Bila diseriusi, tugas kuliah bisa bermanfaat untuk masa depan. Itu dialami Princess Lie. Bisnisnya berkembang sangat menguntungkan. Awalnya “hanyalah” tugas dari dosen.
SEBUAH proses mutlak dilewati. Tak terkecuali yang dialami Princess Lie. Alumnus International Business Management (IBM) Universitas Ciputra tersebut sudah melewati proses yang tidak instan untuk menjadi sukses seperti sekarang. Di usianya yang ke-25, Princess sudah mempunyai tiga gerai es krim. Dua di Surabaya dan satu di Denpasar, Bali.
“Saya tidak mengira usaha saya bisa besar seperti ini, walaupun sekarang harus bekerja lebih keras karena kompetitor semakin banyak,” papar Princess.
Sebab, apa yang sekarang diseriusinya bermula dari tugas kuliah. Pada 2011, Princess mendapatkan mata kuliah yang mengharuskan membuat bisnis. Sedari awal, dia mempunyai rencana untuk berbisnis kuliner. Dia pun mencari-cari makanan yang kiranya berpeluang untuk dikembangkan.
Yang kali pertama terlintas justru berjualan putu di mal, tepung beras berisi kelapa yang dimasak pada buluh pendek. Segala percobaan pun dilakukan untuk mendapatkan putu yang layak di jual di mal. Proposal yang diajukan ke dosen juga telah di-acc.
Problemnya, tak ada mal yang mau menerima putu. Penganan itu berasap dan berbau. “Meski baunya wangi, tetap makanan di mal tidak boleh menimbulkan bau,” papar alumnus SMA Frateran tersebut. Kondisi itu memaksa Princess banting setir. Dia harus mencari ide yang lain.
Ide lain muncul saat dia berkunjung ke Singapura. Saat itu Princess mengantarkan temannya yang ikut ayahnya. Dalam sehari, temannya Princess sekeluarga makan banyak es krim potong yang dijual di Orchard Road. “Saya langsung kepikiran bagaimana kalau ini saja yang jadi project saya,” ucapnya.
Princess langsung mengajukannya ke dosen, dan disetujui. Awalnya, dia mencoba membuka satu gerai di Galaxy Mal pada awal 2012. Tak dikira, respons pengunjung luar biasa.
Meski begitu, awalnya orang tua Princess ragu dengan bisnis anaknya tersebut. Sebab, es krim adalah usaha kecil dengan untuk yang kecil. Tidak setara dengan modal dan gaji pegawai. Tapi, setelah Princess membuktikan dengan membuka tiga gerai, orang tuanya langsung percaya.
Sejak 2012 membuka bisnisnya sampai sekarang, dia memang meemui konsep es krim potong yang serupa. Nah, cara supaya tetap diminati adalah dengan berinovasi. Dari yang awalnya hanya menjual enam varian rasa, kini dia membuka 26 varian rasa es krim.
Princess sangat memahami pentingnya inovasi. Yaitu, supaya para pelanggan tidak bosan. “Saya juga membikin inovasi ice cream in jar alias es krim di dalam stoples kecil dan ice cream sandwich, yaitu es krim yang dilapisi cookies,” ujarnya panjang lebar.
Princess membagi resep bila ingin cepat sukses berwirausaha. Harus konsisten dengan strategi yang diambil. Selain itu, harus tahan cercaan. Princess pernah diprotes klien, bahkan awalnya tidak dipercaya orang tuanya bisa mengelola bisnis sendiri. (ina/c17/dos)
Sumber : Jawa-Pos.8-Agustus-2014.Hal.28

