SURABAYA – Anak-anak yang lemah dalam bidang olahraga sebaiknya memeriksakan organ kepalanya. Sebab, bisa jadi, anak tersebut mengalami gejala stroke.
Spesialis bedah saraf RSUD dr Soetomo dr Asra Al Fauzy SpBS mengungkapkan, selalu saja ada anak yang absen berolahraga karena keluhan sakit. Bentuknya bisa berupa sering sakit kepala. Kalau mengikuti latihan fisik lari, dia tidak bisa seperti temannya yang lain. Gerakannya tidak seimbang. “Biasanya diikuti gejala terlihat lemas saat pelajaran di kelas atau pernah kejang meskipun hanya sekali,” ujarnya kemarin (20/2).
Selama ini, banyak orang tua atau guru yang menilai itu hanya kondisi sakit biasa. Padahal, hal tersebut bisa menunjukan gejala stroke. Menurut Asra, kasus stroke sekarang tidak hanya didominasi orang dewasa. Semakin banyak anak yang juga mengalami gangguan di pembuluh darah otak.
Biasa Disebut Varises Otak
Dalam sebulan, minimal ada satu anak stroke yang dioperasi. “Kasusnya memang tidak sebanyak dewasa, namun berat dan penuh tantangan,” katanya.
Jenis stroke yang bisa diderita anak adalah arteriovenous malformation (AVM). Yakni, kelainan pembuluh darah arteri yang berhubungan langsung dengan vena. Pada orang normal, arteri masuk dulu ke jaringan otak, baru ke vena.
AVM dikenal juga dengan varises otak. Pembuluh darahnya ngruntel seperti cacing. Jika dibiarkan, varises terus membesar dan rawan pecah. Akibatnya, terjadi pendarahan otak. “Biasanya, setelah anak pingsan karena pendarahan otak, baru dibawa kerumah sakit,” tuturnya.
Alumnus Unair itu menyatakan, kasus stroke anak sebenarnya bisa dideteksi lebih awal. Sebab, AVM merupakan bawaan lahir. Caranya bisa melalui skrinning. Terutama kepada anak-anak dengan gejala sering pusing, kesemutan, dan pandangan tidak fokus.
Anak yang mengalami gangguan lemah di organ tubuh bagian kanan atau kiri juga dimungkinkan mengalami AVM. “Kalau ada tanda-tanda ini, apalagi keluarga ada riwayat stroke, seharusnya melakukan foto kepala,” ungkapnya.
Asra menyebutkan, deteksi awal itu bisa membuat anak tiak perlu menjalani operasi. Yakni, cukup dengan sinar radioterapi untuk mengecilakn varises. Proses penyembuhannya juga lebih cepat. Sebab, anak-anak sebenarnya memiliki kemampuan regenerasi saraf lebih baik daripada orang dewasa.
Kalau penyakit itu sudah berat, baru harus dilakukan pembedahan dengan mengangkat total varises. Caranya, melakukan katefer. “Ini operasi besar, makanya sebaiknya anak segera dibawa ke dokter anak atau saraf,” ucap dokter dari Surabaya Neuroscience Institute (SNef) tersebut.
Dokter spesialis saraf RS Premier Surabaya dr Rahadian Indarto Susilo SpBS menjelaskan pihaknya pernah menangani anak dengan AVM berusia 18 tahun. Sang anak adalah atlet ski air yang mendadak pingsan saat berlatih. Berdasar hasil pemeriksaan, baru diketahui bahwa dia menderita stroke.
Kondisi tersebut sebenarnya dideritanya sejak lahir. Namun, penyakit itu pelan-pelan terlihat setelah AVM membesar. Untuk penanganan, ada langkah kombinasi tindakan pembedahan. “Di embolisasi atau dibantu dulu varisesnya, baru operasi agar hasilnya lebih komprehensif,” katanya.
UC Lib – Collect
Jawa Pos.21 Februari 2016

