Siasat Pangeran Kunang-Kunang. Kompas.17 September 2016.Hal.16

Sejak cerpennya dimuat di surat kabar nasional tahun 1988. Agus Noor menetapkan jalan hidupnya sebagai sastrawan. Ia mengarungi dunia menulis yang soliter sambil bergelut di dunia teater solider. Kini, ia menjadi satu dari dari sedikit seniman Indonesia yang konsisten dan produktif berkarya.

Oleh: Budi Suwarna & Aryo Wisanggeni Gentong.

Akhir Agustus lalu, kami bertemu Agus Noor di sebuah rumah besar di kawasan Tebet Barat, Jakarta Selatan. “Hari ini, saya menyediakan waktu khusus untuk kamu,” katanya sambil tersenyum.

Seniman berusia 48 tahun yang terkesan santai dan urakan itu sesungguhnya orang yang tertib. Ia disiplin membagi waktu untuk menulis, menyiapkan pertunjukan, nge-gym, nongkrong di kafe, dan berceloteh di dunia maya. “Penulis ini mesti mengatur dirinya sendiri agar tetap waras dan produktif, ha-ha-ha,” katanya.

Siang itu, Agus Noor membiarkan laptopnya tetap hidup. Di sana ada jejak naskah yang belum kelar. Ia sedang menyiapkan naskah Hakim Sormin untuk Teater Gandrik yang mengisahkan para hakim yang berbondong-bondong masuk ke rumah sakit jiwa,

Hakim Sarmin hanya satu dari sekian garapannya. Ia terbiasa mengerjakan beberapa tulisan sekaligus. “Saya memasang target. Setiap bulan, saya mesti menulis empat cerpen, beberapa naskah televisi, dan draft-draft novel.”

Sebagian karyanya ia simpan dan keluarkan satu per satu. Begitu ia bersiasat agar karynya eksis lebih lama. “Ada cerpen yang saya tabung dan akan saya keluarkan nanti pada masa pension. Penulis, kan, tidak punya uang pension, ha-ha-ha.”

Ia mengaku bisa menulis di rumah atau di kafe. Saat menulis, ia menjadi makhluk soliter yang seolah putus dengan dunia sekitar. Ia tenggelam dalam imaji-imaji aneh, termasuk sering membayangkan dirinya menjelma menjadi kunang-kunang, hewan yang menurut dia mistis sekaligus romantis. Kata kunang-kunang bertebaran di cerpen-cerpennya sehingga ia dijuluki penggemarnya “Pangeran Kunang-kunang”.

Manusia Solider

Selesai menulis, ia kembali berproses bersama teman-temannya di teater. Ia pun menjadi manusia solider yang rindu bertukar gagasan dan ego. Ia kembali menyapa “Jemaah”-nya di sosial media dengan cuitan, kutipan mini fiksi, atau sekedar ucapan terima kasih kepada follower barunya di Steller atau Twitter.

“Aku tidak ingin menjadi penulis penyendiri, merasa sebagai nabi yang mewakili zamannya, padahal ide-idenya belum tentu sesuai dengan hasrat dan impian pembaca. Aku memilih menjadi penulis yang menyelami perubahan zaman sehingga ide-ideku punya relasi dengan masyarakat sekarang.”

Dengan cara itu, ia jadi lebih peka menangkap perubahan. Pertengahan 2000-an misalnya, ia melihat gejala menguatnya intoleransi dan disintegrasi di Tanah Air. Orang makin sensitif terhadap perbedaan.

Merespons fenomena itu, ia bersama Butet Kartaredjasa Djaduk Ferianto menggagas Indonesia Kita, forum para seniman bekerja sama merancang pentas yang merangsang imajinasi keindonesiaan. Mereka mencari tali pengikat sebagai bangsa.

“Selain bahasa Indonesia, tali pengikat saat ini  ternyata produk budaya pop. Generasi muda mengidentifikasi keindonesiannya, misalnya, melalui lagu-lagu Slank atau Iwan Fals, kita tahu di situ masih wilayah Indonesia.”

Karena itulah, Indonesia Kita memberi tempat luas pada produk budaya pop di sejumlah daerah, seperti hip hop jogja dan telempong rock minang. Sejumlah lakon telah dipentaskan, antara lain Laskar Dagelan, Bata Maluku, dan Kabayan Jadi Presiden. Agus menulis naskan dan menyutradarai sebagian besar pentas itu.

