Meski disadari bahwa pariwisata berbasis pada people to people, bukan G to G dalam situasi seperti ini Indonesia perlu mengintensifkan kinerja diplomasinya, khususnya di Australia.
Oleh I DEWA GDE SATRYA (Dosen & Peneliti Pariwisata di Universitas Ciputra, Surabaya)
Hubungan Indonesia – Australia terasa naik turun. Kali ini Australia menentang keras rencana eksekusi mati kelompok ‘Bali Nine’ yang didalamnya adalah warga Australia. Mereka mengancam memboikot pariwisata Indonesia dengan Bali sebagai tujuan paling top bagi mereka.
Kehadiran turis Australia, terutama di Bali, sangat signifikan. Dari keseluruhan 9,4 juta turis mancanegara ke Indonesia pada 2014, Australia menyumbang 1,2 juta jiwa.
Dalam upayanya yang terbaru, Perdana Menteri Australia, Tony Abbott meminta agar Pemerintahan Indonesia dan masyarakat Indonesia bersikap ‘resiprokal’ terhadap bantuan Australia di bencana tsunami, dengan membatalkan ekskusi mati terhadap Chan dan Sukumaran. Hal ini justru membuka babak baru dalam diplomasi penyelamatan duo ‘Bali Nine’, karena publik Indonesia menolak pola pikir menyandingkan bantuan kemanusiaan dengan penyelamatan dua kriminal yang sudah divonis berdasarkan pengadilan yang terbuka dan berjenjang.
Menyikapi hal itu, nitizen menggalang gerakan ‘Coin for Australia’. Publik di Jakarta menggalang koin pada momen Car Fre Day, Minggu (22/2), berhasil mengumpulkan koin sekarung. Hal serupa dilakukan warag di Aceh.
Seperti kita ketahui bersama, Australia merupakan pasar wisatawan yang strategis bagi Indonesia. Dengan populasi penduduk sebesar 20,26 juta jiwa, sejumalh 4,8 juta diantaranya melakukan perjalanan ke negara lain pada 2005 dengan rata – rata lama kunjungan di negara tujuan berkaisar anatara 16-30 hari. Negara – negara di Asia dikunjungi oleh 35% dari jumlah wisatawan Australia. Dalam hal ini Indonesia menepati urutan pertama dalam menerima kunjungan wisatawan, dengan jumlah kunjungan ke pulau Bali sebesar 357.000 wisatawan pada tahun 2005 (budpar.go.id).
Dilihat dari karakteristiknya, wisatawan Australia cukup berpendidikan (latar belakang perguruan tinggi), tingkat sosial – ekonomi yang cukup tinggi (penghasilan rata – rata AS50.000 per tahun), dan merupakan pengguna komputer dan Internet (66% di rumah dan 54% di sekolah atau kantor).
Lebih jauh lagi, aktivitas wisata yang diminati wisatawan Australia antara lain belanja, mengunjungi kerabat, rekreasi, tour dalam kota dan situs – situs bersejarah. Wisatawan Australia menginginkan perjalanan wisata di mana mereka dapat merasakan originalitas budaya setempat.
Meski disadari bahwa pariwisata berbasis pada people to people based, bukan goverment to goverment, dalam situasi seperti ini kinerja diplomasi Indonesia di luar negeri, khususnya yang bertugas di wilayah Australia, perlu mengintensifkan kinerja diplomasinya. Lima syarat diplomat sejati sebagaimana diutarakan Presiden SBY pada saat memberi pengarahan dalam Rampim Kementerian Luar Negeri di Istana Negara awla Februari 2014 adalah, pertama menjadi pelobi yang unggul. Kedua , menggunakan lebih banyak skill daripada ilmu. Ketiga, menjadi intelligent analyst yang baik. Keempat, menjadi pencari peluang dari setiap tantangan yang ada atau bila perlu menciptakan peluang. Kelima, harus menjadi pembangun citra (image builder) yang baik.
