Sumber : https://www.balipost.com/news/2023/05/16/339194/ASEAN-sebagai-Destinasi-Wisata-Tunggal.html
ASEAN Summit ke-42 pada 9-11 Mei terasa istimewa. Kali ini, perhelatan bergengsi di kawasan Asia Tenggara itu dihelat di destinasi super prioritas Labuan Bajo. Bagi Indonesia, keketuaan sekaligus tuan rumah KTT ASEAN tersebut bermakna strategis. Selain pembangunan infrastruktur yang masif, bagi masyarakat Labuan Bajo, kabupaten Manggarai Barat, provinsi Nusa Tenggara Timur, even ini meningkatkan harkat, martabat dan ke- percayaan diri dalam pergaulan bangsa-bangsa di dunia. Diyakini bahwa even berskala mternasional memiliki dampak yang signifikan bagi perekonomian lokal, maka diharapkan akan mengentaskan kemiskinan di Labuan Bajo secara signifikan.
Bagi masyarakat ASEAN, even ini menggugah harapan semakin eratnya persatuan yang direalisasikan dalam single tourism destination. Gagasan ini telah dirintis sejak akhir abad ke-20, namun realisasinya membutuhkan spirit yang harus terus dinyalakan untuk membangun ikatan persaudaraan di antara negara-negara anggota ASEAN. Pada ASEAN Tourism Forum yang berlangsung di Yogyakarta beberapa tahun lalu misalnya, spirit merealisasikan ASEAN sebagai destinasi wisata tunggal tampak pada lima agenda penting bagi kepariwisataan. Pertama, penyediaan fasilitas perjalanan dan melakukan upaya untuk menghilangkan hambatan-hambatan bagi wisatawan negara-negara anggota ASEAN dan tiga negara mitranya (China, Jepang dan Korsel). Kedua, melakukan program promosi tujuan-tujuan wisata di ASEAN dan tiga mitra negara. Ketign, menciptakan program untuk bisa mengembangkan sektor pariwisata di negara masing-masing. Keempat, kesepakatan untuk melakukan kerja sama di bidang riset dan pembinaan sumber daya manusia serta informasi teknologi, dan kelima, melakukan kerja sama di bidang promosi investasi usaha di bidang kepariwisataan.
Data Kemenparekraf menunjukkan, rata-rata 50 persen dari wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia berasal dari kawasan ASEAN. Mayoritas dari total wisman tersebut berasal dari Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Karateristik pasar wisman setiap negara perlu dicermati. Untuk kondisi saat im, meski ada penyesuaian di beberapa segmen dan perilaku wisatawan pasca pandemi, namun secara umum pasar wisatawan Asia dapat dikelompokkan ke dalam 4 cluster: shopping, golf and sport, culinary, art & heritage.
“Rethinking Tourism”
Masih dalam suasana pasca pandemi, United Nation World Tourism Organization (UNWTO) mengajak seluruh pelaku pariwisata untuk memikirkan kembali praktik dan dampak pariwisata bagi dunia selama ini. Tema perayaan World Tourism Day 2022, “Rethinking tourism”, terkait dengan cita-cita luhur warga bangsa ASEAN berkolaborasi dalam destinasi wisata tunggal. Tidak sekadar jargon, melainkan tercermin dalam kehidupan sehari-hari, sebagai negara yang saling berdekatan dan bertetangga memiliki keakraban dan kepedulian yang tinggi, serta saling menghormati. Spirit itu kiranya tetap terjaga pasca pertemuan September tahun lalu di Bali yang dihadiri lebih dari 300 perwakilan negara anggota UNWTO, Menteri Pariwisata negara anggota G20, tamu negara, organisasi internasional, serta stakeholder pariwisata dalam dan luar negeri. Rethinking tourism dirasakan penting pasca penderitaan yang dialami bersama-sama selama pandemi. Esensinya tidak sekadar bekerjasama secara formal, namun memiliki spirit kemanusiaan yang menyatukan. Bagi kawasan ASEAN, spirit yang menyatukan, membangun perdamaian dan kesalingpengertian sesama warga negara, haruslah menjadi contoh bagi negara bangsa di dunia.
Karena itu, bagi Indonesia khususnya dan negara-negara anggota ASEAN lainnya, pariwisata yang dihadirkan haruslah inklusif dan berkelanjutan, memungkinkan semua orang untuk terfibat dan mendapat manfaat yang maksimal dari pariwisata untuk menggapai kehidupan yang berkualitas. Konkretnya tercermin pada laporan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (Januari 2022), bahwa paradigma pembangunan egocentric yang mndnrung sektoral perlu dubah menjadi eco-centric berbasis ilmu yang transdisiplin. Hal itu akan mendorong pelaksanaan ekonomi sirkuler berbasis sumber dayn alam yang tangguh dan berkelanjutan untuk memecahkan masalah terkait kepentingan ekonomi dan ekologi yang menghormati hak setiap warga negara. Peraturan Presiden Nomer 111 tahun 2022 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan kiranya menjadi lompatan bagi Indonesia sebagai negara di ASEAN yang berketetapan hati dan memiliki orientasi perilaku yang relevan dengan cita-cita pembangunan berkelanjutan.
Penulis, Dosen School of Tourism, Universitas Ciputra Surabaya

