , ko lektor kasing yang juga pendiri Ko munitas Gasing Indonesia . Di rumah Endi , Abbet melihat berbagai jenis asing yang berasal dari berbagai daerah .
” Dari situ saya memimpikan sebuah tempat untuk mengenalkan kembali anak – anak kepada perma inan tradisional yang dulu menjadi mainan bapaknya atau kakeknya , ” tu turnya .
Dengan memanfaatkan tanah mi lik keluarga . Abbet mendirikan Kampoeng Dolanan . Pengembangan tem pat itu juga didukung sejumlah pihak , termasuk Endi Aras dan musisi Renny Jayusman .
” Mbak Renny Jayusman dan Mas Endi Aras berperan besar dalam pen dirian Kampoeng Dolanan karena ke duanya ikut menghimpun dana di Jakarta guna pengembangan tempat ini , ” kata pria kelahiran Semarang itu .
Saat ini , ada ratusan permainan tradisional yang sudah dikoleksi Kampoeng Dolanan . Koleksi perma- inan tradisional itu diperoleh Abbet dari kunjungan ke sejumlah daerah Namun , sebagian permainan tersebut juga ada yang dibuat sendiri karena sudah langka .
” Kami belum mendata secara pastir berapa jumlah permainan tradisional di Kampoeng Dolanan Nusantara tetapi yang jelas jumlahnya ratusan , ujar pria yang juga aktif mengajar kesenian di sejumlah sekolah ini.
Di Kampoeng Dolanan terdapat aneka permainan tradisional dari ber- bagai penjuru Nusantara . Abbet ingin menampilkan tidak hanya permainan dari Pulau Jawa karena dia meyakini setiap daerah memiliki ciri khas.
Untuk gasing misalnya , terdapat gasing dari Ambon , Bangka Belitung Lampung , Riau , Lombok , Sumatera Sulawesi , dan Papua . Permainan tradisional yang juga ada di Kampoeng Dolanan antara lain adalah yoyo , ba- kiak , congklak atau dakon , kelereng egrang , layang – layang mobil – mobilan dari serabut kelapa , serta berbagai permainan berbahan bambu .
Oleh karena lokasi yang strategis Abbet menjadikan Kampoeng Dolan- an bukan sekadar galeri permainan tradisional , melainkan juga tempat untuk benar – benar mempraktikkan aneka permainan tersebut . Para tamu yang datang juga akan diajak mem- buat sendiri permainan tradisional dari bahan yang ada , lalu menjelajahi desa dengan berjalan kaki , naik sepeda , atau dokar .
” Target tamu kami awalnya adalah wisatawan yang berkunjung ke Candi Borobudur dan bingung mau ke mana lagi setelah mengunjungi candi , ” kata Abbet yang juga merupakan Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indo nesia ( Lesbumi ) Nahdlatul Ulama Magelang.
Namun , belakangan , kebanyakan tamu yang datang ke Kampoeng Dolanan justru merupakan pelajar sekolah , baik dari tingkat pendidikan anak usia dini , sekolah dasar , maupun sekolah menengah pertama .
Pendidikan karakter
Menurut Ahbet , permainan tradi sional di Nusantara perlu dilestarikan karena bisa menjadi sarana pendidikan karakter yang efektif . Saat me mainkan beragam jenis permainan tersebut , anak – anak sebenarnya tidak sekadar bermain , tetapi juga menghayati nilai – nilai tertentu .
Saat bermain adu cepat dengan bakiak , misalnya , anak – anak secara tak langsung belajar tentang kekompakan , kebersamaan , juga saling membantu dan saling melindungi . Sementara itu , saat bermain petak um pet , anak – anak belajar tentang sporti vitas dan kejujuran sekaligus melatih kemampuan motorik mereka untuk bergerak dengan cepat dan lincah .
” Karena itu , Kampoeng Dolanan Nusantara tidak hanya menonjolkan aktivitas wisata , tetapi juga pendidik- an karakter , ” kata Abbet yang juga aktif di Pesona Magelang yang merupakan wadah bagi para pelaku pa- riwisata di Magelang
Selain kerap dikunjungi pelajar , Kampoeng Dolanan juga kerap diun- dang ke sekolah untuk memperkenal kan aneka jenis permainan tradisional sekaligus menghadirkan pen- didikan karakter . Dalam kunjungan ke sekolah itu , Abbet juga sering mengajak para siswa memainkan alat musik tradisional , seperti angklung ,
” Saya mengajak siswa memainkan lagu – lagu Nusantara karena lagu – lagu ini bisa menjadi sarana untuk mena namkan rasa cinta kepada Tanah Air , ” ujarnya .
Dengan programnya yang unik Kampoeng Dolanan kini tersohor ke mana – mana . Selain dari Magelang , pengunjung juga datang dari sejum lah kota , misalnya Pekalongan , Tegal , Semarang Salatiga , Yogyakarta , dan Kediri . Selain itu , Kampoeng Dolanan juga kadang dikunjungi wisatawan asing ” Kami pernah menerima tamu rombongan dari sekolah sampai 300 orang . ” kata Abbet .
Pengalaman hidup
Selain aktif di Kampoeng Dolanan , Abbet juga aktif dengan seabrek kexi atan seni budaya lain . Hingga seka rang ia memimpin beberapa kelom pok musik yang aktif pentas ke berba gai kota Selain itu , Abbet juga kerap membantu penyelenggaraan kegiatan seni budaya di Magelang dan sekitar nya .
Yang juga unik , Abbet ternyata per nah kulinh di tujuh perguruan tinggi berbeda dengan jurusan yang berla inan . Ia pernah belajar ilmu komuni kasi , seni musik , bimbingan konse ling , hingga kajian pertandingan aga ma Dari tujuh kali kuliah , Abbet hanya menyelesaikan kuliah di Jurus an Ilmu Komunikasi Politeknik PPKP Yogyakarta .
Sejak muda , Abbet juga telah me rasakan kerasnya pengalaman hidup Setelah masa remaja , ia telah meran tau ke Yogyakarta untuk menyelesai kan pendidikan SMA lalu melanjut kan kuliah . Untuk membiayai seko lahnya , Ahbet berjualan koran dan mengamen di Yogyakarta . Mulai tahun 2012 , Abbet Nugroho menetap di Magelang yang merupa kan tempat kelahiran sang istri .
” Mulai tahun 2012 , saya diminta istri saya untuk hidup dan mati di sini , ” kata nya
Sumber: Kompas. 17 November 2017. Hal. 16
