Di mata Agus Harianto, dokter spesialis anak merupakan profesi yang spesial. Sebab, tugas utamanya adalah menjaga tumbuh kembang calon penerus bangsa.
PUKULAN berat dirasakan Agus Harianto pada ujian masuk perguruan tinggi 1969. Dia gagal lolos ke jurusan yang dibidiknya. Analisisnya, dia terlalu menyepelekan hingga tidak belajar untuk ujian itu. Pada saat yang sama, teman-teman seangkatannya diterima masuk di berbagai perguruan tinggi favorit. Antara lain, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Airlangga (Unair) dan lain-lain. “Mulai saat itu, saya rajin belajar,” ujar dr Agus Harianto SpA (K).
Dua tahun kemudian, pada 1971, dia diterima di Fakultas Kedokteran (FK) Unair, fakultas yang didambakannya sejak di bangku SMP. Menurut anak pertama dari tiga bersaudara tersebut, berkat doa ibunya, dirinya diterima di FK. Agus muda terus belajar. Bahkan, hari liburnya diisi dengan belajar di lorong-lorong fakultas. “Yang lainnya main ke mana, saya ke kampus untuk belajar,” ungkapnya.
Mengenakan jas putih, menurut dia, bukanlah hal yang mudah. Setelah tujuh tahun menempuh kuliah, dia harus menjalani inpres. Proses itu merupakan bentuk pengabdian bagi dokter yang baru lulus. Ada tiga daerah yang menjadi tujuan. Antara lain, di Pulau Jawa dengan waktu pengabdian lima tahun, di luar Pulau Jawa di tempat yang tidak rawan selama tiga tahun, atau di pulau-pulau yang terluar dan terpencil dengan pengabdian dua tahun.
Dia pun memilih pergi ke Sumba, Nusa Tenggara Timur. “Daerah tersebut merupakan daerah yang rawan malaria dan pokoknya terpencil. Jadi, saya hanya dua tahun mengabdi,” katanya.
Sebelum berangkat, dia telah mempelajari kondisi sosiobudaya di tempatnya mengabdi. Dia yakin tidak akan berhasil jika hanya membawa kemampuan medis. “Agar siap, dokter yang akan mengabdi ke wilayah itu seharusnya belajar dulu. Biar jadi buku saku selama menjalankan tugas,” saran pria kelahiran Madiun tersebut.
Trik yang diterapkannya sebelum mengabdi di daerah terpencil ternyata tepat. Hubungan baik dengan masyarakat bahkan bupati Sumba saat itu pun terjalin. Agus mampu menerapkan program dengan baik berkat kedekatannya dengan masyarakat. Dia mengusung progam sanitasi sehat. Tema yang dibidik adalah pembuatan jamban serta pembasmian lalat dan kecoa. “Progam tersebut saya buat kontes. Yang rumahnya sudah mematuhi itu, di kartu berobat, saya kasih tanda. Mereka dapat antrean khusus,” jelasnya. Dia pun mendapat penghargaan dari menteri kesehatan pada 1981. Dokter puskesmas teladan disabetnya.
Namun Tuhan berkehendak agar dia kembali ke Surabaya. Istrinya yang tengah mengandung tiga bulan terserang malaria. Janinnya harus dikuret. Kondisinya makin memburuk. Saat itu fasilitas medis di daerah tempatnya bekerja belum maju. Untungnya, dia mengenal bupati Sumba dengan baik. “Bupati yang menyewakan saya pesawat khusus untuk kembali ke Surabaya. Itu pun di bandara sudah ada ambulans yang menjemput,” ceritanya.
Kepulangannya ke Surabaya ternyata menuai hikmah. Formulir pendaftaran spesialis yang dikirim ke FK Unair hilang. “Kalau saya tidak pulang mungkin tidak tahu bahwa formulirnya hilang. Saya mengurus kembali dan akhirnya bisa melanjutkan spesialis,” ungkapnya. Pilihannya tentu dokter spesialis anak yang didambanya sejak muda.
