
Gelimang uang pernah membuat Andi Darmawan ( 37 ) tergiur men jadi pemburu hiu . Berselang tujuh tahun kemudian , dia menyadari , uang bukan segalanya dan memilih beralih menjadi pelindung spesies predator tersebut . Meskipun penghasilannya kini pas – pasan , Andi menikmati pilihan hidupnya menjaga perairan Misool , Papua Barat , dari ancaman pemburu hiu .
OLEH HARRY SUSILO & INGKI RINALDI
Sang itu , Andi Darmawan mem- bawa beberapa ekor ikan caka- Kabupaten Raja Ampat , Papua Barat Andi merogoh bagian organ dalam ikan yang penuh darah dan dilepas di bawah air laut . ” Supya hiu pada datang , ” kata pria yang biasa disapa Cagi ini , Kamis ( 12/10 ) .
Bagian ikan yang berdarah itu diki baskan di bawah air lalu dilemparkan Cagi agak menjorok ke tengah laut . Tam pak seekor anak hiu sirip putih ( Triaeno- don obesus ) meng hampiri . melahap bagian tubuh caka lang tersebut , dan melesat kabur de ngan cepat . Setelah itu , tidak ada lagi yang datang.
Caggi terbiasa memberi makan ikan hiu menggunakan ikan cakalang pada pagi hari saat sedang berpatroli di Pulau Jaam . Bapak dua anak ini kerap menginap di pos patroli untuk meng- awasi perairan palau berpasir putih yang memesana itu . Siapa sangka , di pulau indah ini kerap menjadi tempat berkumpul nelayan pemburu hiu.
Sejak tahun 2004 , Cagi dikenal sebagai pemburu hiu andal sebelum terlibat dalam konservasi hiu di per airan Misool Cagi tahu betul perilaku KARANG dan pola para pemburu hiu , Dia me ngenal sebagian dari mereka yang masih menjadi pemburu hiu . Per buruan liu di Misool sudah marak sejak 1990 – an .
Sebelum memburu hiu , Cagi per nah bekerja di perusahuan produsen mutiara di kawasın Misol Timur pada tahun 2000-2003 . Kemudian , Cagi berhenti bekerja dan menjajal menjadi nelayan pencari ikan kerapu selama setahun di Misool . Namun , ilan kerapu hanya bisa didapat saat musim angin utara .
Saat itulah Cagi diajak nelayan lain untuk memburu hiu . Dia pun ter cengang dengan hasilnya . Dalam se hari , Cagi bisa menangkap 10 hingga 20 ekor hiu dengan hasil lebih dari Rp 10 juta dalam seminggu atau Rp 40 juta sebulan . Bandingkan perubasil annya dari menangkap ikan kerapu yang hanya rata – rata Rp 2 juta hinga Rp 4 juta sebulan.
Selain Cagi , ada sekitar 20 nelayan yang aktif berburu hlu . Daerah yang sering mereka datangi swalah Pulau Jaam karena kerap dising ahi hiu Harga setiap ekor hiu bisa berbeda tergantung ukurannya Patokannya panjang kirip , ” kata.
Cagi berburu hlu dengan meng gunakan rawai , yakni sejenis alat pancing berupa tali yang da pat direntangkan hingga puluhan me ter . Bentangan tali datar itu dipasanga tali yang menjulur vertikal ke bawah la ut yang di ujungnya diberi mata pancing Satu rawai bisa memiliki puluhan mata pancing
Rawai dipasang sore hari setelah matahari terbenam dengan umpan ikan cakalang yang berlumuran darah . Paginya , dia memeriksa seluruh mata kail yang di antaranya sudah menjerat hiu . ” Hiu terbesar yang pernah saya dupat siripnya mencapai 60 senti meter , ” ujar Cagi .
Sejumlah spesies hiu yang diburu antara lain hiu sirip putil / whitetip Traenodon obesus ) , hiusirip hi tam / blacktip ( Carchartunus melang terus ) . dan hiu kontar ( Rhynchoba- tidae ) . Pembeli hiu biasanya pedagang sirip hiu dari Sorong yang rutin menghampiri rumah Cagi di Kaman pung Yellu , Misko Selatan .
