Di tepian Kali Semarang, Kota Semarang, Jawa Tengah, anak-anak bertumbuh. Namun, seorang warganya, Agung Setia Budi (39), khawatir dengan perkembangan anak-anak, termasuk anaknya. Maka, ia pun menyediakan wadah bagi anak-anak itu untuk belajar dan berkreasi dalam Komunitas Harapan.
Agung yang lahir dan besar di Kampung Sumeneban, Kelurahan Kauman, Kecamatan Semarang Tengah, tidak dapat berdiam diri melihat anak-anak hidup dan tumbuh dalam pengaruh negative lingkungan Pasar Johar, Semarang. Meski anak-anak itu sudah bersekolah dan dididik baik dalam keluarga yang juga baik, pengaruh lingkungan yang keras di Pasar Johar membuat anak-anak kecil ikut-ikutan berkata kasar dalam keseharian.
“Awalnya saya tidak begitu memedulikan hal itu. Tetapi, ketika saya juga memiliki anak, dan anak saya mulai besar, saya semakin khawatir. Di rumah, anak saya dididik baik, tetapi ketika teman-temannya, lingkungannya, tidak mendukung, ikut terpengaruh juga,” kata Agung, yang saat itu bekerja di sebuah pabrik.
Oleh karena itu, pada tahun 2013, Agung mulai berinisiatif untuk mengumpulkan dan menyediakan kegiatan positif bagi anak-anak. Ia pun menyediakan rumahnya yang berukuran 3 x 8 meter untuk tempat anak-anak berkumpul dan beraktivitas. Komunitas itu kemudian ia diberi nama Komunitas Harapan, akronim dari hari-hari anak masa depan.
Salah satu cara yang digunakan Agung untuk menanamkan nilai baik pada anak-anak ialah ia membuat lagu yang hingga kini menjadi lagu tema Komunitas Harapan.
Sebagian liriknya berbunyi, “Ji, ro, lu, pat (satu, dua, tiga, empat) aku rajin shalat. Enem, pitu, wolu, aku ora ngomong saru (enam, tujuh, delapan, aku tidak ngomong jorok). Pitu, wolu, songo, manut karo wong tuwo (tujuh, delapan, Sembilan, menurut pada orangtua).”
“Kegiatan kami hanya pada hari Jumat, Sabtu, Minggu, kegiatannya bermain, menyanyi, menonton film, pendidikan akhlak, juga belajar bersama. Lama-lama mulai ada mahasiswa yang ikut menjadi relewan dan ikut mengajari anak-anak bahasa Inggris, juga hal lain,” kata Agung.
Relawan mahasiswa yang terlibat pun semakin banyak, termasuk juga mahasiswa asing.
Kegiatan lain, menurut Agung, ia juga kerap mengajak anak-anak mengunjungi sejumlah tempat di Kota Semarang untuk belajar mengenai banyak hal. Kebiasaan untuk tidak membuat sampah ke sungai, misalnya, juga ditanamkan untuk mengubah pola pikir anak-anak yang banyak diturunkan dari orangtuanya.
Sementara kunjungan ke berbagai tempat ibadah, seperti Masjid Agung, Gereja Blenduk, dan Klenteng Tay Kak Sie, juga dilakukan untuk mengajarkan anak-anak tentang pluralisme, hal yang selama ini tak pernah tersentuh dalam komunitas yang homogen di lingkungan mereka.
“Saya ingin menyampaikan kepada anak-anak bahwa kebersamaan tidak berarti harus sama,” tuturnya.
Upaya Agung ini memang tidak langsung berjalan lancar. Awalnya, niat baiknya dicurigai warga sekitar karena sebelumnya ia termasuk orang yang “nakal”. Tak jarang ada yang mengolok-olok dirinya sok baik atau sok alim. Namun, setelah cibiran itu mereda, ia malah dibicarakan miring ketika Komunitas Harapan mendapatkan bantuan dari Dinas Pendidikan Kota Semarang untuk meninggikan rumahnya yang kerap tergenang banjir. Saat itu, Kali Semarang kerap meluap dan rumahnya yang lebih rendah dari jalan selalu kebanjiran.
