Arie Hijriyah

Kesibukan sudah dimulai sejak pukul 08.00 di rumah kontrakan Arie (43) di Bumi Permata Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan. Memakai sarung tangan plasik dan masker, Saphia (24), rekan kerja Arie, telaten memasukkan bubuk “teh” ke dalam kemasan aluminium foil. Ia lalu menutup rapat – rapat kemasan dengan mesin pres. Bubuk yang di kemas tersebut adalah teh berbahan baku rumput laut. Di kemasannya di bubuhkan tulisan “U&ME”. “Untuk kamu dari saya. Istilahnya, dari kami untuk para pelanggan.”

Arie dengan riang menjelaskan cara pembuatan minuman teh rumput laut kreasinya. Pertama, rumput laut direbus terlebih dahulu, lalu ditiriskan setelah mendidih. Sari dari rumput laut yang diambil dari Pangkep, Sulsel, ini lalu dimasak kembali dengan gula putih hingga mengering. Baru setelah itu diblender agar lebih halus. Sebanyak 85 persen bahan bakunya berasal dari rumput laut jenis Sorgassum. Selebihnya adalah gula.

Minuman rumput laut itu mulai tercetus sejak akhir tahun lalu. Arie terpikir mengolah rumput laut menjadi teh setelah melihat hasil rendaman rumput laut saat mengikuti pelatihan pengolahan rumput laut. “Warna rendamannya (rumput laut) kayak teh. Saya pikir, kenapa tidak dijadikan minuman saja,” katanya mengenang.

Dia lalu bereksperimen membuat rumput laut menjadi minuman. Dia memilih rumput laut jenis Sorgassum karena rasanya lebih pas. Teh rumput laut yang pertama dibuat Arie begitu sederhana. Hanya dikeringkan, lalu dimasukkan ke dalam kemasan teh celup ada umuna. Akan tetapi, banyak orang yang komplain dengan produknya itu. Sebab, bau rumput laut masih sangat kuat. “Orang bilang baunya kayak Paotere,” ujarnya sembari tersenyum. Paotere adalah pelabihan perikanan di Kota Makassar.

Perempuan yang baru enam tahun terakhir tinggal di Makassar ini lalu mencoba inovasi baru. Dia mengambil sari rumput lautnya agar bau laut tidak begitu menguar. Terobosannya berhasil.

Minuman teh rumput laut adalah kreasinya yang kesekian setelah mencoba berbagai hal. Sejak 2013, dia mulai membuat berbagai olahan industri rumahan, antara lain abon ikan, sambal terasi, nugget ubi, hingga tela – tela. Akan tetapi, tidak ada yang cukup menonjol hingga akhirnya dia membuat teh rumut laut.

Melibatkan warga

Rumput laut di Sulsel melimpah. Data Pemerintah Provinsi Sulsel, produksi rumput laut pada 2016 sebesar 3,4 juta ton. Pemprov mengklaim produksi rumput laut Sulsel terbesar secara nasional, yakni 30 persen dari produksi nasional. Namun, Arie heran, meski rumput laut melimpah, olahan rumput laut dari Sulsel masih sangat minim. Rupanya sebagian besar rumput laut mentah dari Sulsel langsung diekspor ke negeri tetangga, juga ke Jepang dan China.

“Saya ingin orang selalu makan rumput laut. Seratnya banyak, mineral ada, dan kandungan lain. Ini seperti sayur yang tumbuh di laut. Tapi, kenapa kita di sini tidak terbiasa (mengolah)?” katanya.

Kerupuk rumput laut adalah olahan pertama Arie pada 2013. Dia mengambil rumput laut dari warga di Kabupaten Pangkep. Setiap minggu, dia berkendara dengan sepeda motor sejauh 80 kilometer untuk mengambil rumput laut yang telah dikeringkan. Dua dus penuh rumput laut diikat di bagian depan ada satu dus.

Setalh usahanya berjalan, dia mulai melibatkan sejumlah warga, mulai dari petani rumput laut di Pangkep hingga para ibu rumah tangga, dalam usaha pengolahan rumut laut. Dengan begitu, warga mendapatkan penghasilan tambahan. Mereka yang dilibatkan dalam usaha olahan itu tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama Ekonomi Sejahtera 036.

Erkat keja sama itu, produsina meningkat. Hal itu seiring dengan permintaan dari berbagai kalangan yang menyukai hasil olahan kerupuk uatannya, salah satunya sebuah lembaga militer di Makassar. Setiap ada acara di lembaga militer itu, kerupuk rumput laut olahan Arie dihidangkan atau dijadikan oleh – oleh.

Dalam satu bulan, Arie bisa memproduksi rata – rata 500 kilogram kerupuk, bahkan pernah mencapai 800 kilogram. Untuk teh, karena masih dalam tahap sosialisasi, produksinya masih kecil, yaitu 2-3 kilogram per bulan. Dengan jumlah produksi tersebut, Arie bisa mendapatkan omzet lumayan untuk ukuran industri rumah tangga.

Ia lantas membentuk industri kecil menengah LARS yang kemudian ditingkatkan menjadi CV LARS sejak Agustus lalu. Hal itu untuk mendukung pengembangan usaha.

Arie membesarkan anak seorang diri, memiliki visi menjadikan rumput laut sebagai pangan yang akrab bagi masyarakat. “ Apa pun itu bisa asal diusahakan. Saya juga dulu tidak tahu apa – apa, tapi setelah mencoba, eh bisa,” kata Arie.

Kata – ata bisa dan berani mencoba memang menjadi “mantra” hidup perempuan yang menghabiskan masa kecil di papua ini. Dia tidak pernah mau mengucap tidak tahu atau tidak bisa selama hal tersebut masih dalam batas kewajaran.

Dia pernah menjadi tukang jahit, beberapa kali gagal sebagai pengusaha, menjadi karyawan penerbitan, hingga “tukang edit”. Semuanya bermodal nekat dan tekad. “Kalau kita bilang tidak tahu atau tidak bisa, artinya sudah menutup peluang. Saya kasih tahu ke anak saya, mama akan marah kalau dengar kamu bilang tida isa. Sebab, semuanya isa kalau erani mencoba,” tuturnya.

Sumber : Kompas. 19 September 2017. Hal 16