Indonesia Kita digelar rata-rata empat kali setiap tahun mulai dari 2011 hingga 2016. Ini pentas yang paling teragenda dan rutin di Jakarta, biasanya digelar setiap Maret. Konsistensi itu berhasil membangun komunitas baru penonton teater di Jakarta, yang sebagian adalah kalangan eksekutif dan kaum muda urban. “Setiap Maret mereka sudah mengagendakan nonton Indonesia Kita,” ujar Agus,

Ini menunjukkan, pasar teater di Jakarta itu ada dan punya daya beli tinggi. Justru pertunjukkan teaternya yang masih jarang sehingga mereka akhirnya terbang ke Singapura atau Amerika Serikat sekedar untuk nonton teater. “Kedepan, kami ingin bisa pentas dua kali sebulan.”

Untuk itu, Agus dan kawan-kawan berusaha mengelola pertunjukan teater secara modern. “Zaman menuntut itu. Nah, banyak kelompok seniman tidak siap dengan tuntutan. NPWP saja enggak punya, bagaimana mau dapat sponsor pertunjukan,” tambahnya.

Ke Yogyakarta

            Agus berasal dari keluarga yang sederhana di Tegal, Jawa Tengah. Ketika kecil, ia cadel. Untuk mengatasi kekurangan itu, orangtuanya menyuruh bocah itu membaca buku apa saja dengan suara keras. Tiap hari membaca ia jatuh cinta pada buku.

AGUS NOOR

  • Lahir: Tegal, 16b Juni 1968
  • Pendidikan:
  • SMP Negeri I Margasari Tegal
  • SMA 17/I Yogyakarta
  • Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
  • Penghargaan
  • Cerpenis Terbaik Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) IV (1992)
  • Anugerah Cerpen Indonesia oleh Dewan Kesenian Jakarta (1999)
  • Karya Terbaik Majalah “Horison” selama kurun waktu 1990-2000
  • Anugerah Seni dari Menbudpar (2006)
  • Pemenang Cerpen Terbaik “Kompas” 2011
  • Buku (antara lain): Bapak Presiden yang Terhormat, Selingkuh Itu Indah, Matinya Toekang Kritik, Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia (2007), Ciuman yang Menyelamatkan dari Kesedihan, Cerita buat Para Kekasih, Barista Tanpa Nama.

Orangtuanya menjual buku, novel, majalah, buku anak-anak, dan koran. Sebelum majalah dkirim ke pelanggan, Agus membacanya lebih dulu. Ia melahap novel John Steinbeck, Dataran Tortila, dan novel Iwan Simatupang, Kering dan Ziarah.

Masuk SMP, ia kian keranjingan membaca dan mulai menulis puisi cinta pesanan teman-temannya. Suatu ketika, ia bertemu sastrawan angkatan 66 asal Tegal, Piek Ardijanto Soeprijadi. Piek menyarankan Agus meneruskan SMA ke Yogyakarta agar bertemu dengan seniman-seniman besar.

Orangtua Agus tidak setuju. “Kami tak punya saudara di Yogyakarta. Lagi pula orang Tegal lazimnya merantau ke Jakarta supaya bisa buka warteg, ha-ha-ha,”

Pemuda itu nekat merantau dan sekolah di Yogyakarta. Namun, alih-alih duduk manis di kelas, ia malah suka keluyuran ke berbagai perpustakaan, toko buku, atau kios penyewaan buku. “Pernah tiga bulan tidak masuk sekolah karena keasyikan baca Kho Ping Ho, ha-ha-ha,” kenang Agus yang tiga kali pindah sekolah.

Di SMA terakhir. SMA 17/I Badran, ia bertemu Nunik T Harayani, guru Sastra dan Bahasa Indonesia yang juga penulis. Guru itu mendorong Agus ikut kelompok teater dan nonton pertunjukan.

Ketika kuliah, Agus mendatangi tempat nongkrong para seniman. Bertemulah ia dengan Indra Tranggono, Butet Kartarejadsa, Emha Ainun Nadjib, Genthong HAS, Bakdi Soemanto, Umar Kayam, Ashadi Siregar, dan Linus Suyadi Ag. Agus rajin menyerap ilmu sastra dan teater dari mereka.

“Linus bilang, ‘Gus, kamu lebih bagus kalau nulis cerita daripada nulis puisi,” kenang Agus yang merasa gayanya menulis naskah teater sangat dipengaruhi Emha.

Agus akhirnya menetapkan jalan hidupnya sebagai penulis ketika cerpennya, Kecoa, dimuat harian Kompas tahun 1988. “Cerpen itu saya pigura ha-ha-ha,” katanya. Banyak cerpen Agus masuk dalam ontology Cerpen Pilihan Kompas.

Sejak saat itu, Agus benar-benar hidup dari menulis, “Saya telah memilih jalan yang benar, melakukan sesuatu yang saya cinta dan membahagiakan,” katanya.

Sumber:  Kompas, 17 September 2016.