Bagi pelatih sepak bola asal Italia, Antonio Conte (51), kemenangan dan kejayaan adalah tujuan utama dalam hidupnya. Tak heran, anaknya dinamai Vittoria (13) alias pemenang. Berbagai gelar juara pun kini selalu mengiringi langkah Conte di mana pun ia bertualang.

Gelar juara itu terakhir kali diraihnya bersama Inter Milan. Klub berjuluk “I Nerazzurri” itu dipastikan menjadi juara Liga Ita- ha Serie A untuk pertama kali dalam 11 tahun terakhir. Trofi scudetto (gelar juara Liga Italia) ke-19 Inter menjadi penegas kepiawaian Conte yang sebelumnya juga pernah memberikan gelar juara liga untuk Juventus dan klub Inggris, Chelsea.

Berbeda dengan kebanyakan pelatih klub besar yang lebih sering meneruskan kejayaan para pendahulunya, Conte memilih jalan lainnya yang jauh lebih sulit. Ia memilih “babat alas”. Serupa dengan yang dilakukannya di Juve dan Chelsea, Conte membuka jalan baru menuju kesuksesan saat Inter tengah tersesat lama di hutan belantara alias era tanpa prestasi dan jati diri.

Sebelum Conte hadir di Appiano Gentile, kawasan markas Inter di pinggiran Milan, “La Beneamata” telah menghadirkan banyak pelatih untuk mengembalikan kejayaan mereka seperti di era 1990 hingga 2000-an. Total 11 pelatih telah didatangkan Inter sejak terakhir kali mereka berjaya dengan meraih treble (tiga gelar semusim) pada era Jose Mourinho di 2010. Mereka merupakan pelatih berkelas dunia, seperti Rafael Benitez, Roberto Mancini, dan Gian Piero Gasperini.

Namun, tak satu pun dari mereka yang mampu memberikan prestasi. Capaian tertinggi mereka pada satu dekade terakhir di Liga Italia, sebelum Conte hadir di Gentile pada awal musim 2019-2020, adalah finis sebagai runner-up pada 2011 bersama Benitez. Inter kehilangan jati dirinya sebagai tim yang disegani di Italia dan pernah meraih lima scudetto beruntun pada kurun 2006 hingga 2010. Satu dekade terakhir, mereka lebih kerap finis di luar peringkat empat besar.

Maka, tantangan Conte pun sangat berat ketika pertama kali menangani Inter pada 2019. Ia harus menanamkan mentalitas juara, hal yang sangat asing di skuad para pemain Inter saat itu. Dari 24 anggota skuad Inter, hanya gelandang Arturo Vidal yang pernah merasakan gelar juara liga, baik bersama Juve, Bayern Muenchen, maupun Barcelona.

“Pencapaian ini berkat pemimpin hebat seperti Conte. Dia membawa nilai-nilai penting dari karier hebatnya dan penuh gelar sebagai pemain ataupun pelatih. Ia meneruskannya ke para pemain (Inter) saat ini,” ujar Direktur Inter Milan Beppe Marotta di kutip Sky Sport Italia, Minggu.

Resep kesuksesan

Lantas, apa resep kesuksesan Conte sehingga mampu “menyulap” Inter menjadi barisan pemenang? “Kerja keras dan keyakinan. Anak-anak ini sebelumnya tidak terbiasa menang dan juara. Saya menunjukkan cara (menjadi juara) dan mereka sepenuhnya percaya kepada saya. Pada akhirnya, kami menemukan jalan (kejayaan),” ujar Conte saat diwawancarai media Italia, Rai 2.

Perkataan serupa disampaikannya saat pertama kali melatih Juventus, Agustus 2011. Serupa Inter, saat itu Juve tengah compang-camping sebagai dampak hengkangnya para bintang mereka menyusul skandal calciopoli (pengaturan wasit). Jangankan juara, apalagi mendominasi Italia, Juve adalah tim inferior. Juve finis dua kali beruntun di peringkat ketujuh Liga Italia, tepat sebelum Conte hadir.

Berkat gebrakannya, pada musim pertamanya di klub Turin itu, Juve langsung meruntuhkan oligopoli AC Milan dan Inter Milan. “Si Nyonya Besar” meraih scudetto musim 2011-2012. Ajaibnya, mereka meraih status invincibles alias tak terkalahkan dari 38 laga Liga Italia pada musim itu. Tak heran, sebagian fans Juve menjulukinya sebagai “sang juru selamat”. Namanya pun diabadikan di lantai Stadion Juventus sebagai pengisi Walk of Fame bersama para legenda lainnya klub itu, seperti Zinedine Zidane, Alessandro Del Piero, Dino Zoff, dan Paolo Rossi.

Maka itu, saat menerima tawaran melatih Inter pada 2019, Conte sempat tersudut. Ia nyaris tidak punya kawan dan dibenci sebagian pendukung garis keras Juve yang menganggapnya berkhianat karena bersedia melatih tim rival. Ia bahkan dikabarkan pernah mendapatkan ancaman pembunuhan. Sebaliknya, para pendukung Inter sulit menerimanya karena masa lalu nya yang erat dengan Juve, baik sebagai mantan pemain, kapten tim, maupun pelatih.

Akhir November lalu, ribuan pendukung Inter menyuarakan pemecatan Conte melalui gerakan #Conteout yang jadi topik hangat di Twitter. Padahal, beberapa bulan sebelumnya, ia membawa Inter kembali disegani lewat capaian ke final Liga Europa serta runner-up Liga Italia. Namun, seperti biasa, ia bergeming. Ia menjadikan kritikan sebagai cambuk untuk berupaya lebih baik.

Cambukan itu juga tidak segan diberikan Conte kepada para pemainnya. Sejak Conte hadir, para pemainnya, termasuk di Inter, kehilangan zona nyamannya. Striker Inter, Romelu Lukaku, misalnya, menggambarkan suasana latihan bersama Conte tidak ubahnya medan perang. Para pemain Inter digenjot fisiknya sehingga muntah-muntah. Namun, bukan hanya memerintah, Conte juga memberi teladan.

la jarang tertidur pulas saat malam, semata-semata hanya memikirkan taktik timnya. Seluruh hidupnya adalah tentang sepak bola. Andrea Pirlo sempat berseloroh, Conte mempunyai “dua istri” karena kerap bermalam di kantornya. Istri pertamanya Elisabetta Muscarello dan yang kedua sepak bola.

Bagi Conte, prestasi dan trofi adalah hal yang bakal terukir dan dikenang selamanya, melampaui harta dan kekayaan. Tak heran, ia pernah melabrak mantan anak asuhnya di Juve, Gianluigi Buffon, saat memotong diskusi video rekaman tentang permainan calon lawan. Saat itu, Buffon membahas usulan bonus karena sukses menjuarai Liga Italia tahun 2012 silam. luar prediksi,

“Setiap hari, saya berkata ke pada mereka (para pemain) bahwa kejayaan tim harus diuta makan ketimbang kesuksesan individu,” ujar Conte, pelatih perfeksionis yang dikenal berkarakter keras dan sangat disiplin, seperti dikutip AFP.

Namun, masa depan Conte masih menjadi misteri. Ia belum berkomitmen untuk bertahan di Inter. Bisa jadi, ia akan berlabuh ke klub lain nya untuk mencari tantangan baru, yaitu mengubah barisan pecundang lainnya agar bisa menjadi pemenang.

 

Sumber: Kompas. 4 Mei 2021.Hal.16