Arsitektur Kertas, Kontribusi untuk Kemanusiaan. Kompas. 10 Oktober 2014.Hal.37

“Temporer atau permanennya suatu bangunan bukan ditentukan, melainkan tergantung pada apakah bangunan tersebut dicintai.”Shigeru ban, arsitek yang menangani penghargaan. Pritzker Architecture prize 2014 itu hendak mengatakan bahwa jika suatu bangunan dicintai, bangunan itu tak akan tergerus waktu.

Nama Shigeru Ban muncul setelah proses pertimbangan yang panjang dari para juri pritzker srchitecture prize 2014. Sejak didirikan 35 tahun lalu, penghargaan ini memang bertujuan memberi apresiasi kepada para arsitek yang membuat karya signifikan dan konsisten memberikan kontribusi untuk kemanusiaan. Shigeru ban adalah orang yang kali ini dianggap paling memenuhi kriteria-kriteria yang ditetapkan

Selama 20 tahun, ban berkutat dengan kreativitasnya dan menghasilkan desai berkualitas tinggi untuk menyikapi situasi ekstrem, misalnya untuk menanggulangi bencana alam. Ia membangun tempat penampungan para pengungsi, pusat berkumpul komunitas, dan rumah ibadah untuk mereka yang terkena dampak bencana alam. Ketika bencana terjadi, Ban kerap berada di wilayah tersebut untuk mengobservasi dan berkarya seperti yang di lakukannya di Rwanda, Turki Indoa, Tiongkom, Italia, Haiti, dan tentu saja kampung halamannya jepang.

Bagi Ban, arsitektur yang berkelanjutan (Sustainable architecture) bukanlah konsep tempelan. Alih-alih itu merupakan unsur intrisik arsitektur. Ia bergulat dalam menciptakan karya yang selaras dengan lingkungan dan sebisa mungkin menggunakan material yang dapat diperbaharui atau dihasilkan secara lokal. Tak seperti material utama yang kita temukan pada sebagian besar konstruksi bangunan, Ban berkreasi menggunakan barang-barang sekitar yang kadang sudah tidak lagi terpakai, antara lain selongsong kertas (paper tube), bamboo, kain atau plastic.

 

 

Arsitektur Kertas

Dari berbagai karyanya, yang paling fenomenal dari shigeru ban adalah kontruksi dari selongsong kertas (paper tube). Barangkali tak pernah terbayang dibenak kita untuk membangun gedung yang rangkanya terbuat dari kertas. Cara berpikir shigeru ban membuatnya mungkin. Paper gube yang padat dan panjang adalah potensi mendirikan bangunan dengan material yang murah, kuat, sekaligus muda didapatkan dimana saja. Karya arsitektur kertas pertamanya, struktir paper tube yang dipamerkan di Aalto Exhibition, Tokyo, pada 1985.

Setelah pameran tersbut, karya seriuas pertama ban yang dibuat dari paper tube adalah penampungan pengungsi yang didirikan di Rwanda pada 1994. Ban menemukan lebih dari dua juta orang pengungsi korban perang saudara di Rwanda dalam kondisi yang begitu memprihatinkan. Ia lantas mengajukan ide untuk membuat penampungan berbahan paper tube pada united nations high commissioner for refugees dan mereka mempekerjakan ban sebagai konsultan.

Pada tahun-tahun berikutnya, ban terus menciptakan karya arsitektur berbahan selongsong kertas untuk kepentingan sosial. pada 1995 setelah gempa bumi di kobe, ia membangun paper long house untuk para pengungsi Vietnam. Ia juga membangun takatori paper church bersama para siswa relawan. Karya ini juga menjadi titik awal untuk mendirikan LSM Voluntary Architect’s Network (VAN).

Dengan VAN, peran penting arsitektur untuk kemanusiaan terus disebarluaskan.  Organisasi ini membangun hunia temporer di turki, india, dan sri lanka. Ada pula aula konser L’Aquila di Italia dan penampungan pengungsi untuk para korban gempa bumi di Haiti. Setelah gempa bumi di Haiti. Setelah gempa bumi besar di jepang pada 2011, VAN menyediakan 1.800 partisi kertas untuk mendirikan 50 rumah penampungan.

Tak hanya kuat, ramah lingkungan karena bisa didaur ulang, dari selongsongan kertas juga bisa menjadi sangat indah. Pada 2000, Ban mendesain bangunan dengan struktur serupa cangkang untuk pavilium jepang di Hanover, jerman. Paper tube ini berukuran besar dengan panjang 20 meter dan diameter 12,1 sentimeter. Material ini juga tahan air karena dilapisi poliuretan. Bahkan selongsong kertas ini amat sulit dibakar kerena kepadatan materialnya.

Yang disebut di atas hanyalah segelintir karya shigeru ban. Ia senantiasa optimistis dan melahirkan karya-karya baru. ketika yang lain melihat tantangan yang begitu besar di masyarakat, ia melihat panggilan untuk bergerak. Ketika yang lain merasa jalan hampir buntu, ia melihat kesempatan untuk berinovasi. Ban bukan sekedar seorang guru, melainkan juga inspiratory. (Nov)

Sumber: Kompas, Jumat 10 Oktober 2014