Atim Suryadi_Pijar Ilmu Di Hutan Jati.Kompas.25 Juli 2017. Hal 16 001-page-001

Atim Suryadi ( 35 ) tidak bisa tinggal diam melihat sebagian anak – anak penerus bangsa ini sulit bersekolah . Dia memilih tinggal di pelosok hutan jati di Kabupaten Karawang , Jawa Barat , untuk mewujudkannya .

OLEH BENEDIKTUS KRISNA YOGATAMA

DI atas sepeda motor bututnya , Atim kembali berjibaku me nembus keterbatasan di Du sun Sukamulya , Desa Mulyajati , Ke camatan Ciampel , Kabupaten Kara wang , Senin ( 17/7 ) . Jalan berbatu dili bas , jalan tanah basah dilindas , rim bun hutan jati dilintasi . Bunyi mesin motor terdengar ribut membelah su nyi di jalan yang tak mulus .

Tujuannya satu , Kelas Jauh SDN 4 Mulyasejati , tempatnya mengajar . SDN itu adalah satu – satunya sekolah di Dusun Sukamulya . Dia seorang diri jadi guru di sekolah yang kini meng ajar 16 siswa kelas 1 hingga kelas VI itu . ” Hari ini adalah hari pertama anak – anak masuk sekolah setelah li- bur kenaikan kelas , jadi tidak boleh telat . Kita harus semangat menyam- but anak – anak , ” ujar Atim sambil mengumbar senyum tipis .

Setelah menempuh 15 menit per- jalanan , Atim tiba di tempat tujuan Beberapa siswanya sudah lebih dulu tiba . Wajah ceria anak – anak itu mem- buat hati Atim semringah . ” Apa ka- bar ? Sudah siap sekolah ? ” tanya Atim ramah , sembari melangkah menuju bangunan sekolah yang reyot .

Bangunan sekolah berukuran 12 meter x 9 meter itu jauh dari layak Berada di tengah hutan jati , tak ada konstruksi bangunan dibuat dari jati Hanya kayu tipis melapisi dinding keropos . Lemari perpustakaan berisi buku kumal pun hampir roboh . Bunyi rayap menggerogoti kayu terdengar saat Atim mengajar .

Bukan sarjana pendidikan , Atim mengampu semua mata pelajaran . Rumus matematika diberikan . Materi pelajaran olahraga juga diampunya . Saat Atim tak masuk akibat sakit atau berhalangan hadir , kegiatan belajar mengajar terpaksa berhenti . ” Semua diselenggarakan di tengah keterba tasan . Semangat anak – anak membuat keterbatasan bukan jadi halangan , ” katanya .

Perlahan , kiprah Atim sukses jadi pelita dusun itu . Warga sangat ter bantu karena mereka tak ditarik biaya sepeser pun . Justru siswa kerap men dapatkan bantuan berupa buku tulis , buku pelajaran , alat tulis , dan sera gam dari donatur . ” Paling tidak , anak saya bisa baca , menulis , berhitung Jadi modal untuk melanjutkan seko lah kelak , ” ujar Rahim ( 49 ) , orangtua siswa saat mengantarkan anak ke tiganya , Arman ( 8 ) .

Miskin

Ironi di Sukamulya dengan mudah mengingatkan Atim ke masa kecilnya yang dekat dengan kemiskinan . Per nah beberapa kali putus sekolah , pendidikan membuat hidupnya lebih bermakna . Atim mengatakan , selepas ringan lulus dari SMP PGRI Sukabungah , rumah Bekasi , tahun 1998 , dirinya nyaris tak dibiayai melanjutkan sekolah . Kedua orang tuanya tak punya biaya . Akan tetapi , dia tak menyerah . Atim nekat ber- jualan nasi goreng dengan harapan mampu mandiri kelak .

Setahun menabung , uang modal sekolah terkumpul . Dia diterima saat mendaftar di STM Ristik Kikin , Ja- karta Timur . Sekolah di pagi hingga siang hari , Atim jualan nasi goreng malam hingga menjelang subuh . Memang melelahkan , tapi saya ingin sekolah , ” katanya .

Keinginan sekolah yang kuat itu berhasil menghadirkan simpati . Salah seorang guru di STM Ristik Kikin mengangkat Atim jadi anak asuhnya . Semua biaya sekolah Atim ditang- gung gurunya itu . ” Awalnya beliau marah karena di kelas saya sering tidur . Namun , setelah tahu bahwa saya jualan nasi goreng hingga subuh , dia mengerti . Saya malah dijadikan anak asuhnya , ” katanya .