Kendati penghasilan berburu hiu berlipat ganda dibandingkan saat be- kerja di perusahaan mutiara dan ne layan pencari kerapu , Cagi bingung tak pernah bisa menabung . ” Ibarat nang panas , apa yang sayn dapat dari berburu hiu selalu habis begitu saja ucap Cagi
Terlibat konservasi
Pada tahun 2006 , The Nature . Conservancy ( INC ) , lembaga nonpemerintah yang bergerak di bidang konservasi , masuk ke Kabu paten Raja Ampat , termasuk ke ka- wasan Miscol . Mereka menyosiali- susikan pentingnya konservasi per airan . Namun , Cagi menentang ha- bis – habisan upaya konservasi terse but karena dianggap mengganggu pe riuk penghasilannya .
Lima tahun kemudian , 2011 , TNC membangun sebuah pos patroli di Pulau Jaam untuk konservasi perair Kaman , terutama pencegahan perburuan hiu yang masif . TNC dan pemuda kampung setempat lalu membujuk Cagi dan istrinya agar terlibat dalam upaya konservasi hiu.
Saat itu , Cagi mengakui , harga pen jualan hiu sedang jatuh akibat isu penggunaan formalin terhadap sirip hiu . Harga beli ke nelayan ini dipengaruhi runtuhnya kepercayaan para pembeli asing , terutama di Hong Kong terhadap hiu asal Indonesia .
Terlebih lagi , Pemerintah Kabupa ten Raja Ampat sedang gencar me nyosialisasikan aturan larangan pe nangkapan hiu , pan manta , dan be berapa ikan tertentu di perairan Raja Ampat . Aturan itu dituangkan dalam Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2012. Siapa pun yang melanggar da pat dikenai hukuman kurungan sela ma setahun atau denda sekurang – ku rangnya 50 juta .
Di saat hatinya gamang , dia ber- mimpi tentang hiu . Ketika itu , dia sedang istirahat di Pulau Jaam di sela – sela memburu hiu . Dia sontak terbangun dengan keringat dingin ” Saya seperti dihantui , ” kata Cangi.
Dengan berbagai pertimbangan , Cagi akhirnya memutuskan berga- bung dengan TNC . Dia bertanggung jawab mengawasi Pulau Jaam dari aktivitas penangkapan ikan dan biota laut tertentu , termasuk dari perbu ruan hiu.
Cagi menyadari maraknya perbu- nuan membuat populasi hiu di ka- wasan Misool turun drastis . Kondisi ini mengancam keanekaragaman ha yati perairan Raja Ampat dan tentu saja berpotensi memengaruhi kun jungan wisata . Sebab , wisatawan bae nyak datang ke Raja Ampat karena keindahan bawah lautnya , termasuk ingin melihat hiu , manta , dan paus .
” Saya memberi tahu mereka ( para pemburu hiu ) , menjadi nelayan kan tidak harus berburu hinu tetapi bisa menangkap ikan lain . Apalagi , kalau banyak wisatawan datang , kan ma syarukat menikmati dampak ekono minya , ” ucap Cagi .
Setelah empat tahun bergabung di TNC , Cagi bergabung sebagai tenaga pengawas ( non – PNS ) di Badan Layanan Umum Daerah Unit Pelaksana Teknis Daerah ( BLUD UPTD ) Dinas Kawasan Konservasi Perairan Daerah Raja Ampat paxla 2015 .
Dia menjadi kepala patroli untuk mengawasi perairan Misool di sekitar Pulau Jaam . Selain Cagi , ada tiga orang lain yang direkrut dan ter gabung dalam pengawasan perairan Pulau Jam . ‘ Tidak seperti PNS , me reka mendapat honor bulanan sesuai dengan jumlah hari pengawasan . ” Ka lau sehari sya tidak masuk kerja , ya honor dipotong , ” ujar Cagi .
Kegiatan patroli di perairan Jaar sejak 2011 pun mulai membuahkan hasil seiring berkurangnya perburi an . Anak – anak hiu mulai terlihat lagi di sekitar Pulau Jaam .
Namun , dalam empat bulan ter akhir , upaya konservasi itu menemui kendala . Cagi dan kawan – kawan su dah tidak lagi berpatroli sejak Juli 2017 karena ketiadaan uang opera sional untuk pembelian bahan bakar perahu dan pengadaan logistik patroli dari Pemerintah Kabupaten Raja Am pat . Alasannya , kewenangan peng awasan laut ada di Pemerintah Pro vinsi Papua Barat .
Alhasil , siang itu hiu kembali susah dicari di Pulau Jaam . Cagi menduga hiu hiu takut muncul karena per buruan hiu kembali marak seiring tidak adanya patroli di kawasan itu , Dia berharap ada solusi agar upaya konservasi yang selama ini dia la kukan kembali berlanjut . ( CH / JAL)
Sumber: Kompas. 12 Desember 2017. Hal. 16
