Menurut Risiko Mengidap Kanker
“Banyak perempuan yang telat menyadari bahwa dirinya mengidap kanker. Biasanya bertemu kanker saat sudah di fase lanjut. Sekitar sudah 70 persen.”
DOKTER CHARLES SIAHAAN SPOG
Spesialis Obstetri & Ginekologi
Empat Februari diperingati sebagai Hari Kanker Sedunia. Dalam memperingatinya, RSIA Putri Bersama dr Charles Siahaan SpOG menggelar talk show daring dengan tema Kenali dan Cegah Kanker Serviks. Tema kanker serviks diangkat karena dianggap menjadi salah satu kanker yang masih menjadi momok. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga di dunia.
Pada 2018 silam, Charles mengungkapkan bahwa jumlah kasus kanker tersebut di seluruh dunia masih di angka 517 ribu. Sementara itu, jumlah perempuan yang meninggal mencapai 311 ribu.
Karena itulah, kanker tersebut menjadi kanker nomor dua yang masih menjadi hal menakutkan setelah kanker payudara. Padahal, kanker tersebut dianggapnya adalah kanker yang masih bisa dicegah.
“Soalnya kita tahu virusnya dan ada vaksinnya,” terangnya. Namun, yang disayangkan adalah banyak perempuan yang telat menyadari bahwa dirinya tengah mengalami kanker tersebut. “Kita biasanya bertemu kanker ini saat sudah di fase lanjut. Sekitar sudah 70 persen,” tuiturnya.
Charles menambahkan, masalah ketidaktahuan tersebut sebenarnya bisa diatasi dengan sosialisasi yang lebih lagi. Tapi, tentu dengan kehadiran para perempuannya. Sebab, tanpa seseorang itu tahu akan pengetahuan kanker serviks, akan sulit untuk mengetahui gejalanya.
“Karena gejalanya biasanya baru akan benar-benar kelihatan kalau sudah di stadium akhir,” tambahnya. Padahal, tanda paling awal bisa jadi saat mengalami keputihan yang berbau dan gatal. “Nah, ini biasanya hanya diobati dengan sabun-sabun khusus, terus sembuh. Padahal, itu salah,” imbuhnya.
Tanda-tanda lainnya, dia menjelaskan, yakni mengeluarkan darah saat berhubungan, muncul banyak bercak, nyeri perut bagian bawah, lemas, dan nafsu makan yang menurun. Namun, selain itu, faktor risiko menjadi hal yang paling penting untuk diperhatikan.
“Faktornya bisa karena sudah memulai aktivitas seksual di usia muda. Biasanya belasan tahun,” tambahnya. Hal-hal lain bisa disebabkan seringnya berhubungan seksual dengan multipartner, mempunyai anak banyak, terkena penyakit seksual menular, hingga gangguan imun.
Sumber: Jawa Pos. 5 Februari 2021.Hal.24.