Selepas itu , hidup Atim terasa lebih ringan . Ia bahkan pernah tinggal di rumah orangtua asuhnya . Atim juga dibiayai kuliahnya . Namun , karena beberapa masalah keluarga orangtua asuhnya , ia berhenti kuliah tahun 2005. ” Saya sempat mengajar di SMP PGRI Sukabungah jadi guru kom puter selama setahun . Saya juga buka servis  komputer sebelum pergi ke Sukamulya , ” ujarnya .

Berjarak sekitar 60 kilometer dari Bekasi , awalnya ia hanya ingin men cari tempat baru memuaskan jiwa petualangannya di Sukamulya . Na mun , nasib berkata lain . Ia tinggal dan berkarya di sana tahun 2006. Atim bahkan mempersunting gadis setem pat menjadi istrinya .

Pendidikan di Sukamulya jadi ke prihatinan utamanya . Sekolah ter dekat berjarak sekitar 10 kilometer di bawah kaki bukit . Untuk menem puhnya , siswa harus menuruni bukit dan hutan jati .

” Saya memberanikan diri mem buka teras rumah bagi siapa saja yang ingin belajar . Ternyata satu per satu yase anak datang dengan semangat belajar yang tinggi , ” katanya .

Buah emas

Kerja keras Atim berbuah emas . Tahun 2008 , kiprah Atim diketahui pemerintah daerah setempat . Seko- lah di teras rumah dijadikan sekolah kelas jauh yang menginduk pada SD Negeri 4 Mulyasejati .

Meski sudah diakui , perjuangan memberikan pelajaran ideal belum selesai . Lokasi belajar mengajar ma- sih nomaden , dari rumah warga ke rumah warga lainnya . Baru pada 2012 , pemda dan donatur membantu mendirikan bangunan permanen Sampai saat ini , donatur juga masih kerap memberikan berbagai bantuan , seperti buku , seragam , dan alat tulis .

” Bantuan banyak pihak membuat harapan itu bisa disemai . Sudah ada 22 siswa Julus , Ada yang jadi buruh di Karawang , tapi juga ada yang mee lanjutkan sekolah , ” kata Atim yang digaji Rp 700.000 per bulan . Tam bahan Rp 400.000 per bulan didapat dari sekolah induk SD Negeri 4 Mul

setelah pendidikan , perlahan ma salah lain dibenahi . Salah satunya kesulitan masyarakat mendapatkan listrik . ” Belajar di malam hari se belumnya hampir mustahil bagi anak – anak . Saya khawatir , kalau tak ada listrik , masa depan sejahtera te rasa jauh bagi mereka.

” Kondisi itu mengejutkan . Jarak duJstrik negara untuk warga lain . dari genset uyak dua liter per hari . Meski sun sebenarnya hanya 23 kilometer dari Pembangkit Listrik Tenaga Air ( PLTA ) Jatiluhur , pemasok listrik Ja- wa – Bali . Bahkan untuk bisa sampai di dusun ini , warga setiap hari melewati PLTA Curug – Klari , yang berada di bawah perbukitan . Namun , tak ada mereka meski In donesia sudah lama merdeka . Untuk mengatasi keterbatasan itu , Atim tidak serakah . Ia memaksimal kan genset miliknya.

Untuk sementara listrik itu dialirkan ke empat rumah te tangganya . Atim engatakan , genset mulai dinyalakan sekitar pukul 18.00 hingga pukul 22.00 . Ia mengisi gen setnya dengan solar se liter hanya sesaat , terang itu hadir dis kamulya .

Tetangga – tetan yang tidak ke bagian listrik 1 a kerap berkunjung ke rumah Atim , sebagian besar meng isi baterai ponsel . Televisi 14 inci milik Atim juga jadi kemewahan war ga di antara malam . ”

Pak Guru tidak cuma menerangi warga dengan listrik dari genset , tetapi juga menerangi pengetahuan anak – anak dengan pendidikan , ” ujar Hasyim ( 49 ) , warga Sukamulya , me muji apa yang sudah dilakukan Atim .

 

Sumber: KOmpas, Selasa, 25 Juli 2017