Henni T. Soelaeman
Sejumlah professional mampu menjadikan dirinya sebagai orang yang diburu headhunter dan mematok tarif mahal. Mereka pastinya memiliki kompetensi yang mumpuni. Mereka terus mengasah kemampuannya sehingga selalu relevan dengar perkembangan bisnis, dan menjadi bintang yang berpendar di jagat bisnis. Mereka juga pandai melakukan personal branding sehingga sosoknya extraordinary.
Bagaimana mereka melakukan skill improvement sehingga mereka selalu relevan, mahal dan di cari? Apa saja upaya mereka untuk memoles personal branding-nya? Berikut paparan sejumlah professional yang berkarier cemerlang dengan bayaran menggiurkan.
Agar kompetensi tetap relevan, tidak ada kata lain selain terus update perkembangan yang ada, baik ilmu, teknologi maupun tren. Saya juga harus terus memperkuat jejaring dengan organisasi profesi dan hubungan dengan stakeholder. Sementara itu, supaya nilai diri tetap mahal, saya wajib aktif menambah pengetahuan baik secara formal maupun informal, misalnya sharing session, informal meeting, konferensi, dan lainnya. Begitu pula untuk capacity building, seperti skill improvement yakni terus update perkembangan tren, teknologi, menambah pengetahuan, dan memperluas jejaring.
Mengenai skill yang perlu dikuasai bisa dilihat dari hard skill terkait profesi, yang membantu saya dapat bekerja dan memberikan kontribusi lebih baik untuk perusahaan. Juga soft skill dengan meningkatkan communication skill, networking, leadership/managerial skill, dan lainnya. Terkait personal branding, yang perlu dilakukan adalah menjadi value creator. Artinya, menghadirkan nilai tambah dalam bekerja/berkarya melalui berbagai kreativitas dan inovasi yang membuat hasil karya saya berbeda. Juga, relevan dengan perkembangan dan kebutuhan perusahaan, penuh dengan kekinian, unik, serta berhasil memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan dan kemajuan perusahaan. Dengan demikian, saya tidak hanya berhasil bekerja secara profesioanal dengan mencapai target kerja, tetapi keberadaan saya juga diakui dan dihargai berbagai pihak, baik internal maupun eksternal.
Selain itu, dengan menigkatkan presensi secara konvensional, yaitu dengan aktif tampil secara terlibat dalam berbagai aktivitas dan organisasi profesi, menjadi pembicaraan diseminar, lokalkarya, kampus dan digital, yaitu aktif secara selekstif di media sosial. Sharing dan comment yang fun tetapi tidak kontekstual. Media sosial tidak dapat dimungkiri sangat vital untuk menggalang opini publik. Cara berkomunikasi di media sosial pun membutuhkan skill tersendiri.
Sumber: SWA 19, 3-16 September 2015