PARIWISATA BALI
Membicarakan polemik boikot pariwisata Indonesia oleh Australia, secara lagsung berarti membahas eksitensi pariwisata Bali. Sebagaimana diketahui turis Australia merupakan top five pariwisata Indonesia secara umum. Pada Januari – November 2014 jumlah kunjungan wisman ke Indonesia secara berurutan sebagai berikut, Singapura 1,32 juta, Malaysia 1,12 juta, Australia 996.032 wisman dan China di urutan keempat 883.725 wisman.
Boikot yang diserukan pemerintah Australia diperkirakan akan menurunkan market wisatawan asal Negeri Kangguru itu, tetapi dengan kinerja diplomasi dan karakteristik pariwisata berbasis people to people, diharapkan tidak berpengaruh terhadap keseluruhan performa industri periwisata di Indonesia.
Prediksi itu juga dilandasi beberapa dinamika terakhir terkait pariwisata Pulau Dewata. Bali kembali mendapat penghargaan sebagai the best destination. Penghargaan kali ini diberikan oleh C-Trip sebuah online marketing tourism yang berpengaruh di China.
C-Trip setiap tahun mengelar event ‘Top 10 Best Tourism Destination Network Selection and Award Ceremony’. Pada acara pemberian penghargaan 2014, C-Trip memberikan dua penghargaan kepada Bali. Best Island Tourist Destination dan Best Overseas Tourism City.
Penghargaan lainnya, majalah pariwisata DestinAsians memberikan penghargaan untuk enam kalinya kepada Bali sebagai destinasi pariwisata terbaik di kawasan Asia Pasifik. Pemberian penghargaan itu disampaikan dalam acara the Sixth DestinAsians Readers Choice Awards Yang diselenggarakan di Grand Hyatt Hong Kong pada 16 Februari 2011. Bali mempertahankan prediksinya sebagai tujuan wisata terbaik. Hasil ini berdasarkan survei kepada para pembaca baik cetak maupun online. Selain itu Bali mendapatkan dau penghargaan lain untuk kategri resport spa terbaik dai Asia Pasifik yang diterima oleh Ayana Resort and Spa dan The Legian.
Sedikit bukti betapa kuatnya daya tarik Bali bagi manusia modern salah satunya tampak dalam film Eat, Pray, Love yang diangkat dari novel(memoar) best seller yang terjual sebanyak 6 juta eksemplar di seluruh dunia karya Elizabeth Gilbert. Film besutan sutradara Ryan Murphy itu dimainkan megabintang Hollywood Julia Roberts. Bali khususnya dan Indonesia umumnya mendapatkan promosi yang luar biasa. Bali (Ubud dan Jimbaran) yang digambarkan di film itu sebagai satu – satunya surga di dunia, yang memberikan kedamaian dan keseimbangan cinta, yang bisa menyelesaikan persoalan rumit Gilbert.
Secara umum karakteristik destinasi wisata Bali tersegmen kedalam beberapa marketsehingga mampu menjaring banyak jenis dan latar belakang orang diseluruh muka bumi ini. Peta daerah wisata Bali seperti dikemukakan Hermawan Kartajaya sebagai berikut, Kuta identik sebagai physically wild, Nusa Dua sebagai professionally peaceful, dan Ubud adalah naturally spiritual. Ubud juga dikenal dengan sebutan Bali’s Culture Capital, Bali’s Culture Heartland. Melalui itu, Bali kembali meraih penghargaan sebagai World Best Island in Asia 2010 pada Juli lalu oleh majalah wisata terkemuka yang berbasis di New York, Travel + Leisure.
Masyarakat Bali memiliki kecenderungan yang tinggi untuk terbuka dengan kedatangan warga dari daerah lain. Sejarah pemerkuatan Bali sebagai destinasi eisata bertaraf international tak lepas dari pembelajaran untuk menerima perbedaan budaya dan membuka selebar – lebarnya berbagai kebudayaan masyarakat untuk dapat merasakan harmoninya alam dan penduduk Bali.
Kiranya seruan boikot pariwisata indonesia dan Bali khususnya oleh pemerintah Australia perlu kita tanggapi secara arif, tidak berlebihan dan diimbangi upaya – upaya diplomasi.
Sumber: Bisnis-Indonesia.-27-Februari-2015.Hal_.2

