GENERASI milenial pasti sangat lekat dengan teknologi. Namun, pada akhirnya mereka malah melupakan banyak hal. karena sudah terbiasa menggunakan teknologi untuk memudahkan aktivitas keseharian, baik itu mengakses informasi, mengekspresikan diri, dan kemudahan berkomunikasi.
Tanpa disadari, berjam-jam smartphone berada di genggaman, bahkan bangun pagi langsung bergegas mencarinya. Media sosial menjadi keseharian. Sampai menjelang malam mata menatap layar dan mengecek update hidup orang lain.
Saatnya berhenti sejenak dan berbuat lebih banyak. bahkan di masa pandemi ini. Saatnya berhubungan kembali dengan orang-orang penting di sekitar, atau melakukan hal sederhana seperti membaca buku. Sebuah penelitian menemukan. Jika orang yang rutin membaca menunjukkan memiliki tingkat stres dan depresi yang lebih rendah, serta perasaan santai yang lebih mendominasi dibandingkan dengan orang yang suka menonton televisi atau aktivitas intens yang berkaitan dengan teknologi. Membaca pun juga bisa memberikan wawasan dari bidang di luar pengalaman dan keahlian ang dapat diterapkan dengan cara baru.
Membaca tidak hanya meningkatkan keterampilan kognitif, tetapi juga meningkatkan pengetahuan, memperluas kosakata, dan memperluas perspektif. Demikian juga dengan menulis, sebuah aktivitas menuangkan buah pikiran ke dalam sebuah rangkaian huruf.
Beranjak dari pergumulan itu, Perpustakaan Universitas Ciputra Surabaya mengadakan ffalk (Innovation Talk) dengan tema Become Insightful Millennials by Reading and Writing yang digelar dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional 2021. Acara yang diadakan melalui Zoom pada Sabtu (23/7/2021) itu untuk mendapat wawasan tentang pentingnya mem- baca dan menulis di dunia, digital saat ini. Pada acara yang dimulai pukul 09.00 WIB dan dipandu oleh Jacqueline Angelina Kwari (President of BMI Student Union) itu, mengundang Abinaya Ghina Jamela (Naya)
Naya seorang penulis anak dan founder Sahabat Gorga. Ia membagikan pengalamannya yang telah menulis empat buku. Selain menjadi penulis, Naya juga membuat sebuah komunitas yang membantu anak-anak menulis dan berpikir kritis bernama Sahabat Gorga.
Yona Primadesi, ibunda Naya, menceritakan, untuk membiasakan Naya bisa menulis dan membaca adalah dengan cara membangun sebuah ekosistem dengan membatasi penggunaan gawai untuk Naya. Ia juga tidak bermain gawal di depan Naya. Sebagai gantinya, Yona mengajak Naya melakukan aktivitas dengan cara bermain dan juga berinteraksi serta melakukan kebiasaan baru. Kebiasaannya adalah mengajak Naya untuk membaca 15 menit sebelum dan sesudah tidur.
“Orang tua zaman sekarang harus menjadi fasilitas untuk anak. Di dunia yang serba digital, para orang tua harus bisa membangun ekosistem yang menyeimbangkan antara bermain dan belajar. Itu sudah menjadi tanggung jawab orang tua untuk menyediakan bacaan ataupun buku yang berkualitas untuk dibaca oleh anak-anak,” kata Yona.
Di waktu yang sama. Janice Kariyadi, mahasiswa International Business Management International Class & seorang storyteller, menceritakan, untuk membantu orang lain agar suka membaca buku adalah dengan memulai dari diri sendiri membaca buku yang disuka. “Kalau memang kita menyukai buku ilustrasi, ya, kita baca (buku) thustrasi. Kalau kita suka komik, ya, baca komik,” tutur Janice yang kerap membuat review dari buku yang la baca dan dibagikan ke media sosial pribadinya.
la menambahkan. diperlukan bimbingan dan pengawasan dari orang tua untuk meningkatkan kesenangan anak dalam membaca. Jika anak-anak menyukai film Frozen, bacakan buku tentang Frozen agar mereka juga semangat mendengarkan dan tergerak untuk membaca.
Reading spot dan lokasi juga dapat memengaruhi minat dalam membaca. Beberapa tipe orang suka membaca di tempat yang ramai, ada juga orang yang lebih menyukai tempat yang jauh dari keramaian ketika membaca.
“Itu sebabnya, penting mencari tempat senyaman nyamannya untuk diri sendiri saat akan membaca. Itu memmengaruhi penyerapan gagasan dari buku-buku yang kita baca,” pungkas Janice.
Sumber: Surya. 11 Agustus 2021.

