
Atta Halilintar adalah satu dari sekian banyak content creator di Indonesia yang menyajikan konten-konten nir-edukasi. Channel Youtube-nya pernah didapuk menjadi channel Youtube dengan subscriber terbesar se-Asia Tenggara. Konten-konten dalam channel Atta bukan sajian konten yang bisa dinikmati oleh orang dewasa yang cukup umur, berpendidikan, dan mampu berpikir logis. Tentu saja anak-anak remaja-lah yang menjadi pendongkrak kesuksesan channel Youtube Atta Halilintar. Dengan trademark “Ashiyaap” dan kualitas konten-konten yang dangkal dan terkesan “out the box” di mata anak-anak inilah yang menjadi ciri khas dari kualitas konten Atta.
Anak-anak belum memiliki kemampuan berpikir dan melakukan nalar secara sempurna, tentu belum bisa berpikir mengenai apa manfaat dari apa yang mereka lihat. Mereka cenderung menyukai dampak hiburan dari konten dengan aktivitas tidak biasa yang bisa dilakukan masyarakat secara normal umumnya; misalnya konten prank; dimana konten tersebut dominan menjadi andalan channel Atta. Benak anak-anak ini kemudian dihiasi dengan motivasi dan dorongan untuk melakukan hal-hal yang mereka anggap menyenangkan dan jauh dari kegiatan biasa-biasa saja yang monoton. Inilah yang menjadi daya tarik channel Atta di mata anak-anak.
Selain itu, Atta juga kerap memamerkan kekayaannya. Konten pamer kekayaan memang merupakan salah satu jenis konten yang dapat meledakkan viewers pada channel Youtube karena tidak banyak orang yang bisa melihat bentuk dan wujud dari kekayaan seseorang secara nyata. Orang-orang cenderung mudah merasa terhipnotis apabila diperlihatkan kemewahan. Anak-anak dengan pengetahuan terbatas mengenai banyak hal, tentu saja menyukai melihat konten jenis tersebut karena pada usia mereka ini mereka menyukai orang-orang yang bisa membuat mereka takjub secara praktis.
Apabila dianalogikan dengan bahasa, ini bisa disebut dengan Vanity. Vanity artinya adalah kekosongan, kehampaan, dan tiada arti. Anak-anak ini banyak terkelabui oleh kefanaan oleh kotnen-konten yang sebenarnya tidak masuk akal dan hanya settingan semata. Namun karena memang masih anak-anak, mereka belum bisa berpikir sejauh itu dan mereka hanya memikirkan kualtias hiburan yang bisa didapat saja.
Baru-baru ini, Atta mempublikasikan konten dengan clickbait berjudul “Malam Pertama” yang tentunya merupakan pancingan semata agar viewersnya tertarik untuk melihatnya. Padahal Atta tahu bahwa kebanyakan subscribers nya adalah anak-anak. Apabila memang ia seorang content creator yang bijaksana, bukanlah hal tersebut tidak pantas? Anak-anak mungkin tidak sadar, namun orang dewasa bisa. Atta adalah satu dari sekian content creator yang tidak cocok untuk anak-anak Indonesia. Seharusnya dunia anak-anak diajarkan untuk hidup dengan sederhana dan bagaimana layaknya seorang anak bertumbuh. Dalam pertumbuhan anak-anak Indonesia semestinya tidak mengkonsumsi konten Atta dan konten creator serupa.
Jadi bagaimana menurut kalian? Zaman sekarang memang banyak sekali hal yang dinormalisasikan hanya demi kepuasaan sendiri. Yuk coba bersama-sama agar bisa melihat mana yang memiliki esensi yang benar dan yang salah yah!
