https://www.harianbhirawa.co.id/artxplosion-ajang-pamer-karya-inovatif-dan-kampanye-sdgs/
Kota Surabaya, Bhirawa
Limbah sampah plastik jadi bahasan serius dunia international. Kampanye pengurangan sampah plastik pun terus dilakukan. Baik melalui poster, hingga daur ulang limbah plastik menjadi barang yang bernilai. Hal ini juga dilakukan Visual Desain Communication (VCD) Universitas Ciputra (UC) melalui sebuah karya pameran bertajuk “VCD Outlining 2023: ArtXplosion”.
Salah satu karya yang mendaur ulang sampah plastik adalah brand Produk Ducki Caps. Produk yang menyuguhkan karya inovatif keycaps berbahan dasar tutup botol menjadi salah satu karya yang banyak dilirik pengunjung pameran CVD Outlining 2023. Inovasi kreatid ini dibuat Hanna Agustin, mahasiswa VCD dalam memenuhi tugas akhirnya.
Hanna menjelaskan produk ini berawal dari isu sampah yang menjadi bahasan international. Bahkan di Indonesia pun, limbah sampah plastik kian menumpuk. Proses daur ulang pun tak maksimal. Berangkat dari itu, kemudian ia mengembangkan karya ide nya menjadi keycaps.
“Bahan utama dari tutup botol plastik. Warna yang saya gunakan pun dari tutup botol. Materialnya dapat dari bank sampah kemudian di sortir. Tidak semua tutup botol plastik digunakan. Hanya yang berkode 2 atay HDPE yang bisa dipakai,” ujar dia.
Dalam proses pembuatannya, Hanna menjelaskan secara rinci mulai penyortiran tutup botol yang dicuci sampai bersih. Dibagi setiap warnanya. Untuk menghasilkan warna marmer, Hanna mencampurkan lebih dari 3 warna saat peoses pelelehan dengan suhu 200 derajat selsius. Setelah itu kemudian diaduk untuk bikin motif marble baru di cetak.
“Untuk bikin satu keycaps ada campuran lebih dari satu warna. Bisa 2 hingga 3 warna lebih tergantung custom pelanggan,” jelasnya. Hingg saat ini, penjualan keycaps mencapai 30 pcs lebih dengan harga Rp35.000.
Produk Brand Ducki Caps merupakan satu dari 15 Innovative Programs dipamerkan Universitas Ciputra (UC), Jumat hingga Minggu (5-7/5) di Atrium Mall Ciputra World Surabaya.
Pameran mahasiswa jurusan Visual Communication Design menyuguhkan ratusan karya dari kompetisi International Creativity & Innovation Award (ICIA), pameran Project X – Instalasi Plastic Pollution Management (ArtXcellence), instalasi interaktif (ArtXperience), bazaar bisnis lokal (ArtXplore). Serta pameran hasil joint project dengan 5 universitas dari 4 negara (ArtXhibition) yakni, Malaysia, Taiwan, UK dan Indonesia.
Dekan VCD UC, Prof Christian Anggrianto menyebut kegiatan ini merupakan ajang rutin tahunan yang digelar VCD untuk memamerkan karya para mahasiswa dari semester 1 hingga Tugas Akhir. Namun, di tiga tahun terakhir kegiatan pameran hanya dilakukan secara daring.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini, VCD menyuguhkan pameran dengan kolabora 4 negara yang mengangkat tema Suitanable Development Goals (SDGs). “Kita mengadakan pameran ini menjadi ekskalasi in frame. Kita buat kolaborasi dengan 4 (empat) negara. Selain itu kita juga mengadakan pameran bisnis creative mahasiswa,” ujar pria yang akrab disapa Kris ini.
Ia melanjutkan, ada 4 bagian yang disuguhkan. Pertama, pameran karya mahasiswa dari semester 1. Dalam pameran ini, mereka bisa menunjukkan karya dan desain meskipun belum lulus. Kedua, pameran bagian 2 yang meliputi soft launching bisnis Tugas Akhir (TA) VCD. Di mana semua mahasiswa harus memiliki entitas bisnis.
“Kami (VCD UC) tidak hanya mencetak lulusan jadi konsultan desain. Tapi kita arahkan ke bisnis kreatif. Mulai riset kebutuhn pasar, mendevelop bisnis hingga validasi. Kita ekskalasi ke bisnisnya. Sebanyak 20 bisnis terbaik mahasiswa lolos dalam kegiatan ini. Mulai food and beverage, content creator, sticker, komik, intelektual property hingga merchandise, apapun jenis bisnisnya selama mereka bisa menemukan marketnya,” jelasnya.
Kemudian di bagian ketiga pameran, terdapat hasil kolaborasi internasional, yang memuat join projek dan brand solving. “Secara garis besar (kolaborasi) kami berfokus pada Suistanable Development Golas (SDGs), karena itu kami membentuk change marker. Sejak September lalu kami menjalankan inisiatif dengan mendesain berbagai macam media kreatif dari kolaborasi 4 (empat negara ini),mulai poster, animasi, hingga film pendek yang memiliki pesan SDGs,” paparnya.
Kolaborasi ini kata Kris, tidak hanya sekedar kolaborasi tanpa tujuan. Sebab, ada riset yang dilakukan di masing-masing negara. Diantaranya dengan melihat habit masyarakatnya, pengetahuan dan masalah mendesak di tiap negara. “Dari hasil kolaborasi ini, kita ambil 30 karya terbaik yang dipamerkan,” tambahnya.
Kris berharap melalui pameran ini, pihaknya ingin lulusan VCD UC mengambil rule lebih tinggi. Bukan hanya penyedia tampilan estetis. Tapi agent of change.
Terakhir bagian 4 pameran yang berisi kolaborasi dengan kriya global dengan mengadakan lomba inovasi international dengan topik SDGs. Pada bagian ini mengajak siswa SD-SMA untuk berkompetisi dalam menciptakan ide dan solusi dari sudut pandang seorang anak untuk menciptakan dunia yang lebih baik. Sebanyak 300 lebih peserta berasal dari India, Filiphina, Thailand dan berbagai negara lainnya. [Diana Rahmatus S]

