Sejak belajar menetap di Jerman dari 1994 hingga sekarang,Melati suryodarmo (46) terus menjelajahi sejumlah negara demi mengarungi seni bermediakan tubuh. Perempuan itu memperdalam tari tradisional Jawapada masa remaja di tanah kelahirannya, Solo, jawa tengah. Namun,kini idiom tarinya telah melompat jauh dari gemulai gerak tradisional Jawa.
Saya terinspirasi kehidupan manusia, bukan kemanusiaannya. Saya tertarik laku manusia,”kata melati, februari 2015 lalu, ketika singgah di kampung halamanya Solo.
Ia tidak lama di Solo karena harus ke Yokohama. Tarian pertama berjudul “ I LOVE YOU”. Dalam karya ini, sambil menopang selembar kaca tebal berukuran 80×200 sentimeter dan seberat 36 kilogram. Melati menari dengan selalu mengucap kata “I love you”. Ia melakukannya selama 5 jam.
Itu bukanlah waktu yang singkat dan ringan untuk mengucap ribuan kali kata “ I love you”. Apabila ada bebean menjaga selembar kaca bening yang ditahan kedua telapak tangannya.
Dari kesetiaan mengucap “I love you” sambil menjaga selembar kaca besar itulah, melati mengundar makna.
“Akhirnya, sebuah peryataan ‘I love you’ menjadi tidak penting. Kemudian menjaga kaca juga ibarat menjaga cinta.”
Makna yang begitu dalam. Melati menuturkan , makna kata ‘I love you’ atau ’aku cinta kamu’ akan pudar dan tidak penting manakala kaa-kata itu sering diluncurkan dari mulut. Cinta ibarat selembar kaca bening yang harus dijaga sepenuh daya. Sedikit saja abai, selembar kaca bisa jatuh dan pecah.”begitu pula cinta” katanya.
Tarian kedua berjudul “butter dance” atau “tarian mentega”.
“butter dance” adalah tarian Melati di sebongkah mentega. Alhasil, bukan tarian dengan gaya menawan, melainkan berulang-ulang Melati terjatuh dan bangun lagi di atas lantai dengan mentega yang sangat licin itu. Jatuh bangunya Melati, itulah tarian dia.
“ Terjatuh seperti diri kita ketika melakukan setiap kesalahan sebagai resiko hidup. Selanjutnya hal yang paling penting dalam hidup kita adalah mendekteksi agar tidak terjatuh lagi, atau mampu bangun kembali setiap kali terjatuh .” ujarnya.
Tarian Melati bermediakan tubuh. Sederhana tetapi memiliki kedalaman makna.
Seperti itu pula performance art Melati . “ I am a ghost in my own house” atau “aku hantu di rumahku sendiri”. Dalam karya ini, dia mempertotonkan gerak mengilas arang yang diulang-ulang di atas batu pipisan selama 12 jam pada 21 januari 2015 lalu di Museum Seni Singapore. Singapura. Meski penasaran, makna tarian ini tidak mudah ditelan.
Setidaknya, Melati mengharapkan interaksi dengan penontonnya agar bebas menginterpretasikan makna. “ karena seni tidak untuk mendikte.” Katanya.
Setelah 10 hari di Yokohama, Melati kembali ke jerman. Selain pulang ke rumah dan berkumpul dengan seorang anak kandungnya selama sebulan dia harus mengisi residensi seni Hebbel Am Ufer (HAU) untuk membuat koreografi dan seni pertunjukan.
“Hebbel Am Ufer untuk seniman lokal jerman yang harus berkerja mendekatkan anak-anak dan remaja dengan seni. Saya boleh berkerja unutk HAU karena sudah dianggap sebagai bagian seniman lokal jerman ,” kata Melati, yang kini hidup berpisah dengan suaminya, warga negara Jerman.
