Oleh : Bambang Sigap Sumantri
Pengalaman itu guru terbaik. Klise, kata orang. Tidak bagi Agung Trisnawanto. Pendidikan hanya sampai kelas dua SMP bukan berarti tidak punya masa depan.Berbekal pengalaman, pada usia 34 tahun, dia sudah punya rumah megah yang sampai sekarang terus dibangun dengan luas tanah hampir 1.000 meter persegi di Kalangtalun, Wukirsari, Imogiri, Bantul, Daerah Istimewah Yogyakarta. Tiga mobil nongkrong di garasi. Cita-citanya mengembangkan masyarakat yang mandiri semakin mewujud.
Agung Trisnawanto
Lahir : 17 Agustus 1983
Istri : Triyanti
Anak : Afika Putri (5 tahun)
Pendidikan Terakhir : Kelas 2 SMP
Agung, anak penjual burung. Sejak remaja selepas keluar sekolah mengikuti jejak orang tua menjadi pedagang berkeliling kota memikul burung di pundaknya. “Dalam satu angkatan pikulan, saya membawa 24 burung, belakang 12, belakang 12. Enggak berat, tapi karena keliling kota lama-lama klenger (kehabisan tenaga), “ katanya mengungkapkan masa lalu di rumahnya, Senin (24/7). Kini, da berprofesi sebagai penangkar burung yang memasok pasar penjual burung legal jenis apa pun.
Guru kehidupan Agung memang seru. Tahun 1998, dia berjualan di Madiun, Jawa Timur, mengikuti teman. Siang keliling kota, malam tidur sedapatnya. Pernah tidur di Joyo, pasar besar di kota itu, malamnya lari terbirit-birit sampai kejeblos sawah karena dikejar banci. Akhirnya mendapatkan tempat tidur yang aman di pemakaman. “Saya tdur di kuburan, bersama juru kunci di samping bandoso (keranda). Kalau malam ada bunyi krenget-krenget, tanda akan mendapat rejeki karena juru kunci paginya dapat order gali kubur, “kenang Agung sambil tertawa. “Benar-benar engga masuk akal, tapi itu benar, “katanya.
Wawancara menjadi meriah karena suara burung jalak, lovebird, murai batu tak berhenti menyela. Di rumah yang dinamai IPB (istana penangkaran burung), Agung dengan rapim mengelompokkan burung sesuai jenisnya. Murai batu dalam satu deretan kandang yang terpisah dengan lovebird. Demikian pula puluhan kandang perkutut berada di ruang yang berjauhan.
“Setelah krisis, banak kerusuhan, saya ke Bali. Tahun 1999, yang krisis, kan, Jawa, surganya di Bali. Dollar AS menguat, wisatawan meledak di Bali. Alhamdulillah, dagangan laris. Jual burung tiga hari langsung ludes. Saya bahkan mampu menyewa tempat untuk toko burung di Gianyar dan Ubud sampai sekarang, “ujar Agung.
Pengalaman pahitnya, kadang sangkar burungnya ditendang dan dikejar-kejar oleh tim penertiban umum di pulau wisata itu sebelum berhasil menyewa lahan.
Setelah menekuni liku-liku penjualan burung, Agung merasakan menangkap burung dari alam semakin sulit, padahal permintaan tinggi. Dia pernah mencari pasokan sampai di kota-kota lain, tetapi harga jual menjadi lebih mahal karena harus menambah ongkos transportasi. Tahun 2010, dia pindah ke Imogiri menekuni penangkaran burung supaya bisa terus memasok tokonya di Bali, tetapi juga permintaan yang datang dari Jakarta, Bandung dan Surabaya.