Meskipun demikian, Agung tetap berkomitmen mempertahankan komunitas itu, termasuk ketika kaki kanannya harus diamputasi karena terkena virus. Keluarga besar sempat menyarankan untuk berhenti mengurus komunitas dan fokus pada penyembuhan kakinya.Namun, ia tidak patah semangat.
Di tengah keterbatasannya, ia bahkan membuat kaki palsu sendiri. Suatu saat ia melihat pipa besar hanyut di Kali Semarang. Ia mengambil pipa itu dan muncullah ide untuk membuat kaki palsu. Maka, pipa itu disambung dengan pipa yang lebih kecil, juga batang kayu dan sepatu, hingga jadilah sebuah kaki palsu.
Akibat ide kreatifnya tersebut, seorang donatur dari Jakarta pun tergerak untuk membuatkan dia kaki palsu yang lebih baik. Agung merasa sangat terbantu dengan bantuan tersebut. Namun, hingga kini, ia mengungkapkan, memakai kaki palsu dari pipa buatannya malah lebih nyaman walaupun jika dilihat dari segi tampilan sama sekali tidak bagus.
Kini, ia masih tetap beraktivitas seperti biasa. Kegiatan anak-anak pun terus berjalan dengan para relawan yang mereka sebut “nekaters”, yang berarti orang-orang nekat. Bagi Agung, kerap kali orang harus berbuat nekat untuk berbuat baik.
Dana
Saat ini, sekitar 70 anak berusia pra sekolah hingga SMP masih rutin mengikuti kegiatan di Komunitas Harapan. Sejumlah kegiatan, seperti berbagai lomba dan bakti sosial, pun sering diadakan komunitas ini dengan dukungan dana dari beberapa donatur.
Selain itu, Agung kini juga banyak membuat aneka kerajinan tangan dari sampah. Ia menyulap botol plastik bekas kemasan minuman menjadi sapu ataupun mengubah bekas kartu telepon seluler menjadi mainan anak-anak. Ia juga mengubah sampah elektronik hingga tutup pulpen dan bekas pasta gigi menjadi miniatur sepeda motor. Setelah jadi, sekilas tidak terlihat jika hasil kerajinan tersebut berasal dari sampah.
“Tidak ada satupun yang saya beli, kecuali lem untuk merekatkan barang-barang ini. Ide-ide muncul begitu saja. Kebetulan adik saya usaha barang bekas. Saya juga banyak teman pedagang di Pasar Johar yang sering memberi saya sampah-sampah ini,” ujarnya.
Sampah jam tangan, yang biasanya dibuang begitu saja karena dijual juga tidak laku, juga disulap menjadi sepeda motor miniature. Dalam sehari, ia bisa membuat 1-2 produk, yang kemudian ditawarkan melalui laman jejaring sosial Facebook.
“Namanya rezeki bisa datang kapan saja. Kadang ada yang tertarik lalu beli, kadang juga tidak. Tetapi intinya, saya ingin menyebarkan semangat bahwa sampah yang sekarang menjadi masalah dapat kita olah menjadi barang yang berguna,’ ujar Agung.
Anak-anak pun, melalui Komunitas Harapan, diajarkan sejak dini untuk memanfaatkan barang-barang yang sudah tidak terpakai di sekitar mereka untuk dijadikan mainan atau perlengkapan berguna lain. Botol-botol plastik bekas susu, misalnya, dengan sedikit kreativitas, dapat menjadi boneka atau tempat pensil.
Harapan pun terus ditebar hingga anak-anak itu dapat meraihnya pada masa depan.
Sumber: KOMPAS, SABTU, 4 APRIL 2015

