Rezeki dari Kotoran Sapi. Kompas.26 November 2016.Hal.16

Penduduk di desa Cibodas, Kecamatan Lembang, kabupaten Bandung Barat, tak ingat lagi kapan terakhir memakai elpiji dan berapa harga per tabungnya. Pasalnya, mereka sudah lama berpaling pada biogas dan kotoran sapi yang dikenalkan oleh Bambang Boedi Cahyono atau Yono (40).

OLEH SUSIE BERINDRA

Sore itu, Eti Rohayati (38) warga Desa Cibodas, menatap deretan tanaman selada yang subur di halaman belakang rumahnya. Di sisi lain halaman itu berderet bibir-bibit selada, cabe dan kembang kol. Menempel dinding belakang rumahnya, ada reactor biogas untuk mengolah kotoran sapi menjadi energy untuk kompos dan pupuk cair. Tak ada bau kotoran sama sekali.

Sejak 2011, Eti menjadi salah seorang dari 1.000 peternak sapi perah yang menggunakan reactor biogas yang dibangun Yono melalui CV Energi Persada. Eti mendapat satu set reactor biogas termasuk kompor seharga Rp 6,6 juta dengan cara mencicil selama lima tahun lewat kredit di Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU).

Sejak itu, Eti mengaku tak peduli lagi apabila orang bicara tentang kelangkaan gas. Di dapurnya ada dua kompor dan satu alat penanak nasi berbahan bakar biogas.

“Setiap sore saya memasukkan dua ember kotoran sapi ditambah dua ember air, hanya dengan mengaduk kotoran sapid an air sekitar 10 menit, kami sudah dapat biogas dan pupuk cair buat tanaman,” katanya. Dengan reactor biogas, peternak sapi perah di Lembang tak hanya hemat pengeluaran, tetapi juga mendapatkan pemasukan tambahan dari sayur organik. Bonusnya lingkungan terjaga dan jauh dari pencemaran. Sebelumnya, mereka membuang kotoran sapi dan sampah ke sungai Cikapundung.

Di sela-sela perbincangan dengan Eti, Yono mengambil sisa kotoran sapi yang sudah menjadi pupuk dan biogas. Tanpa sungkan-sungkan, dia mengambil kotoran sapi sambil membaui untuk membuktikan taka da bau yang menyengat.

BANYAK DAERAH

Komitmen Yono dengan KPSBU untuk membangun reactor biogas bagi 1.000 peternak dilakukan pada 2010. Setahun kemudian, ia menghadirkan 908 reaktor biogas. Dari kerja sama itu, lelaki itu mendapat omset cukup besar dari penjualan reactor biogas . itu saat-saat terindah buat Yono. Apalagi, pada akhir 2009, istrinya memberikan kado terindah berupa kelahiran putra kembarnya, Arka dan Bagas.

“Disitulah perjuangan saya. KPSBU berkomitmen menyediakan kredit untuk 1.000 peternak. Kami memasarkan, mengajak peternak untuk memakai biogas,” kata Yono.

Sebenarnya teknologi biogas bukan hal baru dalam bidang energy terbarukan. Namun, Yono dengan tekun dan berkelanjutan mengembangkan teknologi biogas di Bandung dan banyak daerah. “Semangat meniru apa yang kami lakukan dengan biogas menjadi keinginan banyak orang. inilah saat membiogaskan Indonesia.  Kami juga memfasilitasi pelatihan bagi yang ingin menjadi kontraktor reactor biogas” ujarnya.

Ia memberikan pelatihan di kelas atau lapangan. Selain di bandung, pelatihan tukang dan pembangunan reactor biogas digelar, antara lain, di Ngawi, Madiun, Bojonegoro (Jawa Timur) Imogiri (Yogyakarta), Tanggamus (Lampung), Lima Puluh Kota Sijunjung (Sumatera Barat) serta Siak dan Pelalawan (Riau). Kegiatan serupa di gelar di Jambi, Sumatera Utara, Aceh dan Sulawesi Tenggara. Bagi Yono, ada kepuasan tersendiri bisa membagi ilmu kepada orang lain.

Tidak hanya dikembangkan di kampung, rekator biogas bikinan Yono juga sudah menambah Kota Bandung. Salah satunya di RT 004 RW 015 Kelurahan Sekeloa, Kecamatan Coblong, Kota Bandung. Satya Dermawan, seorang warga bercerita sejak Februari 2015 dia menjadi operator yang mengelola reactor biogas. Ia meletakkan dua ember di mulut gang yang bisa diisi oleh semua warga dengan sampah organik.

Selain mendapat biogas untuk memasak, lingkungan rumah Darmawan menjadi hijau dengan tanaman brokoli, cabai, tomat, selada, kol, kembang kol, buah naga, dan kangkung. Tanaman subur memakai pupuk cair organic. Reactor biogas itu salah satu dari 100 reaktor biogas yang didanai program bertanggung jawab sosial perusahaan (CSR) Arifin Panigoro bekerja sama dengan Yayasan Solusi Bandung Bersama. Yono mendapat kepercayaan membangun 100 unit reactor biogas. “Sayuran organic masih untuk keperluan warga saja, belum cukup banyak hasilnya untuk dijual. Tetapi, saya senang, semakin banyak warga yang mau memisahkan sampah organic dan non organic. Saya tak pernah kekurangan pasokan sampah untuk biogas,” tutur Darmawan.

Sejauh ini, Yono telah membuat 1.050 reaktor biogas untuk para peternak sapi perah di Kecamatan Lembang dan mengirim 1.450 unit, termasuk kompor biogas, ke banyak daerah.

BENGKEL

Untuk mengawali pengembangan teknologi biogas, Yono membangun bengkel. Sejak 2007, dia bekerja sama dengan Wawak Wahyudi mendirikan Workshop Biogas BCL (Barudak urang Sadaya) di Desa Wangun Harja, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Mereka membuat berbagai komponen reactor biogas secara otodidak.

Yono bersama timnya lantas melakukan uji coba beberapa kali sampai menemukan spesifikasi reactor biogas yang pas. Uji coba mulai progress kimia, penggunaan bahan baku, tekanan kerja untuk mendapat keamanan dan kenyamanan pengguna, sampai teknik produksi agar mendapat harga yang lebih murah dan praktis.

Siang itu, suasana di bengkel tidak terlalu ramai. Didalam ruangan terdapat beberapa mesin bubut dan tumpukan kardus yang berisi kompor biogas. Selain memberikan pelatihan biogas, Yono juga menjual kompor biogas. Selain memberikan pelatihan biogas, Yono juga menjual kompor biogas serta onderdilnya.

Sementara enam karyawan di bengkel Wawak dilatih di “bengkel” Polman Bandung. Mereka belajar menggambar sampai mengecor dengan lebih sistematis. “Teknologi biogas bukan hal baru. Disini, kami mengembangkan reactor biogas bagi sebanyak mungkin orang.” kata Yono.

SUMBER : KOMPAS, SABTU 26 NOVEMBER 2016