Dari satu komunitas sastra di kampus , Ahmad Khairudin (31) merangkul anak muda di Semarang, Jawa Tengah. Mereka berkarya nyata dan bergerilya membuaka mata warga urban agar peduli pada pebagai persoalan di kampungnya. Seni menjadi pintu masuk.
Oleh Aditya Putra Perdana
“Saat kuliah, ketakutan terbesar saya bukan setelah lulus lalu mau kerja apa. Ynag paling mencekam adalah lembaga ini mau diapakan?” kata ahmadt khairudin atau lebih sering disapa Adin, Rabu (1/3). Lembaga yang dimaksud adalah komunitas yang ia dirikan 13 tahun silam, Hysteria.
Adin berkaca pada kenyataan bahwa sejumlah seniornya di kampus gagal mempertahankan idealisme mereka bersama komunitas. Pda 2004, dia dan beberapa kawannya mendirikan hysteria, kelompok mahasiswa sastra di kota Semarang, Jawa Tengah. Kegiatan mereka awalnya sebatas penerbitan bulletin puisi, cerpen dan esai.
Dalam perkembangannya, Hysteria mulai menggelar diskusi, pameran, hingga pertunjukan music, itu dilandasi keresahan Adin terhadap minimnya aktivitas berkesenian di ibu Kota Provinsi Jawa Tengah itu. Dengan dana terbatas, acara rutin digelar di garasi markas mereka, di Jalan Stone, Semarang.
Bergerak secara komunal, mereka menggelar acara di kampong-kampung tengah kota. Meskipun digelar dengan biaya seadnya, acara tetap meriah. Salah satu kuncinya adalah pelibatan warga.
Minim Ruang Kreasi
Hasrat Adin pada seni dilatarbelakangi masa kecilnya di desa yang serba terbatas, termasuk mendapatkan akses bacaan komik atau buku cerita. Kecintaannya pada seni hanya bsa terobati oleh seni wayang. Tiap ada pertunjukan, dia selalu meminta ayahnya membnagunkannya untuk menonton wayang.
Keterbatasan akses terhadap kesenian itu pula yang dijumpai di sejumlah kampus di Semarang. Oleh karena itu, melalui Hysteria, dia menyediakan ruang untuk karya seni sastra. Sejak lama, medium untuk berkarya sastra sangat terbatas. Yang ada hanyalah pers mahasiswa. Karena itu, puisi, cerpen, dan esai pun mereka masukin dalam bulletin.
“ Dua tahun pertama, bulletin kami masih berupa fotokopi. Setiap edisi, jumlah halaman berbeda-beda. Kadang 1 lembar, 4 lembar, hingga 10 lembar,” ujar Adin. Saat itu setiap bulan, bulletin pasti terbit, setidaknya satu kali.
Terkenal sebagai komunitas sastra, pada 2006, Adin dan kawan-kawan memperluas kebidang lain, seperti seni rupa dan teater. Mereka cari dana dari sponsor atau lembaga donor.
Adin mengatakan Hysteria juga melakukan pemetaan, dokumentasi, serta poste. Pada 2007-2009, Hysteria bahkan memiliki poster berisi jadwal acara-acara poster gigs atau pertunjukan music di Semarang. Mulai 2010 hingga kini, mereka memiliki semua jadwal kegiatan acara di Semarang, paling tidak, yang mereka ketahui.
Adin menyadari, dinamika seni budayaan di Semarang jauh dibawah kota-kota lain. “Dalam skema seni, Semarang itu kota kecil. Mau dibantah bagaimanapun, ya, memang seperti itu. Kota utamanya tetap bandung, Jogyakarta, Jakarta,” ujarnya.
Menurut Adin, hal tersebut bisa diukur dari sejarah da infrastruktur yang tersedia dikota-kota tersebut. Berapa banyak lembaga atau sanggar yang aktif dalam 1-2 tahun terakir. Di semarang, grafiknya naik turun.
“Jika banyak orang bilang semarang itu ‘kuburan seni’, ya, memang seperti itu. Banyak kelompok seni yang hanya bertahan 1-2 tahun atau musiman. Kami konsisten, tetapi dalam skala komunal,” kata Abidin.