Agus menyatakan, semua lancar saat menempuh spesialis anak. Dia menempuh pendidikan spesialis tanpa biaya karena menjadi dokter puskesmas teladan yang diberikan oleh menteri kesehatan. Pria yang tinggal di Mulyorejo itu lulus setelah tiga tahun. Pada 1990 dia mulai membantu mengerjakan kasus kembar siam. Namun, kala itu dia hanya sebagai juru bicara.
Dia baru benar-benar menjalankan program kasus kembar siam pada 2009. Dia membuat program dan menyusun kembali standart operating procedure (SOP). Kembar siam Rohman-Rohim berada dalam wewenangnya. “Pasien itu sebagai guru saya,” ujarnya.
Ada pantangan selama Agus berpraktik. Dia tidak mau memprediksi kondisi pasien. Berdasar pengalamannya, dia pernah memprediksi bahwa pasien yang ditanganinya akan membaik, tetapi hasilnya sebaliknya. Bahkan, yang dikiranya tidak akan bertahan malah survive. “Ketika ditanya orang tua, saya biasanya menjawab, kami akan berusaha namun berdoa saja semoga Tuhan memberikan kesembuhan. Saya tidak mau lagi mendahului Tuhan,” tuturnya.
Ketika ditanya soal pengalamannya yang paling membuat dia khawatir, Agus mengungkapkan saat menangani kembar lima pasangan Hari Saputra dan Nia Rachmawati. Kasus tersebut juga merupakan kasus tersulit yang pernah ditanganinya. “Ini mempertaruhkan nama baik tim neonatoligi dan RSUD dr Soetomo,” ungkapnya.
Apalagi kembar lima mendapat sorotan dari berbagai pihak. “Jadi, dokter itu jangan sambil jadi pedagang,” sarannya. Hal itu juga yang menjadi prinsip Agus. Dia mengaku tidak pernah memperhitungkan pasien mampu membayar atau tidak. “Kerjakan dulu. Jangan dihitung untung rugi,” jelasnya.
Selalu Pantau Refleks Tumbuh Kembang
ADA yang beda dari cara dr Agus menangani pasien. Pria 65 tahun itu memberikan layanan imunisasi pada hari khusus. Dia hanya melayani imunisasi pada Minggu saja. Alasannya, dia tidak ingin mereka yang datang karena sakit bercampur dengan yang imunisasi. “Saya tidak ingin yang sehat dan akan imunisasi malah tertular yang sakit,” katanya. “Untuk mereka yang sakit, saya menuliskan resep sesuai sakitnya,” lanjutnya.
Dia menjelaskan, ketika si anak sakit batuk, pilek, dan panas, dirinya akan meresepkan tiga obat. Tujuannya, ketika salah satu sakit anak sembuh, obat bisa dihentikan. “Jadi, orang tua pasti pulang dengan membawa obat sebanyak yang anaknya sakit,” imbuhnya.
Pada mereka yang sakit lumayan parah, Agus pasti memberikan surat pengantar. Dia beralasan jika sewaktu-waktu si anak harus dirujuk ke rumah sakit, orang tua sudah memiliki surat pengantar. Dia tidak ingin mempersulit pasien.
Agus juga mempunyai ciri khas untuk memeriksa pasien yang masih bayi. Dia selalu memantau refleks tumbuh kembang pasiennya. Mungkin bagi sebagian bunda, cara yang digunakan Agus cukup membuat khawatir. Bayi yang masih hitungan hari dites refleks dengan cara seperti didudukkan. Tangan Agus menopang punggung dan leher bayi. “Ini dilakukan untuk mengetahui motorik halus bayi,” kata Agus sambil menunjukkannya kepada Jawa Pos.
Kecintaan Agus pada profesinya dan RSUD dr Soetomo begitu dalam. Bahkan, ketika sudah pensiun pun, dia bertekad untuk terus berpraktik di rumah sakit yang menjadi rujukan nasional itu. Agus juga telah mendapat restu dari gubernur Jawa Timur untuk tetap berpraktik di RSUD dr Soetomo. “Saya bangga dengan profesi saya dan ingin berada di sini terus,” ucapnya.
UC Lib-Collect
Jawa Pos. 29 November 2015

