Abdul Rohim (36) paham betul kompleksnya permasalahan sosial yang dihadapi oleh para pemulung. Jerat kemiskinan yang mendera mereka perlu dihentikan. Salah satunya dengan memutus generasi pemulung. Melalui yayasan ERBE, Abdul bermimpi anak-anak jalanan dapat merengkuh pendidikan yag layak.

Fajar ramadan

Kepedulian Abdul terhadap anak-anak pemulung berangkat dari cerita kelam masa lalunya. Semua bermula ketika ia berusia 15 tahun. Abdul, yang saat itu menjadi korban keretakan keluarga, memutuskan untuk hidup dijalanan.

Berbagai hal pernah ia lakoni, mulai dari mengamen, menjadi joki 3 in 1, menjadi tukang parkir, menyemir sepatu, hingga menjual kantong plastik. Saben malam, Abdul harus rela tidur diemperan ruko, terminal, hingga stasiun bersama komunitas anak jalanan lainnya. Hal ini ia jalani hampir 30 tahun.

“Awalnya saya jadi anak jalanan di kawasan jalan Gajah Mada, terus pindah ke Pulogadung dan Kalimalang. Pernah saya tidur di stasiun gambir, malah dikerjain sama anak-anak sana sampai dipukuli,” ungkapnya saat ditemui, Jumat (29/1/2020), di Jakarta.

Saking kerasnya hidup dijalanan Abdul bahkan nyaris menjadi korban pelecehan seksual oleh sesama anak jalanan. Pengalaman itu ia dapatkan saat malam, saat sedang tidur di emperan ruko jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat.

Bahkan, ia pernah diperdaya preman-preman di sekitarnya untuk menjadi kurir narkoba dangan upah Rp 5000. Belakangan, ia baru mengetahui bungkusan yang kerap dititipkan kepadanya berisi ganja.

“Di usia saya pada saat itu, saya enggak tahu itu barang ganja. Setelah abang-abang yang menyuruh saya ditangkap polisi,” kenangnya.

Abdul mengaku beruntung karena dirinya tidak terlibat mengonsumsi barang haram tersebut. Meski kerap diperdaya, preman-preman tersebut tak pernah menjerumuskannya ke dalam dunia narkoba.

Proses rehabilitasi

Tahun 2002, Abdul dipertemukan dengan salah satu pekerja sosial dari Rumah Singgah Setia Kawan Mandiri (SeKam). Pertemuan itu mengantarkannya bergabung dengan rumah singgah untuk menjalani proses rehabilitasi sosial.

Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Abdul, disana ia aktif mengikuti kegiatan-kegiatan pemberdayaan remaja. Lambat laun ia mulai meninggalkan kegiatan sebagai anak jalanan. “Saat awal-awal saya bergabung dengan rumah singgah, saya tetap mengamen setiap sore. Tapi lama-lama saya sudahi,” katanya.

Dirumah Singgah Sekam ini Abdul yang dulunya putus sekolah mendapat kesempatan kembali mengenyam pendidikan. Tidak hanya sampai level SMA , dia bahkan mendapatkan beasiswa untuk mencapai pendidikan diploma III.

Dari sini keinginan Abdul untuk membantu anak-anak jalanan mentas dari jerat kemiskinan kian menguat. “Saya tak ingin anak-anak pemulung jatuh di lubang yang sama. Mereka berhak mendapat pendidikan dan lepas dari belenggu kemiskinan,” ujarnya.

Sadar dirinya butuh dukungan,  Abdul kemudian mengajak beberapa teman kampusnya untuk melakukan aksi pemberdayaan anak jalanan secara sukarela. Anak-anak yang disasar pada saat itu adalah kolong-kolong jalan layang.

Dari situ Abdul menggawangi lahirnya Komunitas Peduli Anak Jalanan. Seiring berjalannya waktu komunitas ini berubah nama menjadi Komunitas Rumah Belajar yang fokus untuk mendidik anak-anak pemulung.

“Kenapa pemulung? Karena disini masalahnya sangat kompleks. Dari pemulung inilah muncul tuna wisma, anak jalanan, manusia silver, atau penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) lainnya. Untuk menghentikan lingkaran ini anak-anak harus mendapatkan pendidikan,” lontarnya.