Dia mengajak berkesenian anak-anak dan remaja imigran di jerman, terutama dari negara-negara yang mengalami konflik berkepanjangan seperti Maroko, Tunisia, Nigeria, dan Turki. Berkesenian menjadi model penanganan pasca trauma konflik bagi anak-anak dan remaja.
“saya tidak bisa meningkatkan Jerman. Ini tanah air saya yang kedua ,” katanya.
Di Jerman ,Melati menemukan jati diri berkeseniannya. Darah seni mengalir dari ayahnya. Suprapto suryodarmo (69). Pendiri taman budaya desa pandepokan Lemah Putih di desa Plesungan, Gondangrejo,Karangayar , Jawa Tengah yang juga dikenal pengaggas oleh gerak joget Amerika.
Menetap di Jerman
Melati terkesan sungkan memaparkan soal keberadaannya di Jerman pada tahun 1988, ketika kuliah di Universitas Pandjajaran (UNPAD) Bandung, Jawa Barat, dia berkenalan dengan mahasiswa Institut Teknologi Bandung berkebangsaan jerman, yang kemudian menjadi suaminya. Setahun setelah lulus dari Unpad mereka pergi ke jerman yang kemudian menikah tahun 1994.
Di Jerman, Melati memulai studi tentang seni. Selama 1994 hingga 2001, dia menuntaskan studi seni pertunjukan dan seni patung di Hochschule Fuer Blidende Kuenste, Braunschweig. Kemudian dia melanjutkan sampai jenjang master di perguruan tinggi yang sama.
Penampilan seni peertunujukan Melati memang tidak bermula dari hasil pendidikan di Jerman. Namun melati menyebut, dua perempuan menjadi pembimbing studi yang paling berpengaruh bagi karya seninya, yaitu Prof Anzu Furukawa dari Jepang dan Prof Mariana Abramovic dari Serbia.
Sejak tahun 1988, Melati sudah menari untuk seni pertunjukan di Solo dan sejumlah kota lainnya di Indonesia .
Ketika mengijak tahun kedua studi di Jerman. Melati sempat menampilkan tari “kasyhya kashya muttiku” bersama Yuko negoro dari Jepang. Semenjak itulah, berbagai kegiatan seni pertunjukan di sejumlah negara Eropa diikuti Melati.
Beberapa pementasan antara lain, tahun 1999 Melati tampil untuk Cardiff Art in time di Wales, Inggris. Kemudian pada tahun yang sama juga tampil dalam “performance festifal odense” di Odense, Denmark.
Tahun 2000-2001. Melati tampil pada pameran “Anableps” di Gallery Misceti, Roma, Italia. Sejak itulah. Melati semakin sering menampilkan seni pertunjukan di sejumlah negara, termasuk di Indonesia.
Di Solo melati mendirikan studio plesungan , tak jauh dari taman budaya desa pandepokan Lemah Putih yang didirikan ayahnya.
“di studio plesungan, tahun ini akan digelar Festifal Performance Art “Undisclosed Territory” kesembilan. 9-15 november 2015 akan tampil 5 seniman perempuan Indonesia dan 25 seniman perempuan dari sejumlah negara.” Katanya
Berkesenian tidak lagi sedehana. Seperti itu pula seni bermediakan tubuh bagi Melati juga bukanlah hal sederhana.
MELATI SURYODARMO
- Lahir: Solo,12 Juli 1969
- Memiliki satu anak , tinggal di Gross Gleidingen, Jerman dan Solo Jawa Tengah.
- Pendidikan:
- 1988-1993 Universitas Padjadjaran, Bandung jurusan hubungan International
- 1994-2001 Degree In Fine Art,The Hochschule Fuer Bildende Kuenste, Braunschweig, Jerman.
- 2001-2002 Postgraduated Program in Perfomance Art, The Hochschule Fuer Bildende Kuenste, Braunschweig, Jerman.
Sumber: Kompas.24-Maret-2015.Hal_.16