Peduli Isu Kota
Kondisi semarang tidak membuat Adin pasrah. Dia terus membuka jejaring dan berkunjung kesejumlah tempat, yang menjadi pusat kesenian. Tidak Cuma diindonesia, tetapi tetapi beberapa kota di dunia. Selain bandung, jogyakarta, dan Jakarta, Adin juga mencari ilmu ke Negara-negara lain, seperti Jerman, Jepang, dan Salandia Baru. Untuk biaya, dia mengajukan kepada lembaga-lembaga yang peduli kepada para seniman dan curator dari Negara dunia ketiga.
Dalam perjalanannya, Adin, yang saat ini sedang mengambil kuliah S-2 Antropologi di Universitas Indonesia, menyasar isu-isu kota. “ karena bagaimanapun, apa yang terjadi di kota akan kembali kepada kita. Sementara yang bisa kami lakukan hanya seni. Itu yang melandasi kami beberapa tahun terakhir membuat banyak program di sejumlah kampong di Semarang,” katanya.
Hingga kini, Adin dan kawan-kawan telah memilii jaringan di 13 kampung asli di Semarangdi antaranya adalah Bustaman, Malang, Petemesan, randusari, kamijen, dan tapak. ‘Basisnya adalah menjadikan seni sebagai bagian dari kativitas warga kampong di tengah kota yang selama ini terjebak pada sumpeknya pembangunan,” katanya.
Selain mempercantik ruang kampong, mereka juga berupaya memberikan kesadaran warga untuk ikut menjaga lingkungannya bermukim. Mereka juga menggelar acara music tahunan, seperti kota Listrik, yakni Festival music elektronik.
Selain itu, ada juga Grobak Bioskop, yakni pemutaran dan diskusi film di kampong-kampung juga dikampus-kampus. Mereka juga menginisiasi dialog isu-isu kota melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Mulai dari isu sampah, tata kota, bajir, hingga budaya. Salah satu topic yang kini digencarkan adalah soal kampong-kampung asli Semarang yang terdesak pembangunan. Pada-kampung asli menjadi akar peradaban kota pesisir ini. “ lewatpendampingan, kami ingin sebanyak komunitas berkembang di Semarang,” kata Adin. Kini, selain Adin sebagai direktur, tim inti Hysteria dibantu Purnama Cipta sebagi manajer program dan Oktav Bagus sebagaib manjer ruang. Mereka dibantu tujuh pengurus.
Setelah belasan tahun bergiat, Adin menilai,pemerintah kota masih kurang memberikan ruang kreasi bagi warganya. Padahal, ruang-ruang public di Semarang semestinya bisa dihidupkan untuk aktivitas-aktivitas seni yang membuaka pengetahuan warga tentang kotanya sendiri.
Untuk mengatasi kondisi itu, Adin dan komunitas Hysteria bergerilya membuka ruang-ruang kreatif di kampung-kampung di tengah kota.
Ahmad khairudin
- Lahir : rembang, 7 Juli 1985
- Aktivitas : Direktur Komunitas Hysteria
- Pendidikan :
- SD Negeri 1 Kedungasem, Rembang
- Madrasah Tsanawiyah Muallimin, Rembang
- Madrasah Aliyah Negeri lasem, Rembang
- S-1 Sastra Indonesia Universitas Diponegoro
- S-2 Antropologi Universitas Indonesia (berlangsung)
- Pengalaman
- Main Exhibition Manager Biennale Jogja XI_Jogjakarta November 2011-januari 2012
- Direktur CV Sekararum, Semarang, 2014-sekarang
- Direktur Pekakota Project bekerja sama dengan Ushahidi (Kenya), Februari-Agustus 2015
- Pembicara Kunci Internasional Conference Of Crisis mapping 7, Pasing, Filipina, Semptember 2016
- Karya
- Antologi puisi (2007) Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta
- Jogglo 4, cerpenis terpilih antologi puisi (2007) taman budaya jawa tengah, Surakarta
- Mencari Rumah – Antopologi puisi (2008) Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta
- Aku ingin mengirim Hujan – Antopologi puisi (2008) Komunitasku dan Dewan kesenian Semarang, Semarang
- Anak-anak Peti – Antopologi puisi (2008) komunitas sastra Indonesia Kabupaten semarang.
Sumber : Kompas.14 Maret 2017.Hal.16