Rumah belajar

Pada 2016 Abdul kemudian mendirikan Komunitas Rumah Belajar yang sebagus yayasan Educatin, Religion, Bee, Entertainment (ERBE). Perubahan ini dilakukan karena banyanya desakkan dari beberapa pihak agar lembaga yang dikelolanya berbadan hukum. “Sebelumnya kami sudah menggalang dana dari berbagai pihak. Karena legalitasnya dipertanyakan kami akhirnya mendirikan yayasan,” tambahnya.

Yayasan ERBE sudah memiliki tiga Rumah Belajar pada saat ini , salah satunya ada di RT002 RW003 Rewadas Pondok Kogi, Duren Sawit, Jakarta Timur. Lokasi rumah belajar ini strategis di tengah-tengah perkampungan pemulung Rewadas yang dihuni sekitar 700 keluarga.

Berdasarkan penelursuran yang dilakukan yayasan ERBE, kebanyakan anak-anak pemulung di Rawedas tidak bersekolah. Salah satu yang mengganjal adalah minimnya kepemilikan kartu identitas, seperti KTP, kartu keluarga (KK), orangtua pemulung yang kebanyakan berasal dari Ketawang dan Indramayu, Jawa Barat. Padahal dengan KTP mereka sebenarnya dapat mengakses sekolah gratis di Jakarta atau mendaftar sebagai penerima Kartu Jakarta Pintar (KJP).

Melalui rumah belajar ini anak-anak pemulung kemudian diberi pemahaman betapa pentingnya pendidikan bagi mereka. Setiap Senin hingga Kamis anak-anak diminta untuk mengikuti pengajian. Sementara Sabtu dan Minggu mereka mendapatkan bimbingan belajar.

“Bimbingan belajar ini berisi pelajaran umum. Selain itu, mereka juga dilatih membuat prakarya. Harapannya prakarya ini dapat menjadi nilai ekonomi. Kami masih membutuhkan bantuan dari banyak pihak untuk memasarkan hasil karya-karya mereka,” katanya.

Untuk memfasilitasi bimbingan belajar, Abdul menggandeng sukarelawan dari kalangan mahasiswa dan karyawan swasta. Disamping itu, Abdul dibantu oleh setidaknya 8 pendamping yang tersebar di tiga rumah belajar.

Upaya Abdul dan para pendamping ERBE untuk mendidik anak-anak pemulung bukan tanpa tantangan. Cibiran demi cibiran berkali-kali datang dari orangtua pemulung. Mereka lebih setuju jika sang anak ikut mengais rongsokan dijalan ketimbang belajar. Sebab, hal itu bisa menghasilkan uang “Kalau cuma belajar dapat apa? Kalau memulungkan dapat duit,” ujar Abdul menirukan salah satu orangtua pemulung itu.

Namun  Abdul enggan menyerah. Dia dan pendamping melakukan segala cara agar anak-anak tertarik belajar. Salah satunya memberikan bingkisan makanan setelah mereka mengikuti pembelajaran. Dengan begitu, anak-anak tertarik untuk datang sekaligus diizinkan orantuanya.

Untuk mendapat simpati dari para orangtua pemulung. Yayasan ERBE beberapa kali memberikan bantuan bahan makanan dan membuat toilet umum yang layak. Yayasan ERBE kini juga sedang memfasilitasi para pemulung agar mendapatkan kartu identitas kependudukan.

Mimpi Abdul belum usai. Dia bertekad tak akan berhenti menyadarkan orangtua dan anak-anak pemulung agar bisa terdidik dan keluar dari kemiskinan. Dia bahkan bermimpi menjadikan rumah belajar di Rawades menjadi sekolah gratis untuk anak-anak pemulung.

Abdul Rohim

Lahir    : Cirebon 12 Januari 1985

Istri      : Ismiyati Lasiah

Pendidikan : Jurusan Kesejahteraan Sosial Universitas Brawen (2018-Februari)

Pekerjaan : Ketua/Pendiri Yayasan ERBE

Sumber: Kompas, 2 Februari 2021