ADA akhir milenium kedua, di Surabaya merebak panggilan Cece.  Terdengar PE Koko dan sederhana.  Hanya sebuah panggilan.  Koko untuk laki-laki dan Cece untuk perempuan.  Asal katanya adalah gege (E) dan EE Viejie).

Lalu, untuk yang lebih tua ada panggilan Susuk (berasal dari kata R atau shushu) yang berarti paman.  Ada juga Ai (berasal dari kata A atau a yi) yang berarti bibi.  Penggunaan panggilan itu tidak sebatas di Pasar Atom Surabaya.

Di pusat informasi yang pedagangnya didominasi etnis Tionghoa itu, bahasa yang digunakan memang beragam. Ada bahasa Mandarin, ada pula bahasa Hokkian.  Baik bahasa dalam arti yang sebenarnya, atau terhubung dialek.

Selain itu, ada bahasa gaul alias bahasa gaul kaum peranakan.  Kosa katanya antara lain, lu bok gitu (kamu jangan begitu), pigio sana (pergilah ke sana), sinio (ke sinilah).  Lalu kata di menjadi ndik.  Sehingga, lagu Pramuka pun dipelesetkan menjadi Ndik sini senang, ndik sana senang, ndik mana- mana hatiku senang.  (kalau mau menyahuti, lalalala juga boleh, hehe …) Bahasa memang tidak hanya dimaknai secara sederhana sebagai alat komunikasi.

Bahasa merupakan wacana, tempat semua praktik sosial berlangsung. Begitu juga dengan merebaknya kosakata Koko, Cece, Susuk, dan Ai.  Ada perubahan pelanmendasar, sehingga panggilan pelan-pelan Om dan Tante.

Kosakata Om dan Tante banyak digunakan oleh warga Tionghoa yang berpendidikan barat. Mereka (dulu) sehari-hari berbahasa Belanda. Holland-spreken.  Mereka ini rata-rata mengenyam pendidikan modern. Generasi mereka kemudian melahirkan dokter-dokter, Pengacara, insinyur, dan terkenal profesional lainnya di Surabaya.

Kesuksesan mereka dan Kedekatan dengan Pemerintah Belanda membuat mereka mampu tinggal di kawasan elit Surabaya saat itu.  Kawasan elite yang dikembangkan Belanda.

Nieuwe Soerabaia (Surabaya-Baru).  Kawasan Darmo, Diponegoro, dan lain-lain menjadi incaran untuk tempat-tempat tinggal mewah mereka.  Nieuwe Soerabaia memang menjadi bagian dari kota yang maju dan modern.  Tempat-tempat rekreasi, pertokoan modern seperti kawasan Jalan Tunjungan menjadi ikon-ikon kota Surabaya saat itu.  Bioskop-bioskop dan tempat hiburan hadir di pengembangan ke selatan kota Surabaya itu.  Fasilitas kota seperti kantor pemerintahan (kantor gubernur dan Kantor tembok kota), rumah sakit, atau stasiun dibangun besar-besaran di kawasan Surabaya Baru ini.

Di kawasan Ngagel dibangun industri berskala besar dan berat.  Sebut saja, Pabrik Bir Bintang, PT Barata, dan lain-lain.  Sebagian fasilitas di kawasan baru Surabaya dimiliki oleh rekan-rekan etnis Tionghoa yang profesional tadi.  Crazy rich zaman itu ya dimonopoli Tionghoa yang Holland-spreken itu.

Di bagian lain kota Surabaya, sebagian besar Tionghoa besar yang dilabeli oleh Belanda sebagai Totok-Chinezen (Tionghoa-totok) tetap tekun dan konsisten di keahliannya berdagang dan terus berdagang.  Mereka juga tetap setin mempraktikkan kebudayaannya, termasuk dalam hal berbahasa.

Ketika Orde Baru melarang semua bentuk kebudayaan Tionghoa di Indonesia, satu bidang yang tidak disentuh adalah berdagang.  Tentu ikan tidak perlu diajari berenang.  Berdagang pun semakin tancap gas.  Ketika sekolah-sekolah berbahasa Mandarin di Indonesia ditutup, mereka tidak segan-segan mengundang guru-guru les untuk anak-anaknya belajar bahasa Mandarin.

Tidak berselang lama, di era 1990-an, mereka secara ekonomi menyalip rekan-rekan yang Hollands spreken itu.  Yang paling terlihat menonjol adalah penggunaan Bahasa Mandarin.  Bahasa itu mulai dipakai tidak hanya di keseharian pada skala domestik, tetapi di konteks praktik perdagangan secara nyata.  Pada saat pemberitahuan, pela panggilan Om & Tante mulai meredup.  Panggilan Koko, Cece, Susuk, dan Ai mulai marak di mana-mana.

Perubahan yang terjadi tidak sesederhana penggunaan bahasa itu.  Sebab, bahasa menjadi tempat semua praktik sosial berlangsung.  Kemajuan skonomi membuat Tionghoa totok itu mulai meninggalkan kawasan Surabaya Utara.  Meroka mulai merangsek ke barat, timur, dan selatan Surabaya.  Seiring dengan pengembangan kota yang mengarah ke sana.  Kawasan pecinan tidak lagi berkutat di utara surabaya.  Crazy Rich baru pun bermunculan.  Perubahan permukiman di kawasan Pecinan itu menginspirasi saya untuk menulis di buku La-Banian (berbahasa Perancis).  “Lorsque Oom & Tinte Sont Devenus Shu shu & A’yi Le Quer Chinois est devenu Gangnam Styl” (Ketika Oom & Tante mengubah me, jadi shushu & ai, maka pecinan berut menjadi Gangnam Style).

Surabaya menjarti arak dengan banyak bangunaa permukiman baru.  Banyak dibangun dengan arsitektur yang bagus dan yang anggun, tetapi juga ada yang konyol dan norak.  Pergeseran juga terjadi di beberapa kawasan permukiman elitr Surabaya.  Di seputaran kawasan Darmo dan Diponegoro, kepemilikan rumah juga terjadi di berbagai pergeseran.  Demikian juga kepemilikan berbagai bianis dan Industri berubah.

Lalu zaman sudah berubah lagi, anak-anak generasi sekarang mulai terbiasa menggunakan Daddy & Mommy.  Paman & Bibi.  Generasi ini sudah tidak mengerti paham apa tu ediend Chinezen dan Tionghos Holland- spreken.  Tetapi panggilan telepon Koko & Cece, Susuk & Ai masih terdengar di sana-sini.  Minimal masih kenceng di Pasar Atom.

Lu bok gitu taah.  ()

Sumber: Harian Dis Way. 27 Maret 2021. Hal. 38,39