Di tengah kariernya yang tengah moncer di perusahaan multinasional sekaliber IBM, pria ini memutuskan untuk keluar. la pun berhasil mendirikan kerajaan bisnis sendiri di bidang micro finance. Bagaimana kisahnya?
Penulis: Ade Komala
Pribahasa “Dimana ada kemauan, disana pasti ada jalan”, rasanya sangat cocok Garuda Putra. Bagaimana tidak, pria lulusan School of Business and Management, Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2008 lalu ini terbilang sudah sangat mapan dengan mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan multinasional sekaliber IBM Perusahaan yang amat menjadi dambaan bagi anak muda di Indonesia maupun dunia.
Namun Taufan, sapiaan akrabnya, rela mundur dari perusahaan teknologi informasi (Th) yang berbasis di New York, Amerika Serikat itu. Hal ini tak lantas membuat orang tua Taufan senang, mereka sedikit kecewa dengan keputusannya ini. Tapi apa mau dkata, kala itu keinginan Taufan sudah terlampau kuat untuk membangun usaha sendiri.
Pun begitu, kedua orang tua lama kelamaan memaklumi dan memberikan restu kepadanya. Apalagi diawal karimya pada tahun 2010, la telah mendapatkan penghargaan sebagai Young Changemaker Ashoka indonesia. Dari sini pula niat Taufan membangun kerajaan binis microfinance nya semakin bulat.
“Di tahun 2009, semula saya bertemu dengan seorang ibu yang tinggal di Desa Cisceng Bogor. Warungnya tutup, dan membutuhkan dana sekitar Rp 500 ribu rupiah untuk bisa kemball membuka warungnya. Saya meminjamkannya dengan kesepakatan ia akan mengembalikan beserta bagi hasil dari keuntungan usahanya itu,” kenang pria kelahiran 24 januari 1987 ini menceritakan awal mulan ide pendirian bisnisnya.
Dari sanalah proyek bisnisnya berangkat, hingga aktunya di tahun 2010 Amartha sebagai lembaga keuangan mikro konvensional berdiri. Tujuannya jelas, untuk menjembatani pelaku usaha di pedesan atau Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memilieu keterbatasan untuk bisa mendapatkan permodalan
Taufan menuturkan, calon peminjam biasanya memerlukan modal untuk keperluan membuka warung, budi daya Jan, atau produk UMKM lainnya. Melalui platform Amartha, pihaknya menjembatani mereka sehingga dapat memperoleh pinjaman antara Rp 3 juta hingga Rp 10 juta rupiah,
“Meskipun jumlah tersebut dinilai kecil, namun kami percaya bahwa dengan pendekatan yang tepat, kita dapat menciptakan kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia di piramida bawah,” ujar Taufan
Taufan bukan tanpa kendala menjalani bisnisnya ini, yang paling sering la temui kebanyakan orang tidak langsung begitu saja percaya. Butuh waktu bagi Taufan dan tim meyakinkan orang-orang dari luar. Ditambah diawal karirnya la sempat pula berkonflik dengan kedua orang tuanya. Selepas melanjutkan masa studinya di Harvard University, Taufan mengubah Amartha menjadi PT Amartha Mikro Fintek
Kini, Amartha sendiri telah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), bahkan melalui FinTech (Financial Technology). Taufan memodernisasi dengan membangun plattform peer-to-peer lending (P2P) “Dengan sistem ini kami bisa menganalisa kelayakan calon peminjam. Serta menghubungkan pelaku usaha mikro di sektor ekonomi informal langsung dengan pemberi modal, Jelas Taufan
Dilihat dari sisi model bisnisnya, apa yang dilakukan Taufan cukup menarik la melakukan pendekatan secara gotong royong, partisipatif, transparan, dan juga akuntabel. Taufan mengatakan, untuk begabung dengan Amartha, satu kelompok terdiri dari sekitar 20 anggota. Nantinya salah satu anggota atau kordinator yang menentukan siapa saja anggota yang bisa masuk kelompoknya. Jika mereka bisa bergabung, para anggota bahkan sudah bisa mulai mengajukan pembiayaan dan Amartha bisa mencairkannya dalam kurun waktu dua minggu
Mereka yang telah tergabung, biasanya akan mendapatkan pelatihan terlebih dahulu. “Kami berikan pelatihan tiga hari, setelah itu mereka boleh mengajukan pembiayaan dan melakukan pencairan. Tapi untuk mengajukan pembiayaan harus mendapat persetujuan kelompoknya. Tujuannya agar jika terjadi masalah, sistem gotong-royongnya bisa dihidupkan,” ungkapnya
Saat ini setidaknya Amartha telah berhasil merangkul sekitar 40.000 pengusaha mikro dan menyalurkan lebih dari Rp 100 Miliar rupiah, Target Taufan selanjutnya adalah Amartha bisa lebih luas lagi dalam menjangkau para UMKM yang membutuhkan dana. “Kami saat ini sedang fokus bagaimana terus mengembangkan mitra-mitra kami melalui agen-agen yang tersebar. Kami berharap kedepannya Amartha nantinya bisa melayani 100.000 masyarakat di pedesaan,” ungkapnya
Sebagai perusahaan FinTech, baru baru ini Amartha juga telah bekerja sama dengan Mandin Capital Indonesia (MC) yang menanamkan modal pendanaan untuk investasi di Amarthn Lebih jauh Taufan menjelaskan, dengar, Amartha dapat menambahkan value sai salah satu portofolio investasi MCI ka melalui Amartha, pihaknya telah mer, ernisasi segmen mikro. Dengan demik hal ini menciptakan segmen markaru yang memungkinkan masyap di lapisan piramida terbawah meroleh alternatif sumber permodalar cagi bisnis mereka
Sumber: Franchise Indonesia. September 2017. Hal 76-77