Desa Wukirsari, tempat tinggal Agung, sejak beberapa tahun terakhir dikenal sebagai destinasi wisata unggulan di Kabupaten Bantul. Perajin batuk tulis, tatah sungging wayang, dan bambu masih lestari. Ada pula objek wisata makam raja-raja Mataram dan makam seniman Sapto Hudoyo. Sedikit banyak, pergaulan dengan pelaku wisata dan turis yang datang ke Wukirsari memengaruhi pikiran Agung untuk mengembangkan masyarakat di desanya agar semakin siap dengan kepariwisataan.
Gagasannya terus mengalir. Berawal dari penjualan burung, lalu ke penangkaran, dan yang terakhir mulai terwujud di desanya, Agung mendirikan taman wisata pendidikan penangkaran burung. Halaman belakang rumah Agung yang masih luas kini sudah disiapkan untuk menjadi tempat pendidikan sekaligus sebagai tontonan baru bagi wisatawan yang datang ke Wukirsari.
“Nanti kalau semua sudah jadi, rumah ini hanya sebagai tempat wisata pendidikan pengangkaran burung. Jika ada pengunjung yang tertarik membeli atau menangkarkan burung, kami akan mengarahkan ke rumah penduduk sekitar sini yang sudah siap sebagai, “ ujar anak pertama dari tiga bersaudara itu”.
Sewaktu menuju rumah Agung, puluhan rumha terlihat sudah memasang papan nama sebagai pengangkar burung. “Ya, rumah penangkaran itu baru beberapa bulan yang lalu. Mereka kerja sama. Mulai dari yang gampang penangkaran perkutut, bibit dari saya lalu memakai sistem galuh (bagi hasil),” ujarnya.
Menambah Keterampilan
Perkutut termasuk burung yang mudah ditangkarkan. Sehari hanya perlu memberi makanan satu kali. Setelah itu perkutut akan berkembang sendiri, bahkan bisa dilakukan oleh ibu-ibu.
“Istilahnya, sebelum mengantar sekolah anak, kasih makan sebentar setelah itu ditinggal, gak usah dipantau lagi. Gampang. Jika sudah menetas dan anaknya makin besar, biarkan di kandang, nanti akan menetas lagi, “paparnya.
Perkutut berbeda dengan burung ocehan, burung berkicau semacam murai batu, lovebird, jalak, dan cucak rowo yang lebih sulit penangkarannya.Harga burung dengan kicauan memukau rata-rata mahal. Penanganannya pun sulit.
“Cucak rowo yang paling ribet, tingkat stresnya tinggi. Kalau mengeram terganggu, telurnya akan pecah, sarangnya di bongkar, “katanya.
Untuk cucok rowo, masih berbentuk telur, orang berani inden (menitip uang). Harga sepasang, umur tiga bulan, bisa Rp 10 juta. “Kalau cucak rowo berhasil ditangkarkan, bagaikan mendapat mesin ATM, sama dengan murai medan sekarang ini pasarannya, “ujar Agung.
Ia sama sekali beum pernah membaca buku tentang buku atau penangkaran. Seandainya ada burung yang sakit, dia juga tidak membawanya ke dokter hewan. Semua berdasarkan pengalaman, coba-coba (trial and error).
“Nanti, akhirnya akan dapat jalan juga. Dicoba pakai ini gak bisa, pakai yang lain, akhirnya bisa. Misal ada burung yang sakit, diberi obat cacing, belum sembuh diberi irisan bawang putih, tau diperbaiki lingkungannya agar burung menjadi nyaman, “katanya.
Agung sekarang melangkah lebih jauh lagi. Penangkar dan penduduk sekitar Karangtalun diberi latihan berbagai keterampilan untuk berjaga-jaga saat burung tidak laku lagi.
“Kebetulan ada dosen dan mahasiswa Istitut Seni Indonesia Yogyakarta yang mau memberi pelatihan. Bila berhasil, produknya bisa dijual kepada wisatawan yang mengunjungi penangkaran. Penduduk akan semakin mendapat keuntungan, semakin mandiri dan sejahtera, “ucapnya.
Sumber: Kompas. 4 Agustus 2017. Hal.16

