Sidoarjo, jawa pos – program desa melangkah 2019 mempunyai kompetisi khusus untuk badan usaha milik desa (BUMDes). Narranya BUMDes Idol. Kemarin (14/11) desa memamerkan dan mempresentasikan keunggulan dan badan usaha secara detail dikantor Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Sidoarjo.

Selain pameran, kompetisi digelar untuk melihat seberapa jauh hasil pendampingan yang sudah dilakukan selama Desa Melangkah berlangsung. “Ini sebagai ajang bagi desa untuk berani mempublikasikan inovasi dan strategi pengelolaan BUMDes,” ucap Baswara Yua Kristama, research and community development Universitas Ciputra, pendamping BUMDes sekaligus salah seorang juri.

Dia menyatakan, BUMDes Idol sekaligus melihat keterlibatan masyarakat dalam pengolahan usaha tersebut.”Juga apa ada efek sosialnya bagi masyarakat,” katanya.

Banyak BUMDes yang dipamerkan yang menarik. Misalnya, sumber Awong dari Desa Labo, Kecamatan Sidoarho. Ada tga usaha didalamnya. Pertama, payment point online banking. Yakni, pembayaran online beragam layanan, cicilan kendaraan, PLN, PDAM, hingga BPJS.”Ini paling laris,” ujar Sekretaris BUMDes Sumber Awong Wayan Hendra.

Karena BUMDes tersebut, masyarakat jadi rajin membayar pajak. Dulu, kata dia, ada yang tidak mau membayar pajak sampai 10 tahun. Dalam sebulan, uang masuk rata-rata bisa sampai Rp 130 juta meski labanya hanya Rp 400 ribu.”karena memang ini misinya mendekatkan pelayanan kepada warga. Tidak melulu laba,” tuturnya.

Unit usaha kedua adalah konstruksi. Ketiga, pengadaan multimedia, barang, dan alat tulis kantor. Dia menjelaskan, konstruksi menghasilkan keuntungan paling besar. Bisa Rp 3 juta perbulan. Padahal unit usaha itu baru berdiri sebulan. Selanjutnya, mereka ingin menambah unit usaha wisata renang dan pujasera.

Masyarakat Desa Wage, Kecamatan Taman, tak mau kalah. Mereka nekat membangun BUMDes dari nol tanpa bantuan modal dari desa. BUMDes membuat unit usaha sentra niaga dan lapangan desa. “dilapangan, ada senamnya. Kamis ada campursari,” kata Direktur BUMDes Wage Ariaci Sas.

Sewa lapangan dan senta UKM disekitar lapangan masuk kependapatan BUMDes. Mereka akan menambah ke penataan parkir. Sementara itu, pusat niaga berada difasum salah satu perumahan yang disulap asri untuk pamerkan produk desa.

Kepada Dinas PMD Sidoarjo Ali Imron menargetkan 322 desa sudah mempunyai BUMDes pada 2020 meski saat ini baru setengahnya.”yang sudah ada perdes-nya dan yang sedang penyusunan sudah mulai banyak,” ujarnya.

Dia juga meminta dana desa dapat mengoptimalkan BUMDes. Sebab, dana desa boleh untuk penyertaan model BUMDes. Bahkan, tidak disebutkan batasannya.”kami juga usahakan dapat model kementrian,” terangnya.

 

Sumber: Jawa Pos. 15 November 2019. Hal.25