Awareness Kesehatan Mental di Tempat Kerja
Pentingnya Budaya Kerja yang Suportif dan Empati
6 Oktober 2024. Hal.17
Rata-rata pekerja menghabiskan sebagian besar waktunya di tempat kerja. Risiko gangguan mental akibat stres yang menumpuk membayangi pekerja. Menjelang Hari Kesehatan Mental Sedunia 10 Oktober, mari lebih aware dengan menciptakan lingkungan kerja yang sehat.
LINGKUNGAN kerja berdampak signifikan terhadap kesehatan mental seseorang. Faktor-faktor seperti tenggat waktu yang tidak realistis, beban kerja berlebih, dan rekan kerja serta bos yang toxic dapat mengganggu kesehatan mental.
Ketidakmampuan seorang pekerja dalam merespons stres yang menumpuk itu bisa berdampak pada penurunan performa kerja dan produktivitas. Ada beberapa sinyal yang tubuh berikan terkait masalah kesehatan mental.
“Dari segi fisik seperti kelelahan ekstrem dan sakit-sakitan. Secara sosial sering menghindar, menyendiri, slow response. Dari segi performa dam motivasi kerja menurun. Emosinya jadi mudah kesal, sedih, cemas, tidak percaya diri, dan pasif,” beber Olphi Disya Arinda MPsi psikolog.
Ketika perawatan mandiri dan support system di sekitar tidak lagi memberikan pengaruh yang signifikan, lanjut dia, segara cari bantuan profesional. “Jangan menunggu kadar stres meninggi, bahkan depresi,” tegas pasikolog klinis tersebut.
Cari Bantuan Profesional
Hal itu pulalah yang mendorong Sari (bukan nama sebenarnya), seorang copywriter di sebuah perusahaan swasta di Surabaya, memberanikan diri menghubungi psikolog. Selama setahun pertama bekerja, perempuan 26 tahun tersebut selalu merasa cemas dan ketakutan setiap akan berangkat kerja. Dia pun jadi sulit tidur dan kehilangan nafsu makan.
“Hampir 90 persen waktu di kantor saya habiskan buat overthinking. Jadi sering self-blaming dan merasa nggak pantas karena hasil kerja saya tidak pernah diakui,” ceritanya kepada Jawa Pos pada Jumat (4/10).
Sari akhirnya mencari bantuan psikolog. Dia memilih konsultasi daring lantaran malu jika harus bertahap muka langsung. Belum lagi stigma buruk yang berkembang di masyakarat. “Saya merasa sharing ke orang terdekat sudah nggak ngefek seperti sebelumnya,” lanjutnya.
Kini, perlahan Sari mulai bisa menghargai dirinya. “Dampaknya nggak langsung terasa, tapi bertahap. Mentor pelan-pelan menyisir benang kusut di kepala saya,” ungkapnya. Dia juga berani mengambil keputusan besar untuk berhenti dan mencari lingkungan kerja baru yang lebih sehat.
Disya, sapaan psikolog Olphi Disya, menuturkan, tidak semua stres di tempat kerja harus berujung resign. Coba uraikan penyebabnya dan cari opsi terlebih dahulu. “Bagi waktu untuk hobi, olahraga, relaksasi, manfaatkan hak cuti, terhubung dengan orang suportid. Jika tidak membantu, pertimbangkan mencari lingkungan kerja baru,” imbuh Disya.
Satu dari Empat Pekerja Struggling dengan Kesehatan Mental
Berdasar survei mandiri Sumah Sakit Jiwa Menut Surabaya per Agustus 2024, 23 persen pegai di suatu instansi terindikasi memerlukan layanan kesehatan jiwa. Satu dari empat kerja struggling dengan kesehatan mentalnya sebagaimana yang dialami Sari.
“Kami saat ini sedang jemput bola, berkeliling ke beberapa perkantoran, mengedukasi dan mengajak para pekerja melakukan skrining secara dini yang langsung terhubung ke layanan Ojo Bingung. Nanti yang bersangkutan kami kontrak ujar Direktur RS Jiwa Menur dr Vitria Dewi Msi.
Di sisi lain, perusahaan perlu meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan mental pekerjanya. Salah satunya membangun budaya kerja yang dapat menunjang gaya hidup sehat dan seimbang, suportif, serta empati.

