Berawal dari membina pertanian organik, Agus membuat tempe dari berbagai biji-bijian.  Lebih afdal kalau dimakan mentah.

Tempe mentah?  Kayak apa rasanya?  Apa enak?  Wajar kalau orang tanya-tanya begitu, when diajak mak an tempe mentah untuk kali pertama.

“Rasanya, ya enak. Kalau belum biasa mungkin agak aneh,” tutur Agustinus Priyanto atau Agus  Tempe, pengajur makan tempe dengan cara yang agak kurang lazim ini.

“Tapi boleh juga sih, kalau mau dimakan sama makanan lain, misalnya kurma atau díbikin jus tempe.”

Jika dibilang mentah, sebenarnya tidak terlalu tepat. Sebab, dalam proses pembuatannya, paling tidak kedelainya sudah direbus kemudian dikukus sebelum akhirnya menjadi tempe.  Apalagi proses peragiannya juga dilakukan dalam kemasan plastik, sehingga sangat higienis.

Bukan tanpa alasan bila Agus mengajak untuk mengonsumsi tempe apa adanya ini.  Jika langsung dikonsumsi, kandungan probiotik di dalam tempe masih utuh utuh.  Sedangkan kalau tempe dimasak, dipanaskan misalnya, kandungan probiotik yang bermanfaat bagi sistem pencernaan itu akan berkurang atau malah mungkin hilang sama sekali.

Kenapa harus dihilangkan demi rasa yang enak? Pilihlah makanan yang sehat. Kalau enak, itu bonusnya, “kata pria kelahiran Yogyakarta, 65 tahun silam, yang kemudian memproduksi tempe bermerek” Agus Tempe “. Dibanding  Tempe-tempe yang biasa kita kenal, tempe buatan Agus punya kelebihan karena terbuat dari kedelai lokal organik, non-GMO (organisme dengan modifikasi genetik).

Beda dengan masyarakat tempe (serta tahu) di pasar-pasar tradisional yang umumnya terbuat dari kedelai impor.  Asal tahu saja, setiap tahun, Indonesia sekitar 2,5 juta ton, di mana yang paling populer tempe.

Dengan pemakaian keledai non-GMO, setidaknya kita tidak perlu khawatir dengan dampak buruk dari tanaman yang dikembangkan melalui rekayasa geneti ka ini.  Apalagi dalam proses budidaya, lokal asal Jawa Tengah ini dijamin bebas dari paparan herbisida yang dapat merugikan kesehatan.

 Bertemu komunitas organik

            Terjunnya Agus Dalarm dunia pertempean, berangkat dari ketidaksengajaan.  Berawal ketika ia mendampingi para petani di Majalengka, Jawa Barat, dalam mengembangkan tanantan organik dan pupuk kandang.  Ketika itu, tanaman yang dibudidayakan antara lain pedang koro.

Sebagai pendamping.  Agus berpikir, hasil pertanian sebaiknya jangan langsung dijual begitu saja.  Kalau diolah lagi, nilai jualnya lebih tinggi, Salah satu pilihan, koro pedang dijadikan tempe.  Upaya coba-coba tempe koro itu kemudian dibuatkan sebatas pada lingkungan terdekat saja.  “Kalau ada yang minta, ya dikasih saja.

Kalau ada yang beli, senang sekali,” kenang Agus yang memulai Berlabel makanan sehat, produk-produk Agus Tempe banyak diminati komunitas gaya hidup sehat usaha di rumahnyu, di kawasan Pondok Melati, Bekasi, tahun 2012. Masa produksi tempe koro yang meningkat, Agus juga bertemu Komunitas Organik Indonesia, sebuah komunitas yang rupanya sejalan dengan  misinya sebagai penganjur hidup sehat.  Bergerak bersama para pengrajin produk- produk hidup sehat itu, tempenenya semakin populer.

Produk-produk tempe buatan Agus semakin berkembang dengan variasi biji-bijian: koro pedang kedelai hitam, kacang hijau, dan kedelai biasa.  Agus justru baru meng- Karap tempe kedelai setelah tiga tahun berjalan.

Belakangan, tempe kedelai juga ditingkatkan kualitasnya menjadi tempe kencur, tempe kayumanis, tempe kunyit, tempe kelor dan stevia, tempe keju, serta tempe spirulina (ganggang laut).

Produk Agus Tempe dikemas dalam satuan 200g, 250g dan 300g.  Harganya mulai dari Rp6.000 (tempe koro 250g) sampai Rp15.000 (tempe spirulina).

“Penambahan varian bumbu- bumbu cuma sebagai nilai tambah saja.  Kalau dari sisi rasa tidak begitu berbeda.  Walau belakangan ada yang meneliti, tempe dengan spirulina mengandung lebih banyak antioksidan, “tutur kakek dua cucu yang jauh terlihat muda dari usianya ini.

Sesuai GMP

Berlabel makanan sehat, produk-produk Agus Tempe akhirnya banyak diminatioleh komunitas- komunitas gaya hidup sehat. Ada raw  food combining, vegetarian, komunitas para penyintas seperti penyakit autoimun, penyakit kanker, sampai autisme.

Menyadari kondisi demikian, Agus memasarkan produknya dengan pendekatan berbeda Salah satunya, silakan pesan, sampai nanti bayarnya setelah barang datang Sebab dia percaya, produk- produknya digunakan oleh mereka yang benar-benar butulh dan mungkin kondisinya tidak beruntung.  Sebagian konsumennya memang mengenal produknya atas anjuran dokter atau postingan dari media sosial.

Tentu risikonya, sebagian dari pembeli yang akhirnya “lupa” membayar.  Sampai hari ini, modal Agus yang termakan kemampuan daya ingat itu cukup lumayan.  Namun ia santuy saja, tak masalah.  “Rezeki sudah ada yang atur,” kata Boss dari 5 karyawan yang saat ini bisa mengolah 50-75 kg kacang kedelai per hari.

Tidak hanya berdagang, bela- kangan Agus juga rajin memberikan bengkel pembuatan tempe sehat di berbagai tempat di Indonesia.  Empat sampai enam kali sebulan, ilmunya antar masyarakat (kebanyakan ibu-ibu) termasuk kepada orang-orang yang ingin jadi perajin tempe.  Sekali lagi, misinya memang mengajak orang untuk hidup sehat.  Karena itu Agus tak takut tersaingi.

Bukan cuma produknya, Agus juga memperkenalkan pembuatan tempe yang sesuai kai- dah good manufacturing practices.  Antara lain menggunakan peralatan dan proses produksi yang higienis.  Apakah ini berarti produksi tempe secara tradisional belum memenuhi syarat kesehatan?  Hmmm, tanggap- an Agus cuma senyuman.  Tidak, komentar sajalah.

Bahkan ada kelebihan lain, Agus berani menjamin produksinya menggunakan lebih sedikit udara dan energi.  Air rendaman kedelai juga bisa dimanfaatkan untuk pupuk.  Jadi, produksinya juga berkontri- busi terhadap kelestarian alam.  Makan tempe “mentah”? Kenapa tidak.

 

Sumber: Intisari. No.690 Maret 2020. Hal.118-122